<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8665540675988828898</id><updated>2011-04-22T06:34:38.128+07:00</updated><category term='song'/><category term='&quot;....&quot;'/><category term='ternyata..'/><title type='text'>this is my blog</title><subtitle type='html'>find your answer here ...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://maxroph.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8665540675988828898/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxroph.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ma'ruf hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10594684396829828795</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8665540675988828898.post-7510063600340963049</id><published>2008-08-16T10:54:00.002+07:00</published><updated>2008-08-16T10:55:21.234+07:00</updated><title type='text'>KEBIASAAN  JAM KARET OLEH  PELAKU BISNIS DAN PEJABAT PUBLIK</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Pengantar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Jam karet adalah suatu istilah yang akrab di telinga orang Indonesia. Jam karet merupakan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;istilah yang merujuk kepada konsep "elastisitas" waktu, di mana sebuah waktu yang telah ditentukan bukan merupakan sesuatu yang pasti, melainkan sesuatu yang dapat dapat diundur (dianalogikan dengan direnggangkan seperti karet) sehingga lebih bersifat sebagai penanda suatu jangka masa yang berkisar pada waktu tersebut.jam karet seperti sudah menjadi budaya di Indonesia. Janjian rapat, arisan, kerja kelompok, dan pertemuan-pertemuan lainnya tidak lengkap rasanya jika tidak ada oknum-oknum yang melakukan jam karet ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Entah darimana asalnya kebiasan jam karet menjadi salah satu ciri khas orang Indonesia. Ada beberapa faktor yang mungkin menjadi pendukung terjadinya kebiasaan ini di Indonesia. Pertama, mungkin karena keadaan alam Indonesia yang beriklim tropis dengan tanah yang subur dan kekayaan alam yang melimpah menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang pemalas, yang dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkan (teringat lagu koes plus ” orang bilang tanah kita tanah surga..tongkat kayu dan batu jadi tanaman.. ”dan seterusnya). Sehingga sikap santai, tenang, dan tentram menjadi tabiat bangsa ini yang kemudian melahirkan kebiasaan jam karet. Kedua, bangsa kita dulunya juga dikenal sebagai bangsa yang ramah dan sangat tolerir, sehingga dengan mudahnya memaafkan keterlambatan seseorang. Namun kedua alasan tersebut sepertinya tidak bisa lagi menjadi alasan bagi manusia zaman sekarang. Saat ini alam Indonesia juga sudah menjadi alam yang keras di mana terjadi kompetisi yang ketat di berbagai aspek kehidupan. Begitu pula keramahan dan toleransi masyarakat Indonesia saat ini dipertanyakan seiring dengan meningkatnya aksi anarkisme dan kriminalitas yang terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Sebab&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Jika ditinjau dari sudut etika, seseorang yang melakukan jam karet adalah orang yang mementingkan kepentingan sendiri. Ada benturan kepentingan yang terjadi antara kepentingan pribadinya dan kepentingan umum. Orang yang berprilaku jam karet merasa harus menyelesaikan urusannya dahulu sampai tuntas baru memikirkan urusan lainnya yang bersifat umum. Perilaku ini juga erat kaitannya dengan tingkat kedisiplinan seseorang; kesadaran akan pentingnya komitmen yang telah dibuat; dan sikap penghargaan atas waktu yang terus berjalan dan tidak akan tergantikan. Faktor-faktor ini berkaitan erat pula dengan pendidikan yang ditanamkan oleh keluarga sejak kecil. Dalam hal ini teladan dari orang yang lebih tua, ajaran maupun kondisi hubungan antar anggota keluarga berperan dalam pembentukan karakter seorang anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Akibat&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Jam karet tidak bisa dipungkiri memiliki dampak yang signifikan dalam kehidupan kita. Jadwal-jadwal acara yang menjadi &lt;i style=""&gt;molor&lt;/i&gt; pelaksanaanya mempengaruhi jadwal pelaksanaan kegiatan-kegiatan berikutnya. Seseorang yang terlambat bangun pagi akan berdampak pada terlambat mandi, sarapan, berangkat sekolah dan seterusnya yang akan mengakibatkan hari itu menjadi suatu hari yang kurang sukses bagi dirinya. Kebiasaan jam karet memberikan dampak negatif yang lebih besar lagi jika dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jabatan penting dalam masyarakat atau top management dalam suatu perusahaan. Di koran Suara Merdeka diberitakan pernah terjadi pesawat mundur seperempat jam karena menunggu satu penumpang yang belum datang, padahal penerbangan paling pagi. Tunggu punya tunggu ternyata yang terlambat seorang pejabat publik. Dia berangkat dari rumah tepat pukul 7.40, sesuai jadwal keberangkatan pesawat. Dia berpikir, walau datang terlambat toh pesawatnya pasti akan menunggu, karena dia pejabat pelayan publik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak dapat dibayangkan jika seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bussinessman yang gagal memenangkan suatu tender bernilai miliaran rupiah hanya karena kebiasaan jam karetnya yang tidak dapat ditolerir mitra bisnisnya yang berasal dari luar negeri yang tidak mengerti budaya yang satu ini. Semakin tinggi jabatan/ tanggung jawab yang diemban seseorang, semakin besar pula dampak yang akan terjadi jika orang tersebut memiliki kebiasaan jam karet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Kondisi&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Meskipun pada dasarnya semua orang harus waspada terhadap perilaku jam karet, pejabat publik dan pelaku bisnis merupakan orang-orang yang harus memiliki kewaspadaan yang lebih terhadap perilaku ini. Sebagai orang yang memiliki suatu tanggung jawab kepada publik atas pelayanan publik yang diberikan instansinya, pejabat publik, aparat pemerintahan atau yang sejenisnya seharusnya benar-benar menjaga tingkah lakunya dari kebiasaan jam karet. Apa jadinya jika polisi lalulintas terlambat datang ke suatu titik kemacetan untuk segera mengatur lalulalang kendaraan yang melewati titik tersebut? Apa jadinya pula jika pemadam kebakaran datang terlambat sehingga rumah-rumah sudah duluan hangus terbakar?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Begitu juga yang terjadi kepada para pelaku bisnis. Bussinessman kita yang bermitra dengan pebisnis dari mancanegara terutama Jepang dan Eropa pasti sudah paham mengenai arti pentingnya tepat waktu. Pebisnis yang berasal dari luar negeri sering mengeluhkan budaya orang Indonesia yang jam karet baik itu di saat &lt;i style=""&gt;meeting, &lt;/i&gt;maupun pada saat pengiriman order barang pesanan ke luar negeri. Pengiriman pesanan baju musim dingin yang terlambat sehingga tiba di negara tujuan ketika menjelang musim semi menjadi salah satu contoh jam karet yang dilakukan pebisnis kita. Mereka yang merasa dirugikan akhirnya membatalkan kontraknya yang mengakibatkan kerugian di pihak pebisnis dalam negeri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Mungkin kasus yang saya sampaikan di atas terlalu ekstrim. Mungkin kita merasa tidak mengapa seorang pejabat publik atau pebisnis yang sedang tidak dalam kondisi ekstrim melakukan jam karet. Tapi menurut saya, tetaplah sikap tidak komitmen terhadap waktu merupakan sikap yang tidak terpuji,dan merupakan pelanggaran etika yang pastinya akan menghasilkan dampak walau sekecil apapun. Perilaku jam karet merupakan salah satu bentuk sikap sepele yang mengajarkan kita untuk tidak jujur, tidak disiplin, dan korupsi waktu yang pada gilirannya nanti akan menjelma menjadi budaya korupsi kelas kakap yang membahayakan bangsa dan negara. Bahkan disinyalir budaya jam karet ini merupakan salah satu budaya yang menghambat kemajuan bangsa dan negara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Di beberapa milis hangat didiskusikan bagaimana perkembangan pembangunan yang terjadi di Indonesia dibandingkan dengan Vietnam. Indonesia dinilai mengalami hambatan dalam pembangunannya salah satunya dikarenakan budaya jam karet. Berbeda dengan Vietnam, masyarakat Vietnam dinilai memiliki semangat kerja dan gairah hidup yang tinggi yang menyebabkan pembangunannya berkembang lebih pesat dibandingkan Indonesia. Investasi asing disambut tidak hanya dengan ucapan manis dan janji muluk, tapi dengan tindakan nyata. Contoh yang sering disebut-sebut akhir-akhir ini adalah kasus investasi perusahaan elektronik Intel Corp. Rencana orisinalnya, ia akan membangun pabrik chip dengan fasilitas uji coba di lokasi seluas 13.500 meter persegi dengan investasi 300 juta dolar AS. Namun, setelah terkesan oleh lingkungan investasi yang kondusif, Intel Corp mengumumkan akan melipatgandakan investasinya itu menjadi sekitar satu miliar dolar AS. Dan lokasinya di luar kota Ho Chi Minh diperluas menjadi 45 ribu meter persegi. Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia di mana raksasa elektronik Sony corp menutup pabrikannya yang ada di Indonesia dan memfokuskan investasinya ke negara lain yang mengakibatkan PHK.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Rekomendasi&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Jam karet sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk yang mengakar di masyarakat Indonesia. Tetapi kita tidak boleh pesimis untuk melenyapkannya dari watak bangsa ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Melihat kebiasaan jam karet yang tidak indah seperti di atas, tampaknya perlu dicarikan solusinya sehingga kebiasaan buruk ini dapat diminimalisasi. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Pertama, adanya contoh dari pimpinan. Tak ada yang meragukan, pimpinan yang datang tepat waktu akan banyak pengaruhnya terhadap penampilan bawahannya. Teori pertama, peneladanan. Pimpinan yang baik, yang bekerja keras dan simbol dari keberhasilan, kemungkinan akan memacu bawahannya untuk meniru gaya bekerjanya. Anak buah dari pimpinan yang demikian akan sukarela datang tepat waktu. Teori kedua, kerikuhan atau keseganan. Kalaupun bukan karena meneladani, pimpinan yang datang tepat waktu akan membuat anak buah tidak enak hati bila mereka berlambat-lambat. Sayangnya, sangat sedikit pimpinan yang mau datang tepat waktu, terlebih bila datang sebelum karyawan/bawahannya datang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Kedua, menekankan pentingnya pelayanan. Kepada para pegawai sebaiknya ditekankan pentingnya pelayanan terhadap orang lain atau pengguna jasa. Mereka harus meletakkan dan mematok ukuran keberhasilan pekerjaan dari sejauhmana mereka mampu memberi pelayanan terhadap pengguna jasa. Salah satu syarat yang patut dipenuhi untuk memberikan pelayanan terbaik adalah datang tepat waktu. Dengan datang sesuai jadwal dan rencana, seorang pegawai akan siap ketika orang membutuhkan servisnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Ketiga, memberikan imbalan yang cukup. Sudah sepatutnya bila pegawai yang dipromosikan atau digaji lebih besar dikarenakan kualitas pekerjaannya yang baik, di antaranya diukur dari disiplin waktu. Orang yang suka tepat waktu dan kualitas pekerjaannya baik, tentu berhak mendapatkan gaji ataupun promosi yang lebih tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Keempat, adanya kontrol dari lembaga maupun konsumen. Bisa jadi seseorang merasa telah memberi pelayanan yang terbaik untuk para pengguna jasanya. Tapi kalau benar-benar ingin memberikan pelayanan yang prima (excellent), hendaknya ia membuka diri untuk mendapat umpan balik, kritik, saran dan usulan dari orang-orang di lembaganya maupun konsumen atau pengguna jasanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Demikian empat solusi terhadap perkara jam karet yang memang sering menjengkelkan kita. Semoga hal itu bisa memberikan manfaat bagi kehidupan kita dalam berbisnis, berkerja, bermasyarakat dan bernegara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Harapan pasti masih ada. Walaupun mungkin kita tidak bisa mengubah secara revolusioner, tahapan-tahapan ke arah perbaikan mesti dilaksanakan. Setidaknya generasi penerus kita tidak lagi mengikuti teladan buruk pendahulunya berupa kebiasaan jam karet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8665540675988828898-7510063600340963049?l=maxroph.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxroph.blogspot.com/feeds/7510063600340963049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8665540675988828898&amp;postID=7510063600340963049' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8665540675988828898/posts/default/7510063600340963049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8665540675988828898/posts/default/7510063600340963049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxroph.blogspot.com/2008/08/kebiasaan-jam-karet-oleh-pelaku-bisnis.html' title='KEBIASAAN  JAM KARET OLEH  PELAKU BISNIS DAN PEJABAT PUBLIK'/><author><name>ma'ruf hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10594684396829828795</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8665540675988828898.post-1568839008337509974</id><published>2008-08-14T16:31:00.000+07:00</published><updated>2008-08-14T16:47:49.026+07:00</updated><title type='text'>PROSEDUR PELAPORAN DAU DAN DAK KE MENTERI KEUANGAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;Dana Alokasi Umum (DAU) adalah sejumlah dana yang dialokasikan kepada setiap Daerah Otonom (provinsi/kabupaten/kota) di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana pembangunan. DAU merupakan salah satu komponen belanja pada APBN, dan menjadi salah satu komponen pendapatan pada APBD. Tujuan DAU adalah sebagai pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan Daerah Otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;Dana Alokasi Umum terdiri dari:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Provinsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;2. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Kabupaten/Kota&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jumlah Dana Alokasi Umum setiap tahun ditentukan berdasarkan Keputusan Presiden. Setiap provinsi/kabupaten/kota menerima DAU dengan besaran yang tidak sama, dan ini diatur secara mendetail dalam Peraturan Pemerintah. Besaran DAU dihitung menggunakan rumus/formulasi statistik yang kompleks, antara lain dengan variabel jumlah penduduk dan luas wilayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dana Alokasi Khusus (DAK), adalah alokasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara kepada provinsi/kabupaten/kota tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Pemerintahan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;DAK termasuk Dana Perimbangan, di samping Dana Alokasi Umum (DAU).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Prosedur pelaporan DAU dan DAK ke menteri keuangan dapat dilihat dari bagan di bawah ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.png" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: -1;"&gt;&lt;span style="position: absolute; left: 0px; top: -36px; width: 636px; height: 433px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" shapes="_x0000_s1026" height="433" width="636" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;Setidaknya ada 5 pihak yang berhubungan dalam prosedur ini, yaitu: unit pembukuan, unit perhitungan anggaran, sekretaris daerah, kepala daerah, dan menteri keuangan (DJA). Setelah unit perbendaharaan mengirimkan SPM ke unit pembukuan, dimulailah tahapan-tahapan prosedur ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;Dimulai dari proses pembukuan oleh unit pembukuan yang menghasilkan laporan; dilanjutkan dengan verifikasi laporan oleh unit perhitungan anggaran. Laporan kemudian diserahkan kepada sekretaris daerah untuk diteliti dan diparaf untuk selanjutnya diserahkan kepada kepala daerah untuk disetujui dan ditandatangani. Kepala Daerah kemudian akan menandatangani Laporan Perhitungan dan mengirimkannya ke Menteri Keuangan u.b. Direktorat Jenderal Anggaran(DJA) sebagai pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran DAU dan DAK.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;PROSEDUR PERTANGGUNGJAWABAN &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;PELAKSANAAN APBD KE DPRD&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. APBD ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahun anggaran APBD meliputi masa satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;APBD terdiri atas:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Anggaran pendapatan, terdiri atas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" alt="*" height="13" width="15" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" alt="*" height="13" width="15" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagian dana perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" alt="*" height="13" width="15" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lain-lain pendapatan yang sah seperti dana hibah atau dana darurat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Anggaran belanja, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;pemerintahan di daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pembiayaan, yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau &lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang &lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam prosedur pertanggungjawaban&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelaksanaan APBD ke DPRD ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;enam pihak yang memiliki perannya masing-masing. Ada unit pembukuan, unit perhitungan, sekretaris daerah, kepala daerah, unit pengawas ekstern, dan DPRD. Unit Pembukuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan menerima DS dari Unit Perbendaharaan dan unit organisasi lainnya yang tersebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan bukti pelaksanaan APBD Laporan yang dihasilkan di Unit Pembukuan ada 3 yaitu Laporan Perhitungan Anggaran, Neraca dan Laporan Aliran Kas. Laporan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut pada akhir tahun anggaran disampaikan ke Unit Perhitungan. Unit Perhitungan akan menganalisis LPJ yang diterima dari Unit Pembukuan dan membuat Nota Perhitungan. Laporan Perhitungan Anggaran, Neraca, Laporan Aliran Kas dan Nota Perhitungan selanjutnya disetujui oleh Kepala Unit Keuangan kemudian dikirim&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke Setda. Setda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan meneliti dan menyetujui ke 4 (empat) laporan, memarafnya dan selanjutnya akan dikirim ke Kepala Daerah. Kepala Daerah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban ke Aparat Pengawas Ekstern untuk dilakukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemeriksaan (audit) atas Laporan Pertanggungjawaban tersebut. Unit Perhitungan melakukan perbaikan Laporan Pertanggungjawaban dan menyusun Nota Tanggapan atas hasil pemeriksaan aparat pengawasan ekstern.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Laporan Pertanggungjawaban yang telah diperbaiki tersebut berikut Nota Tanggapan atas hasil pemeriksaannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;disampaikan ke DPRD setelah ditandatangani oleh Kepala Daerah. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;DPRD melakukan pembahasan atas Laporan Pertanggungjawaban yang diterima dari Kepala Daerah. Laporan Pertanggungjawaban yang telah disetujui dikembalikan ke&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kepala Daerah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cq&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sekretaris Daerah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk disahkan dan disiapkan Perda Pertanggungjawaban APBD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8665540675988828898-1568839008337509974?l=maxroph.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maxroph.blogspot.com/feeds/1568839008337509974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8665540675988828898&amp;postID=1568839008337509974' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8665540675988828898/posts/default/1568839008337509974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8665540675988828898/posts/default/1568839008337509974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maxroph.blogspot.com/2008/08/prosedur-pelaporan-dau-dan-dak-ke.html' title='PROSEDUR PELAPORAN DAU DAN DAK KE MENTERI KEUANGAN'/><author><name>ma'ruf hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10594684396829828795</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8665540675988828898.post-2225463955508837620</id><published>2008-08-14T16:23:00.000+07:00</published><updated>2008-08-14T16:27:33.592+07:00</updated><title type='text'>kebudayaan flores</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1094" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;z-index:69'" from=".7pt,0" to="414.7pt,0" strokeweight="4.5pt"&gt;  &lt;v:stroke linestyle="thinThick"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: 69;"&gt;&lt;span style="position: absolute; left: -3px; top: -3px; width: 559px; height: 6px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_s1094" height="6" width="559" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;BAB I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Flores &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;berada di Provinsi &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Nusa_Tenggara_Timur.html" title="Nusa Tenggara Timur"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Nusa Tenggara Timur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Indonesia.html" title="Indonesia"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;. Flores termasuk dalam gugusan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kepulauan_Sunda_Kecil.html" title="Kepulauan Sunda Kecil"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Kepulauan Sunda Kecil&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt; bersama Bali dan NTB, dengan luas wilayah sekitar 14.300 km². Daerah ini termasuk daerah yang kering dengan curah hujan rendah, memiliki potensi bidang pertanian yang rendah. Meskipun potensi di bidang pertanian rendah, Flores memiliki potensi di bidang lain yang cukup menjanjikan. Tetapi sayang, tidak banyak yang tahu mengenai potensi tersebut. Potensi pariwisata dan budaya Flores dianggap akan dapat memakmurkan perekonomian daerah Flores.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Daerah Flores yang indah sangat mendukung untuk dikembangkannya pariwisata disana. Ada banyak tempat-tempat indah di Flores yang bisa dikunjungi oleh wisatawan, baik wisatawan luar negeri maupun dalam negeri, misalnya &lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Air Terjun Kedebodu/Ae Poro, Kebun Contoh Detu Bapa, Air Panas Ae Oka Detusoko, Air Panas Liasembe dan sebagainya. Tetapi pengembangan atas bidang ini masih sangat kurang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;" lang="SV"&gt;Budaya Flores yang beraneka ragam juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Aneka tarian, lagu daerah, alat musik dan berbagai produk budaya lainnya merupakan kekayaan Flores yang menuntut warganya untuk selalu melestarikannya. Upacara-upacara adat yang unik juga dapat memberikan ciri khas bagi daerah Flores. Apabila potensi-potensi di bidang budaya ini dikembangkan, akan dapat memajukan dan meningkatkan perekonomian Flores di masa depan. Pembelajaran, pendalaman, pengembangan dan pelestarian terhadap budaya-budaya Flores harus mulai dilakukan sekarang, terutama oleh masyarakat Flores sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;BAB II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;PEMBAHASAN DAN ISI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:317.25pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.png" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/p_floresok.gif"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" shapes="_x0000_i1025" border="0" height="112" width="423" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 60.6pt; text-indent: -60.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;IDENTIFIKASI &lt;st1:place st="on"&gt;FLORES&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: -1in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;SEJARAH FLORES&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Nama Pulau Flores mulanya berasal dari bahasa Portugis “Cabo de Flores” yang berarti “Tanjung Bunga”. Nama ini semula diberikan oleh S. M. Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari pulau Flores. Nama ini kemudian dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores yang sudah hidup hampir empat abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan flora yang dikandung oleh pulau ini. Karena itu, lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) mengungkapkan bahwa nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular. Dari sudut Antropologi, istilah ini lebih bermanfaat karena mengandung berbagai makna filosofis, kultural dan ritual masyarakat Flores.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; color: black;" lang="IN"&gt;Sejarah kependudukan masyarakat Flores menunjukkan bahwa pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnik yang hidup dalam komunitas-komunitas yang hampir eksklusif sifatnya. Masing-masing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow,1989;Taum,1997b). Heterogenitas penduduk Flores terlihat dalam sejarah asal-usul, suku, bahasa, filsafat dan pandangan dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Suku bangsa &lt;span style=""&gt;Flores&lt;/span&gt; dianggap merupakan percampuran etnis antara &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Melayu.html" title="Melayu"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Melayu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Melanesia.html" title="Melanesia"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Melanesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;, dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Portugis.html" title="Portugis"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Portugis&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;. Dikarenakan lokasi yang berdekatan dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Timor.html" title="Timor"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Timor&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;, yang pernah menjadi Koloni &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Portugis.html" title="Portugis"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Portugis&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;, maka interaksi dengan kebudayaan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Portugis.html" title="Portugis"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Portugis&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; pernah terjadi dalam kebudayaan &lt;span style=""&gt;Flores&lt;/span&gt;, baik melalui Genetik, Agama, dan Budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: -1in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;II.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;KARAKTERISTIK GEOGRAFIS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Flores&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;, dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Bahasa_Portugis.html" title="Bahasa Portugis"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;bahasa Portugis&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt; yang berarti &lt;b style=""&gt;"bunga"&lt;/b&gt; berada di Provinsi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Nusa_Tenggara_Timur.html" title="Nusa Tenggara Timur"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Nusa Tenggara Timur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Indonesia.html" title="Indonesia"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;. Flores termasuk dalam gugusan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kepulauan_Sunda_Kecil.html" title="Kepulauan Sunda Kecil"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Kepulauan Sunda Kecil&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt; bersama Bali dan NTB, dengan luas wilayah sekitar 14.300 km². Pulau Flores bersama Pulau Timor, Pulau Sumba dan Kepulauan Alor merupakan empat pulau besar di Provinsi NTT yang merupakan salah satu provinsi kepulauan di Indonesia dengan 566 pulau. Di ujung barat dan timur Pulau Flores ada beberapa gugusan pulau kecil. Di sebelah timur ada gugusan Pulau Lembata, Adonara dan Solor, sedangkan di sebelah barat ada gugusan Pulau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Komodo.html" title="Komodo"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Komodo&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt; dan Rinca. Sebelah barat pulau Flores, setelah gugusan pulau-pulau kecil itu, ada pulau Sumbawa (NTB), sedangkan di sebelah timur setelah gugusan pulau-pulau kecil itu ada kepulauan Alor. Di sebelah tenggara ada pulau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Timor.html" title="Timor"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Timor&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;. Di sebelah barat daya ada pulau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Sumba.html" title="Sumba"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Sumba&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;, di sebelah selatan ada laut Sawu, sebelah utara, di seberang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Laut_Flores.html" title="Laut Flores"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Laut Flores&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt; ada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Sulawesi.html" title="Sulawesi"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Sulawesi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Pulau Flores ini dibagi menjadi sembilan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kabupaten.html" title="Kabupaten"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;kabupaten&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;, sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kabupaten_Manggarai_Barat.html" title="Kabupaten Manggarai Barat"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Manggarai Barat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; dengan ibukota Labuan Bajo, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kabupaten_Manggarai.html" title="Kabupaten Manggarai"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Manggarai&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; dengan ibukota Ruteng, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kabupaten_Manggarai_Timur.html" title="Kabupaten Manggarai Timur"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Manggarai Timur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; dengan ibukota Borong, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kabupaten_Ngada.html" title="Kabupaten Ngada"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Ngada&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; dengan ibukota Bajawa, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kabupaten_Nagekeo.html" title="Kabupaten Nagekeo"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Nagekeo&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; dengan ibukota Mbay, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kabupaten_Ende.html" title="Kabupaten Ende"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Ende&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; dengan ibukota Ende, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kabupaten_Sikka.html" title="Kabupaten Sikka"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Sikka&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; dengan ibukota Maumere,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kabupaten_Alor.html" title="Kabupaten Alor"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;kabupaten Alor&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; dengan ibukota Alor,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kabupaten_lembata&amp;amp;action=edit" title="Kabupaten lembata"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;kabupaten lembata&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; denagn ibukota Lembata, dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Kabupaten_Flores_Timur.html" title="Kabupaten Flores Timur"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Flores Timur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; dengan ibukota Larantuka.&lt;a name="Geografi"&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Dari segi geografisnya, Flores memiliki beberapa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Gunung_berapi.html" title="Gunung berapi"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;gunung berapi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt; aktif dan tidur, termasuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://www.mediawiki.motocykle.slask.pl/id/wiki/Egon.html" title="Egon"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Egon&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ilimuda&amp;amp;action=edit" title="Ilimuda"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Ilimuda&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lereboleng&amp;amp;action=edit" title="Lereboleng"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Lereboleng&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;, dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lewotobi&amp;amp;action=edit" title="Lewotobi"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IN"&gt;Lewotobi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;. Pulau Flores, Alor dan Pantar merupakan lanjutan dari rangkaian &lt;i style=""&gt;Sunda System&lt;/i&gt; yang bergunung api. Flores memiliki musim penghujan yang pendek&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan musim kemarau yang panjang. Flores juga terkenal memiliki satu dari sekian satwa langka dan dilindungi&lt;span style="color: black;"&gt; di dunia yakni Varanus Komodiensis atau lebih dikenal dengan Biawak raksasa. Raptil ini hidup di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, keduanya terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat. Selain Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), Flores juga memiliki satu Taman Nasional lagi yang terletak di Kabupaten Ende, yakni Taman Nasional Kelimutu. Daya tarik utama Taman Nasional Kelimutu adalah Danau Tiga Warna-nya yang selalu berubah warna air danaunya. Akan tetapi sesungguhnya di dalam Kawasan Taman Nasional Kelimutu itu tumbuh dan berkembang secara alami berbagai jenis spesies tumbuhan dan lumut. Oleh karena itu di awal tahun 2007, pihak pengelola Taman Nasional Kelimutu mengadakan identifikasi terhadap kekayaan hayati Taman Nasional Kelimutu untuk kemudian dikembangkan menjadi Kebun Raya Kelimutu. Jadi nantinya para wisatawan yang datang ke Kawasan Wisata Alam Kelimutu, selain dapat menikmati keajaiban Danau Tiga Warna, juga dapat mengamati keanekaragaman hayati dalam Kebun Raya Kelimutu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1.25in; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: -1in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; color: black;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;III.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; color: black;" lang="IT"&gt;POPULASI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Jumlah penduduk di provinsi ini adalah 4.073.249 jiwa (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2003" title="2003"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;2003&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;) (BPS NTT). Sebagian besar penduduk beragama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kristen" title="Kristen"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Kristen&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt; dengan persentase 91% (mayoritas &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Katolik" title="Katolik"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Katolik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;), 8% &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muslim" title="Muslim"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Muslim&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;, 0,6% &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu" title="Hindu"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Hindu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buddhisme" title="Buddhisme"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Buddhis&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;, dan 0,4% menganut kepercayaan tradisional. Nusa Tenggara Timur menjadi tempat perlindungan untuk kalangan kristen di Indonesia yang menjauhkan diri dari konflik agama di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Maluku" title="Maluku"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Maluku&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Irian_Jaya" title="Irian Jaya"&gt;&lt;span style="color: windowtext;" lang="IT"&gt;Irian Jaya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Tingkat pendaftaran sekolah menengah adalah 39% yang jauh dibawah rata-rata Indonesia (80.49% tahun 2003/04, menurut UNESCO). Minuman bersih, sanitasi dan kurangnya sarana kesehatan menyebabkan terjadinya kekurangan gizi anak (32%) dan kematian bayi (71 per 1000) juga lebih besar dari kebanyakan provinsi Indonesia lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1.25in; text-align: justify; text-indent: -1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;IV.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;PEREKONOMI DAN MATA PENCAHARIAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut berbagai standar ekonomi, ekonomi di provinsi ini lebih rendah daripada rata-rata Indonesia, dengan tingginya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi" title="Inflasi"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;inflasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (15%), &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengangguran" title="Pengangguran"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;pengangguran&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (30%) dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tingkat_suku_bunga&amp;amp;action=edit" title="Tingkat suku bunga"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;tingkat suku bunga&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (22-24%).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat flores, suku Mehen di Flores Timur mempertahankan eksistensinya yang dinilainya sebagai tuan tanah, jadilah mereka pendekar-pendekar perang, yang dibantu suku Ketawo. Mata pencaharian orang Flotim/Lamaholot yang utama terlihat dalam ungkapan sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Ola tugu, here happen, Lua watana, Gere Kiwan, Pau kewa heka ana,&lt;br /&gt;Geleka lewo gewayan, toran murin laran. Artinya: Bekerja di ladang, Mengiris tuak, berkerang (mencari siput dilaut), berkarya di gunung, melayani/memberi hidup keluarga (istri dan anak-anak) mengabdi kepada pertiwi/tanah air, menerima tamu asing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Masyarakat Nagekeo pendukung kebudayaan Paruwitu (kebudayaan berburu), masyarakat Soa pendukung Reba (kebudayaan tahun baru, pesta panen), Pendukung kebudayaan bertani dalam arti yang lebih luas ialah Ngadhu/Peo, terjadi pada sebagian kesatuan adat Nagekeo, Riung, Soa dan Ngada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Mata pencaharian masyarakat Sikka umumnya pertanian. Adapun kelender pertanian sbb: Bulan Wulan Waran - More Duru (Okt-Nov) yaitu bulan untuk membersihkan kebun, menanam, menyusul di bulan Bleke Gete-Bleke Doi - Kowo (Januari, Pebuari, Maret) masa untuk menyiangi kebun (padi dan jagung) serta memetik, dalam bulan Balu Goit - Balu Epan - Blepo (April s/d Juni) masa untuk memetik dan menanam palawija /kacang-kacangan. Sedangkan pada akhir kelender kerja pertanian yaitu bulan Pupun Porun Blebe Oin Ali-Ilin (Agustus - September). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Potensi alam darat dan laut Pulau Flores dan Lembata sudah dikenal sejak dahulu kala. Karena surplusnya potensi alam yang dimiliki itulah, sejak dahulu pula Pulau Flores dijuluki nama Pulau Bunga. Inilah fakta alam yang harus disyukuri oleh masyarakat penghuni Pulau Flores-Lembata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Kini Pulau Flores dan Lembata yang hampir sama dengan Pulau Timor telah dibagi atas tujuh kabupaten. Dari ujung barat, Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur dan Kabupaten Lembata di ujung timur. Masing-masing kabupaten kaya dengan aneka kekayaan alamnya. Mulai dari berbagai jenis ikan dan kekayaan laut sampai ke daratan dengan humus tanah yang subur. Potensi alam ini menjanjikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat penghuni tujuh kabupaten itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Sebagian besar penduduk (85%) hidup dan bekerja pada sektor pertanian, termasuk peternakan. Selebihnya bekerja pada sektor-sektor perdagangan, industri, angkutan, jasa-jasa kemasyarakatan, dan lain-lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Komoditi-komoditi utama yang banyak dihasilkan dan diperdagang­-kan, baik lokal, antar pulau, maupun ekspor adalah hasil-hasil peter­nakan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;seperti&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;sapi,&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;kerbau,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kuda,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;babi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hasil-hasil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pertanian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperti jagung, beras, ubi-ubian, kacang-kacangan, kopra, kopi, asam, kemiri, dan kapuk, hasil-hasil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehutanan (antara lain kayu cendana), hasil-hasil perikanan, dan hasil-hasil industri kecil, industri rakyat seperti minyak kelapa, minyak kayu putih, minyak/serbuk cendana, dan hasil-hasil kerajinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Belum lagi puluhan jenis komoditi pertanian seperti padi sawah/ladang, jagung, kacang-kacangan terutama kacang tanah dan kacang merah, ubi kayu/singkong, nenas, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Dalam sektor pertanian, kabupaten ngada memegang peranan penting, Wilayah ini sangat potensial untuk pengembangan tanaman pangan dan perkebunan bahkan menjadi salah satu andalan Lumbung Pangan Propinsi Nusa Tenggara Timur. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Luas potensial lahan basah meliputi 12.982 Ha dan 3.547 Ha di antaranya merupakan irigasi teknis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Dari luas potensial tersebut yang telah berfungsi adalah7.388 Ha. Luas potensial lahan kering meliputi 64.195 Ha sedangkan luas fungsional 48.171 Ha untuk tanaman campuran pangan dan perkebunan. Ketersediaan lahan untuk pengembangan tanaman perkebunan masih cukup besar yakni seluas 36.342 Ha.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Pada Sub Sektor Peternakan juga tersedia lahan 15.193 Ha untuk padang penggembalaan. Pengusahaan ternak masih dilaksanakan secara sporadik dan tradisional. Sepanjang perairan Utara dan Selatan Kabupaten ini seluas 6.988 88 Km2 kaya akan berbagai jenis ikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ikan Pelagic 1,3/Km2 : 6.899 ton/tahun &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ikan Demersol 0,9/Km2: 4.829 ton/tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;atau dengan potensi lestari sumber daya perikanan laut rata-rata 13.799 ton/tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Tingkat pemanfaatan yang dapat dicapai saat ini baru 24%. Budi daya laut yang dapat dikembangkan antara lain: Benur, Nener, Rumput Laut, Tuna Cakalang, Cumi - cumi, Hiu Botol, terutama disepanjang perairan Utara Kabupaten Ngada. Selain itu potensi perikanan tambak dan air tawar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Luas Kawasan hutan 108.091 Ha, yang terdiri dari Hutan Lindung, HutanProduksi Tetap, Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi yang dapat dikoversi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Selain itu hutan Cagar Alam 8.771 Ha, dan Hutan Wisata Alam 11.900 Ha.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Selain itu, juga terdapat tanaman perkebunan yang menghasilkan komoditi unggulan yang mampu menopang perekonomian rakyat. Misalnya, kelapa yang menghasilkan kopra produksi Flores-Lembata 29.869 ton/tahun dengan perincian, Lembata 2.270 ton/tahun, Flotim 9.623 ton/tahun, Sikka 4.379 ton/tahun, Ende 7.719 ton/tahun, Ngada 3.466 ton/tahun dan Manggarai 2.412 ton/tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Kelapa yang memroduksi kopra juga merupakan penunjang ekonomi orang Flores sejak dahulu kala. Sejak 1990 juga pulau ini telah memiliki komoditi baru yang sungguh menjadi penopang ekonomi petani hampir di seantero Flores-Lembata yakni jambu mete.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Tanaman yang cocok hidup di daerah tropis ini hampir berkembang merata di seluruh wilayah daratan Flores dan Lembata dengan estimasi volume produksi melebihi 15.481 ton/tahun. Konsentrasi produksinya ada di 13 kecamatan di wilayah Kabupaten Flores Timur dengan produksi 7.988 ton sampai dengan 13.000 ton/tahun. Komoditi lainnya adalah kopi, kakao dan kemiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Flores khususnya Manggarai dikenal penghasil kopi dan vanili. Sebagian besar tanaman kopi banyak dijumpai di Manggarai bagian timur. Wilayah ini memiliki topografi yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung serta iklim agak sejuk, sehingga menguntungkan tanaman kopi, terutama kopi Arabika yang membutuhkan iklim sejuk. Selain Arabika, jenis robusta pun banyak ditanam di Manggarai Timur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Daya saing kopi Manggarai sebenarnya masih rendah. Sistem pengolahannya masih tradisional. Biji kopi hanya dijemur di bawah terik matahari di pinggir jalan. Ini membuat biji kopi tidak kering sempurna. Akibatnya, kualitasnya pun rendah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Saat ini mulai dirintisunit pengolahan kopi secara mekanis di Desa Rendenao, Kecamatan Poco Ranaka. Dengan alat ini biji kopi baru bisa dikeringkan saja, belum sampai tahap pengolahan menjadi bubuk. Memang sudah ada beberapa perusahaan di Ruteng yang mengolah biji kering menjadi bubuk. Tapi, jumlahnya sangat terbatas. Sampai saat ini, kebanyakan pemasaran kopi dari petani masih da-lam bentuk biji kering. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Masyarakat Manggarai melakukan polikultur. Mereka tidak hanya mengandalkan hasil dari kopi, tetapi juga melakukan diversifikasi tanaman lain seperti jambu mete, vanili, dan kemiri. Ini merupakan salah satu cara mengganti peran kopi bila harganya mulai tidak berpihak pada petani. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Produk unggulan Manggarai yang lain adalah vanili. Nilai ekonomisnya lumayan tinggi. Saat ini, harga per kilogram kering Rp 600.000 -Rp 800.000 atau basah Rp 80.000 - Rp 100.000 per kilogram. Tingginya nilai jual ini cukup menggiurkan petani di Kecamatan Elar, Sambi Rampas, Lamba Leda, dan Poco Ranaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Selain itu, juga terdapat potensi ternak babi dan ayam serta potensi pariwisata dengan berbagai obyek wisata yang amat indah dan menarik bagi wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan domestik (wisdom).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Sebagai provinsi kepulauan (archipelago), wilayah laut NTT khususnya daerah Flores&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memiliki kekayaan biota laut yang bernilai ekonomis tinggi di dunia. Ironisnya, baru sekitar 30 persen kekayaan laut yang luar biasa itu dikelola dan dimanfaatkan bagi kemakmuran rakyat Flores. Bukan hanya itu, sebagian besar masyarakat Flores tidak berminat masuk laut, sehingga kekayaan laut Flores masih merupakan harta karun yang menadi rebutan nelayan dari luar daerah dan nelayan asing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Guna mengoptimalkan potensi laut yang sangat besar itu untuk kemakmuran rakyat, Pemerintah Daerah Flores belum lama ini mencanangkan program “Gerakan Masuk Laut” (Gemala). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Gerakan yang bertumpu pada kondisi geografis Flores yang sebagian besar terdiri dari perairan merupakan suatu terobosan untuk merubah paradigma pembangunan dan sekaligus mentalitas masyarakat Flores yang selama ini lebih berorientasi ke darat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Substansi Gemala yang kini dicanangkan dan disosialisasikan secara intensif oleh Pemda Flores dan seluruh komponen terkait adalah upaya merubah mentalitas agraris masyarakat NTT menuju mentalitas maritim. Laut flores menyimpan kekayaan yang tiada taranya dan jika dieksploitasi secara terencana dan melibatkan masyarakat lokal. Bukan tidak mungkin hal itu akan membawa kemakmuran bagi masyarakat.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Upaya merubah mentalitas agraris ke mentalitas maritim tidak mudah bagi masyarakat Flores. Sejauh ini yang berprofesi sebagai nelayan atau yang akrab dengan laut sebagian besar adalah para pendatang dari Bajo. Mereka menetap di pesisi dan menjadi pemasok ikan bagi konsumen lokal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Memang ada beberapa etnis setempat yang berprofesi sebagai nelayan tradisional, misalnya orang Ende, Lembata dan sebagian Sikka. Namun cara penangkapan yang mereka lakukan masih menggunakan alat-alat tradisional, sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal. Sementara mayoritas masyarakat Flores berprofesi sebagai petani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Berkaitan dengan konsep program Gemala, saat ini Pemda NTT telah membuat perencanaan tentang implementasi program Gemala itu dengan titik berat meningkatkan kemampuan dan skill masyarakat pesisir, termasuk pembentukan plasma inti nelayan dan masyarakat pesisir sesuai dengan karakteristik setiap pulau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Dalam hal ini sangat dibutuhkan kebijakan publik yang mengatur tata cara pengeksploitasian kekayaan laut, pelestarian lingkungan dan biota laut, termasuk perlindungan kawasan laut Flores dari para nelayan liar, baik dari daerah lain maupun nelayan asing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Sebut saja ikan tuna, cakalang, kerapu, udang &lt;i style=""&gt;(lobster),&lt;/i&gt; rumput laut &lt;i style=""&gt;(see weeds),&lt;/i&gt; mutiara, tripang, dan sebagainya. Belum lagi potensi wisata bahari yang tersebar di seantero pulau di Flores yang menawarkan panorama yang sangat eksotik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Dilihat dari potensi yang ada dan peluang pasar manca negara, khususnya Jepang, Hongkong, Taiwan dan Cina, peluang usaha penangkapan ikan tuna dan cakalang masih sangat besar. Penyebaran jenis ikan tuna dan cakalang ini berada hampir pada semua perairan laut Flores.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Namun yang berpotensi cukup besar dengan tingkat eksploitasinya masih rendah terdapat di Kabupaten Flores Timur (laut kecamatan Larantuka, Adonara dan Tanjung Bunga), di Kabupaten Sikka (laut sebelah utara dan selatan), di Kabupaten Ende (laut sebelah selatan dan utara), serta di Kabupaten Ngada (pantai utara dan selatan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Selain kedua jenis ikan tersebut, di NTT juga diusahakan penangkapan ikan jenis kerapu di perairan Komodo, Manggarai dan Sikka. Ikan yang bernilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas ekspor sangat cerah pada masa mendatang konon sangat cerah banyak di daerah itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Yang tak kalah menariknya adalah potensi lestari rumput laut (see weeds). Tumbuhan tersebar hampir diperairan NTT ini bernilai ekonomis penting karena kegunaannya yang luas dalam bidang industri makanan, kosmetik, minuman dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Di Indonesia pemanfaatan rumput laut sebagian besar sebagai bahan komoditas ekspor dalam bentuk rumput laut kering.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Dari tahun ke tahun pertumbuhan ekspor rumput laut mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, namun relatif kecil dan jauh di bawah produksi philipina. Hal itu disebabkan karena produksi rumput laut belum optimal. Di Flores sendiri gairah masyarakat untuk membudidayakan rumput laut cukup tinggi, walaupun masih dalam skala kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Selain bermata pencaharian di bidang pertanian, perkebunan maupun perikanan,di flores juga terdapat anggota masyarakat yang berprofesi sebagai wiraswasta dan pegawai negeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Orang Flores masih memiliki sikap sombong dan primitif. Orang Flores juga tidak menghargai ilmu pengetahuan. Selain sombong dan primitif, orang Flores itu feodal. Tradisi di masa lalu kemudian mempengaruhi sifat orang Flores yang sombong. Sementara itu, sikap primitif terbentuk dari kepercayaan dinamisme yang dianut dulu, yakni kepercayaan pada dewa-dewa (nitu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Adapun beberapa keutamaan orang flores antara lain :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Percaya kepada Tuhan yang Kuasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebelum agama Katolik tiba di Flores, masyarakat di sana sudah mengenal Tuhan yang Kuasa, yang disebut ‘Lera Wulan Tanah Ekan’ atau Tuhan Langit dan Bumi. Orang Flores memiliki rasa syukur dan penyerahan diri yang begitu dalam kepada Tuhan. Untuk memperkuat kenyataan bahwa seseorang bertindak benar dan jujur, sekaligus memperingatkan lawannya, mereka berucap: &lt;i style=""&gt;"Lera Wulan Tanah Ekan no-on matan"&lt;/i&gt;: Tuhan mempunyai mata (untuk melihat), yang berarti Tuhan mengetahuinya, ia maha tahu, ia maha adil, ia akan bertindak adil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada peristiwa kematian, orang biasanya berkata: "&lt;i style=""&gt;Lera Wulan Tanah Ekan guti na-en": &lt;/i&gt;Tuhan mengambil pulang miliknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pada perayaan syukur sebelum panen, ada kewajiban bagi para anggota masyarakat untuk mempersembahkan sebagian hasil panen itu sebagai tanda ucapan syukur kepada Tuhan sebelum menikmati hasil panen tersebut. Adapun doa yang didaraskan sebagai berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bapa Lera Wulan lodo hau &lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;Bapak Lera Wulan turunlah ke sini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ema Tanah Ekan gere haka &lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;Ibu Tanah Ekan bangkitkan ke sini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tobo tukan&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;Duduklah di tengah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pae bawan &lt;span style=""&gt;                                               &lt;/span&gt;Hadirlah di antara kami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ola di ehin kae&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;(Karena) kerja ladang sudah berbuah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Here di wain kae &lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;(Karena) menyadap tuak sudah berhasil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Goong molo &lt;span style=""&gt;                                             &lt;/span&gt;Makanlah terlebih dahulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menu wahan &lt;span style=""&gt;                                            &lt;/span&gt;Minumlah mendahului kami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nein kame mekan &lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;Barulah kami makan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dore menu urin &lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;Barulah kami minum kemudian &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kejujuran dan Keadilan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kepercayaan yang kuat dan penyerahan diri seutuhnya pada Tuhan menimbulkan nilai-nilai keutamaan lainnya yang juga dijunjung tinggi orang Flores seperti kejujuran dan keadilan. Nilai ini muncul sebagai keyakinan bahwa ‘Tuhan mempunyai mata’ &lt;i style=""&gt;(Lera Wulan Tanah Ekan no-on matan) . &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tuhan melihat semua perbuatan manusia, sekalipun tersembunyi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia menghukum yang jahat dan mengganjar yang baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sifat dan tabiat kejujuran ini sangat menarik perhatian Vatter (1984: 56). Dia mencatat, hormat terhadap hak milik oang lain tertanam sangat kuat di benak orang Flores. Pencurian termasuk pelanggaran berat di Flores. Pada zaman dahulu dikenakan hukuman mati, dan saat ini pencuri dikenai sangsi adat berupa denda yang sangat besar. &lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penghargaan yang Tinggi akan Adat dan Upacara Ritual &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Studi Graham (1985) mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Flores Timur, ada empat aspek yang memainkan peranan penting, yaitu episode-episode dalam mitos asal-usul, dan tiga simbol ritual lainnya yakni &lt;i style=""&gt;nuba nara&lt;/i&gt; (altar/batu pemujaan), &lt;i style=""&gt;korke&lt;/i&gt; (rumah adat), dan &lt;i style=""&gt;namang&lt;/i&gt; (tempat menari yang biasanya terletak di halaman &lt;i style=""&gt;korke&lt;/i&gt;). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang Flores memiliki penghargaan yang sangat tinggi akan adat-istiadat dan upacara-upacara ritual warisan nenek-moyangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mitos cerita asal-usul dipandang sebagai unsur terpenting dalam menentukan otoritas dan kekuasaan. Melalui episode-episode dalam mitos asal-usul itulah legitimasi magis leluhur pertama dapat diperoleh. Mitos asal-usul yang sering dikeramatkan itu biasanya diceritakan kembali pada kesempatan-kesempatan ritual formal seperti membangun relasi perkawinan, upacara penguburan, terjadi sengketa tanah, persiapan perang, pembukaan ladang baru, panen, menerima tamu, dan sebagainya. &lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nuba-nara&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; atau altar/batu pemujaan merupakan simbol kehadiran Lera Wulan Tanah Ekan. Ada kepercayaan bahwa Lera Wulan turun dan bersatu dengan Tanah Ekan melalui &lt;i style=""&gt;Nuba Nara&lt;/i&gt; itu. &lt;i style=""&gt;Korke&lt;/i&gt; yang dilengkapi dengan &lt;i style=""&gt;Nama&lt;/i&gt; adalah "gereja" tradisional, pusat pengharapan dan penghiburan mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sangat kuat dan menonjolnya peranan devoci kepada Bunda Maria di kalangan orang Flores&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di satu pihak menunjukkan unsur historis (warisan zaman Portugis) tetapi sekaligus kultural (pemujaan terhadap Ibu Bumi, seperti dalam ungkapan Ama Lera Wulan-Ina Tanah Ekan). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rasa Kesatuan Orang Flores &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ikatan kolektif yang sangat kuat dalam masyarakat Lamaholot terjadi pada tingkat kampung atau &lt;i style=""&gt;Lewo. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Masyarakat Lamaholot pada umumnya memiliki keterikatan yang khas dengan &lt;i style=""&gt;Lewotanah&lt;/i&gt; atau tempat tinggal. Melalui ukuran kampung, mereka membedakan dirinya dengan orang dari kampung lainnya. Kampung merupakan kelompok sosial terbesar, dan kesadaran berkelompok hampir tidak melampaui batas kampung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Vatter, 1984: 72-73). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di Flores sebetulnya tidak ada kesadaran akan persatuan yang bertopang pada pertalian genealogis, historis maupun politis. Seperti disebutkan di atas, keterikatan mereka lebih disebabkan faktor kesamaan tempat tinggal atau kampung. Sekalipun demikian, pola organisasi kampung selalu dibangun dengan semangat dan pemikiran tentang kohesi sosial yang berpangkal pada kerangka genealogis. Dalam kampung-kampuang itu tinggal orang-orang dari berbagai kelompok imigran, yang kemudian digolong-golongkan dalam suku (istilah untuk suku adalah &lt;i style=""&gt;Ama&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Itulah sebabnya orang Flores cenderung menyapa sesamanya dengan sebutan kekerabatan (Om, Tante, Kakak, Adik atau mengaku sebagai saudara). Mereka juga bisa menghargai perbedaan politis, agama, etnis bila mereka telah diikat dalam satu kesatuan tempat tinggal.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Rasa kesatuan seperti ini, kadang-kadang membuat orang Flores menjadi sedikit bersifat etnosentris. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Musikalitas adalah bakat alam orang-orang Flores. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sekalipun di Flores tidak banyak ditemukan alat-alat instrumen musik, rasa musikal orang Flores tergolong cukup istimewa. Hal ini dapat dilihat dalam pandangan Max Weber, yang dikutip dari J. Kunst (1942) berikut ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Of musical instruments I did not see much, although, as a matter of fact, the population of Flores seemed to me to be more musically talented than the kindred Indonesian tribes whose acquaintance I made in Sumatra, Java and Celebes, where I never heard any tolerable voices sing agreeable melodies. It was different in Flores. Many a sonorous male voice, rendering simple songs at the river bank, still sounds in my ears; melodies which might well please the European ear, too. And where is the Florinese who could paddle without singing his &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;pantuns&lt;i style=""&gt;, complete with soli and refrain sung in chorus? Among these soloists there were some voices that might, with better training, have been turned out as good tenor, soprano and bass voices. But this hardly seems to me to apply to the treble voices of the genuine Malay people, including the Buginese and Macassarians. It would seem that we have here to do with a morphological distinction in the vocal means of expression, which may well amount to a support of my view concerning the kinship of the Florinese with tribes living further east” (p. 32). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berikut ini terjemahan selengkapnya kutipan di atas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Tentang musik instrumen saya tidak banyak menemukan, tetapi adalah sebuah fakta bahwa penduduk Flores memiliki bakat musikal yang lebih dibandingkan suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang saya jumpai di Sumatra, Jawa dan Sulawesi. Saya tidak pernah mendengar suara nyanyian yang kompak dan serasi dengan melodinya. Ini berbeda di Flores. Banyak terdengar suara pria yang dalam, gema nyanyian di sepanjang sungai, tetap terngiang-ngiang di telingaku, melodinya menyenangkan telinga Eropa juga. Dan di manakah orang Flores yang berjalan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solo dan refrainnya dalam koor? Di antara penyanyi-penyanyi solo ini, terdapat beberapa suara yang, dengan latihan yang lebih baik, akan menjadi penyanyi tenor, sopran dan bass yang baik. Tetapi hal ini jelas hampir tidak terlihat pada suara penduduk Melayu asli, termasuk Bugis dan Makasar. Barangkali inilah pembedaan morfologis dalam ekspresi vokal, yang mendukung gagasanku tentang kekeluargaan di Flores dengan suku-suku yang hidup di timur jauh" (h. 32). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kesaksian menarik juga ditulis Kapten Tasuku Sato dan P Mark Tennien dalam buku I REMEMBER FLORES, penerbit Farrar, Straus and Cudahy, New York, 1957. Kapten Tasuku Sato yang lahir di Taipei pada Oktober 1899, pernah menjabat Komandan Angkatan Laut Jepang di Flores pada 1943. Tasuku Sato menulis: “... Penduduk pribumi Flores memiliki bakat musikal luar biasa. Mereka dapat mempelajari lagu baru dan langsung melagukannya dalam sekli dengar.”&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Orang-orang Flores mempunyai bakat alam dalam bidang musik. Mereka dapat mempelajari lagu dengan cepat dan baik sekali. Mereka juga menirukan lagu-lagu Jepang dengan cepat. Orang-orang Flores juga mudah menangkap lagu-lagu yang mereka dengar dari radio, lalu menirukannya. Mereka mempunyai orkes asli yang terdiri atas bermacam-macam drum. Lagunya hidup dan sedap didengar. Di bawah pengawasan komisi kebudayaan, anak-anak diajarkan melagukan dan memainkan nyanyian-nyanyian Jepang....”&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang Flores, seperti terungkap dalam kutipan di atas, memiliki bakat musikal yang sangat tinggi, khususnya dalam nyanyian koor. Sebagian (kecil) lagu-lagu Flores sudah diakomodasikan dalam liturgi dan sudah termuat dalam buku &lt;i style=""&gt;Madah Bhakti&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tetapi buku ini kurang disenangi di Flores karena kurang variatif dan terasa seperti menekan kreativitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masih ada satu hal yang penting menjadi catatan. Jika orang Flores, menurut Max&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Weber, mempunyai bakat musikal yang sangat tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beberapa studi (Vatter, 1984; Graham, 1985; Taum, 1997b) mengungkapkan bahwa keluarga di Flores (dalam hal ini Flores Timur) memainkan peranan yang sangat kecil dalam proses pendidikan dan sosialisasi anak. Keluarga bukan tujuan melainkan sarana bagi pembentukan kelompok sosial yang menjadi inti masyarakat dan menentukan suku. Suku itulah basis sosial terkecil dan otonom. Semua hak dan kewajiban individual diarahkan kepada kebersamaan suku. Itulah sebabnya ruang bagi ekspresi dan aktualisasi potensi pribadi menjadi lebih terbatas, sebaliknya kebersamaan menjadi lebih bernilai. Mungkin ini salah satu kendala budaya yang menghambat hal itu, di samping faktor-faktor teknis lain seperti peluang, modal, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Menyandarkan asumsi pada penemuan lewat penelitian-penelitian di atas, gambaran Flores di jaman dulu sangat jauh berbeda dengan Flores di jaman sekarang. Gambaran orang-orang Flores jaman dulu seakan hilang tanpa jejak seperti hilangnya jejak orang-orang Indian suku Maya. Peradaban yang didominasi oleh kehidupan spiritual murni tidak lagi mampu terlihat sebagai bagian sejarah bernilai tinggi bagi orang Flores. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Padahal, tanpa kehidupan spiritual murni, orang Flores bagai mayat hidup tanpa nafas. Sisa-sisa kebanggaan yang bisa terlihat lewat musikalitas alamnya, hanyalah bagian kecil dari kebesaran nenek moyang orang Flores. Banyak cerita yang tersebar dari mulut ke mulut, diceritakan lagi dari orang tua kepada anaknya, telah menyimpan misteri luar biasa pencapaian spiritual tingkat tinggi disana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Jika India memiliki banyak ‘sadhu’ dan ‘para yogi’, maka Flores pun memiliki orang-orang seperti itu. Sampai sekarang, masih terdengar cerita-cerita mereka tinggal di hutan dan tempat-tempat yang sulit dijangkau.Bedanya, tidak ada catatan sejarah yang mencatat bahwa ada orang suci dan para bijak muncul dari Flores. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Namun orang Flores tidak bisa memungkiri bahwa cerita-cerita nenek moyang mereka tidak lepas dari cerita-cerita kesucian dan kebijaksanaan, termasuk kemampuan supranormal yang dimiliki nenek moyang orang-orang Flores. Bahkan ada sebuah kemungkinan yang masih perlu digali, Flores adalah tempat penempaan spiritual murni dikarenakan alam Flores di jaman dulu sangat potensial bagi para pencari kebenaran hidup. Ada banyak sadhu dan yogi yang tak terekam sejarah Flores, mungkin  nama dan perjalanan mereka tidak akan pernah terekam sejarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 60.6pt; text-indent: -60.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;SISTEM KEKERABATAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi). Klen adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral.Pada Masyarakat Flores menganut klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) di mana klennya disebut Fam antara lain : Fernandes, Wangge, Da Costa, Leimena, Kleden, De- Rosari, Paeira.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kelompok kekerabatan di Manggarai yang paling kecil dan yang berfungsi paling intensif sebagai kesatuan dalam kehidupan sehari-sehari di dalam rumah tangga atau di ladang dan kebun, adalah keluarga luas yang virilokal (kilo). Pada orang Ngada suatu keluarga luas virilokal serupa itu disebut &lt;i style=""&gt;sipopali&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sejumlah kilo biasanya merasakan diri terikat secara patrilineal sebagai keturunan dari seorang nenek moyang kira-kira lima sampai enam generasi ke atas. Suatu klen kecil atau &lt;i style=""&gt;minimal lineage&lt;/i&gt; memiliki beberapa nama lain, diManggarai disebut &lt;i style=""&gt;panga&lt;/i&gt; dan di Ngada disebut &lt;i style=""&gt;ilibhou&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Warga suatu panga atau &lt;i style=""&gt;ilibou&lt;/i&gt; tidak selau terikat oleh hubungan kekerabatan yang nyata. Hal itu karena sering sekali ada panga-panga atau ilibhou-ilibhou yang menjadi kecil, akibat kematian, manggabungkan diri dengan panga atau ilibhou yang lain. Suatu panga atau ilibhou dulu merupakan kesatuan dalam hal melakukan upacara-upacara berkabung atau upacara pembakaran mayat nenek moyang, atau upacara mendirikan batu tiang penghormatan roh nenek moyang. Sekarang kesatuan kekerabatan itu hampir tidak berfungsi lagi, kecuali sebagai pemberi nama kepada warga-warganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Panga dan ilibhou menjadi bagian dari klen-klen yang lebih besar, ialah &lt;i style=""&gt;wa’u&lt;/i&gt; di Manggarai dan &lt;i style=""&gt;woe&lt;/i&gt; di Ngada. Dulu wa’u an woe membanggakan diri akan adanya suatu complex unsur-unsur adat istiadat dan sistem upacara yang khas, yang saling pantang bagi yang lain, sedangkan banyak diantara wa’u-wa’u atau woe-woe yang terkenal ada yang memiliki lambang binatang atau totem yang mereka junjung tinggi. Sekarang sebagian besar dari unsur-unsur adat istiadat, upacara-upacara dan lambang-lambang totem yang khusus itu sudah hilang atau dilupakan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Masyarakat Ngada terdiri dari empat kesatuan adat (kelompok etnis) yang memiliki pelbagai tanda-tanda kesatuan yang berbeda. Kesatuan adat tersebut adalah : (1) Nagekeo, (2) Ngada, (3) Riung, (4) Soa. Masing-masing kesatuan adat mempertahankan ciri kekerabatannya dengan mendukung semacam tanda kesatuan mereka. Arti keluarga kekerabatan dalam masyarakat Ngada umumnya selain terdekat dalam bentuk keluarga inti Sao maka keluarga yang lebih luas satu simbol dalam pemersatu (satu Peo, satu Ngadhu, dan Bagha). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Ikatan nama membawa hak-hak dan kewajiban tertentu. Contoh setiap anggota kekerabatan dari kesatuan adat istiadat harus taat kepada kepala suku, terutama atas tanah. Setiap masyarakat pendukung mempunyai sebuah rumah pokok (rumah adat) dengan seorang yang mengepalai bagian pangkal Ngadhu ulu Sao Saka puu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Suku Ngadha mengenal beberapa kelompok kekerabatan dari yang terkecil berupa keluarga inti sampai pada kelompok klen besar. Pembagian kelas pada struktur masyarakatnya hampir sama sebagaimana masyarakat lain di tanah air. Penggolongan suku Ngadha berdasarkan keluarga batih ( primary family ) yang terdiri dari ayah,ibu, anak-anak yang belum menikah disebut dengan sa"o. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Beberapa keluarga inti membentuk keluarga gabungan yang disebut sippopali. Sippopali (kesatuan keluarga) terdiri dari satu rumah pokok (sao puu) dan didampingi oleh rumah cabang (sao dhoro) yang berasal dari rumah pokok. Dikarenakan keterkaitan dengan sistem kekerabatan patrilineal, beberapa sippopali membentuk klen kecil (illibhou) dari klen besar yang dipimpin oleh seorang pemimpin dengan status ulu woe. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Pola pemukiman masyarakat baik di Ende maupun Lio umumnya pada mula dari keluarga batih/inti baba (bapak), ine (mama) dan ana (anak-anak) kemudian diperluas sesudah menikah maka anak laki-laki tetap bermukim di rumah induk ataupun sekitar rumah induk. Rumah sendiri umumnya secara tradisional terbuat dari bambu beratap daun rumbia maupun alang-alang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Pada masyarakat manggarai, pembentukan keluarga batih terdiri dari bapak, mama dan anak-anak yang disebut Cak Kilo. Perluasan Cak Kilo membentuk klen kecil Kilo, kemudian klen sedang Panga dan klen besar Wau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Beberapa istilah yang dikenal dalam sistem kekerabatan Manggarai antara lain Wae Tua (turunan dari kakak), Wae Koe (turunan dari adik), Ana Rona (turunan keluarga mama), Ana Wina (turunan keluarga saudara perempuan), Amang (saudara lelaki mama), Inang (saudara perempuan bapak), Ema Koe (adik dari bapak), Ema Tua (kakak dari bapak), Ende Koe (adik dari mama), Ende Tua (kakak dari mama), Ema (bapak), Ende (mama), Kae (kakak), Ase (adik), Nana (saudara lelaki), dan Enu (saudara wanita atau istri).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 60.6pt; text-align: justify; text-indent: -60.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;SISTEM KEMASYARAKATAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Dalam masyarakat sub-sub suku bangsa di flores yang kuno ada suatu sistem strafikasi sosial kuno, yang terdiri dari tiga lapisan. Dasar dari pelapisan itu ialah keturunan dari klen-klen yang dianggap mempunyai sifat keaslian atau asas senioritet. Biasanya ada tiga lapisan sosial. Pada orang manggarai misalnya ada lapisan orang &lt;i style=""&gt;kraeng, &lt;/i&gt;lapisan orang &lt;i style=""&gt;ata ehe &lt;/i&gt;dan lapisan orang budak. Pada orang Ngada misalnya ada lapisan orang &lt;i style=""&gt;gae meze, &lt;/i&gt;lapisan orang &lt;i style=""&gt;gae kisa &lt;/i&gt;dan juga lapisan orang budak &lt;i style=""&gt;(azi ana).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Lapisan &lt;i style=""&gt;kraeng &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;gae meze, &lt;/i&gt;adalah lapisan orang bangsawan yang secara khusus terbagi lagi dalam beberapa sub lapisan, tergantung kepada sifat keaslian dari klen-klen tertentu, yang dianggap secara historis atau menurut dongeng-dongeng mitodologi, telah menduduki suatu daerah tertentu lebih dahulu dari klen-klen yang lain. Demikian warga dari klen-klen yang berkuasa dalam &lt;i style=""&gt;dalu-dalu &lt;/i&gt;atau &lt;i style=""&gt;glaring-glarang, &lt;/i&gt;pada orang Manggarai, termasuk lapisan &lt;i style=""&gt;kraeng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lapisan &lt;i style=""&gt;ata leke &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;gae kisa &lt;/i&gt;adalah lapisan orang biasa, bukan keturunan orang-orang senior. Orang &lt;i style=""&gt;ata leke &lt;/i&gt;biasanya bekerja sebagai petani, tukang-tukang atau pedagang, walau banyak dari orang bangsawan ada juga yang dalam kehidupan sehari-hari juga hanya menjadi saja. Lapisan budak, yang sekarang tentu sudah tidak ada lagi, adalah dulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;orang-orang yang ditangkap dalam peperanagn, baik dari sub suku bangsa sendiri, maupun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari suku bangsa lain atau pulau lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kecuali itu orang-orang yang mempunyai hutang dan tidak mampu membayar lagi hutang mereka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dan akhirnya orang-orang yang dijatuhi hukuman untuk menjadi budak, karena pelanggaran adat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Secara lahir perbedaan antara gaya hidup dari warga lapisan-lapisan sosial itu tidak ada, tetapi dalam sopan santun pergaulan antara mereka ada perbedaan, sedangkan para bangsawan pun mempunyai hak-hak tertentu dalam upacara-upacara adat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada masa sekarang pendidikan sekolah telah menyebabakan timbulnya suatu lapisan sosial baru, yang terdiri dari orang-orang pegawai, guru, atau pendeta, sedangkan akhir-akhir ini ada pula beberapa putra flores dengan pendidikan universitas yang tergolong lapisan sosial yang baru itu. Di sini prinsip-prinsip stratifikasi sosial yang bersifat nasional, mulai mempengaruhi stratifikasi sosial di daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sistem kemasyarakatan masing-masing etnis di Flores pada dasarnya hampir sama, hanya beberapa hal saja dan istilahnya saja yang berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Flores Timur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Orang yang berasal dari Flores Timur sering disebut orang Lamaholot, karena bahasa yang digunakan bahasa suku Lamaholot. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pelapisan sosial masyarakat tergantung pada awal mula kedatangan penduduk pertama, karena itu dikenal adanya tuan tanah yang memutuskan segala sesuatu, membagi tanah kepada suku Mehen yang tiba kemudian, disusul suku Ketawo yang memperoleh hak tinggal dan mengolah tanah dari suku Mehen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sikka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Konon nama Sikka berasal dari nama suatu tempat dikawasan Indocina. Sikka dan dari sinilah kemungkinan bermula orang berimigrasi kewilayah nusantara menuju ke timur dan menetap disebuah desa pantai selatan yakni Sikka. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Nama ini Kemudian menjadi pemukiman pertama penduduk asli Sikka di kecamatan Lela sekarang. Turunan ini bakal menjadi tuan tanah di wilayah ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Pelapisan sosial dari masyarakat Sikka. Lapisan atas disebut sebagai Ine Gete Ama Gahar yang terdiri para raja dan bangsawan. Tanda umum pelapisan itu di zaman dahulu ialah memiliki warisan pemerintahan tradisional kemasyarakatan, di samping pemilikan harta warisa keluarga maupun nenek moyangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Lapisan kedua ialah Ata Rinung dengan ciri pelapisan melaksanakan fungsi bantuan terhadap para bangsawan dan melanjutkan semua amanat terhadap masyarakat biasa/orang kebanyakan umumnya yang dikenal sebagai lapisan ketiga yakni Mepu atau Maha. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Secara umum masyarakat kabupaten Sikka terinci atas beberapa nama suku; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;(1) ata Sikka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;(2) ata Krowe&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;(3) ata Tana ai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;(4) suku-suku pendatang yaitu: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;(a) ata Goan&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;(b) ata Lua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;(c) ata Lio&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;(d) ata Ende&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;(e) ata Sina&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;(f) ata Sabu/Rote&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;(g) ata Bura.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;Ende&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;Nama Ende sendiri konon ada yang menyebutkannya sebagai Endeh, Nusa Ende, atau dalam literatur kuno menyebut Inde atau Ynde. Ada dugaan yang kuat bahwa nama itu mungkin sekali diberikan sekitar abad ke-14 pada waktu orang-orang malayu memperdagangkan tenunan besar nan mahal yakni Tjindai sejenis sarung patola dalam pelayaran perdagangan mereka ke Ende.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;Ende/Lio sering disebut dalam satu kesatuan nama yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun demikian sikap ego dalam menyebutkan diri sendiri seperti : Jao Ata Ende atau Aku ata Lio dapat menunjukan sebenarnya ada batas-batas yang jelas antara ciri khas kedua sebutan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;Meskipun secara administrasi masyarakat yang disebut Ende/Lio bermukim dalam batas yang jelas seperti tersebut di atas tetapi dalam kenyataan wilayah kebudayaan (teritorial kultur) nampaknya lebih luas Lio dari pada Ende.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;Lapisan bangsawan masyarakat Lio disebut Mosalaki ria bewa, lapisan bangawan menengah disebut Mosalaki puu dan Tuke sani untuk masyarakat biasa. Sedangkan masyarakat Ende bangsawan disebut Ata NggaE, turunan raja Ata Nggae Mere, lapisan menegah disebut Ata Hoo dan budak dati Ata Hoo disebut Hoo Tai Manu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;Ngada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;Pelapisan sosial masyarakat Ngada meliputi pelapisan teratas disebut Ata Gae, lapisan menengah disebut Gae Kisa, dan pelapisan terbawah disebut Ata Hoo. Sumber lain menyebutkan pelapisan sosial biasa dibagi atas tiga, Gae (bangsawan), Gae Kisa = kuju, dan golongan rendah (budak). Ada pula yang membagi atas empat strata, Gae (bangsawan pertama), Pati (bangsawan kedua) Baja (bangsawan ketiga), dan Bheku (bangsawan keempat).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;Para istri dari setiap pelapisan terutama pelapisan atas dan menengah disebut saja Inegae/Finegae dengan tugas utama menjadi kepala rumah yang memutuskan segala sesuatu di rumah mulai pemasukan dan pengeluaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Manggarai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Sub suku bangsa Manggarai telah mengenal suatu sistem organisasi kenegaraan sejak lama yaitu sejak abad ke-17 ketika kerajaan Bima dari Sumbawa Timur menguasai bagian utara dari Flores Barat. Pegawai-pegawai Bima di Reo ialah pusat kekuasaan kerajaan Bima di Flores Barat telah menulis laporan-laporan tentang wilayah Bima di Flores tersebut dalam bahasa Melayu. Dari tulisan-tulisan tersebut kita ketahui bahwa ada suatu kerajaan pribumi Manggarai yang berpusat di daerah Cibal di bagian tengah dari Flores Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Dari tulisan-tulisan tersebut kita juga mengetahui bahwa sekitar 1666 orang Makasar mencoba menguasai bagian selatan dari Flores Barat. Penduduk bagian selatan ini katanya sudah banyak yang beragama Islam, hasil usaha penyiaran agama itu oleh imigran-imigran dari Minangkabau. Tahun 1762 kerajaan Bima berhasil juga menguasai Manggarai Selatan dan mengusir orang Makasar bahkan dalam tahun-tahun sesudah itu orang Bima juga berhasil menguasai kerajaan Manggarai asli yang berpusat di Cibal. Namun rupa-rupanya kerajaan Manggarai itu tidak pernah menjadi negara jajahan dari negara Bima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Pada permulaan abad ke-19, pengaruh dan kekuasaan orang Bima di Flores Barat mengalami kemunduran akibat bencana alam hebat yang dialami oleh orang Sumbawa yaitu berupa peledakan Gunung Tambora dalam tahun 1815. orang Manggarai memberontak melawan Bima dan dengan bantuan orang Belanda, mereka berhasil menguasai semua orang Bima dari Flores Barat. Pada permulaan abad ke-20 dalam tahun 1907, Manggarai dijadikan suatu daerah jajahan dan bagian dari Hindia Belanda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Strata masyarakat Manggarai terdiri atas 3 golongan, kelas pertama disebut Kraeng (Raja/bangsawan), kelas kedua Gelarang ( kelas menengah), dan golongan ketiga Lengge (rakyat jelata).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Raja mempunyai kekuasaan yang absolut, upeti yang tidak dapat dibayar oleh rakyat diharuskan bekerja rodi. Kaum Gelarang bertugas memungut upeti dari Lengge (rakyat jelata). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Kaum Gelarang ini merupakan penjaga tanah raja dan sebagai kaum penyambung lidah antara golongan Kraeng dengan Lengge. Status Lengge adalah status yang selalu terancam. Kelompok ini harus selalu bayar pajak, pekerja rodi, dan berkemungkinan besar menjadi hamba sahaya yang sewaktu-waktu dapat dibawah ke Bima dan sangat kecil sekali dapat kembali melihat tempat kelahirannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;POLA PERKAMPUNGAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pola perkampungan dari desa-desa kuno itu biasanya merupakan suatu lingkaran dengan tiga bagian, yaitu depan, tengah, belakang. Desa-desa di Flores &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;( &lt;i style=""&gt;Beo&lt;/i&gt; di Manggarai) , dulu biasanya dibangun di atas bukit-bukit untuk keperluan pertahanan dikelilingi dengan sebuah pagar dari bambu yang tingginya dua sampai tiga meter, sedangkan pagar itu seringkali dikelilingi secara padat dengan tubuh-tumbuhan belukar yang berduri.Akan tetapi pada masa sekarang sudah banyak desa-desa yang dibangun di daerah tanah datar di kaki bukit, sifatnya lebih terbuka , pagar sering tidak ada lagi , selain itu susunan kuno tersebut juga sudah sering tidak diperhatikan lagi. &lt;/span&gt;Beberapa daerah tertentu ada yang memiliki pola perkampungan dengan ciri khusus, sedangkan daerah lainnya dianggap memiliki pola perkampungan yang menyerupai daerah-daerah tersebut,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antara lain:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-indent: -1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;.Manggarai&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Di Manggarai misalnya masih ada sebutan khusus untuk bagian depan dari desa adalah &lt;i style=""&gt;Pa’ang&lt;/i&gt;, bagian tengah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ialah &lt;i style=""&gt;Beo&lt;/i&gt; (dalam arti khusus) dan bagian belakang adalah &lt;i style=""&gt;ngaung&lt;/i&gt;. Dulu tiap bagian dari rumah ada tempat-tempat keramat, yang merupakan timbunan-timbunan batu-batu besar dan yang dianggap tempat roh-roh penjaga desa dapat turun. Pada masa sekarang biasanya masih ada paling sedikit satu tempat keramat serupa di tengah-tengah lapangan tengah dari desa. Tempat keramat itu biasanya berupa suatu timbunan batu-batu besar yang disusun seperti piramida bertangga dengan beberapa batu pipih tesusun seperti meja di puncaknya. Seluruh timbunan itu yang disebut &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; , dinaungi oleh suatu pohon waringin yang besar. Di hadapan himpunan batu itu biasanya ada banguna balai desa yang bersifat keramat dan yang disebut&lt;i style=""&gt; mbaru gendang&lt;/i&gt;, kaena didalamnya disimpan sebuah genderang yang keramat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Di Manggarai, rumah kuno berbentuk lingkaran di atas tiang-tiang yang yang tingginya kira-kira satu meter. Atapnya yang dibuat dari lapisan-lapisan ikatan-ikatan jerami itu, berbentuk kerucut yng menjulang tinggi, kadamg-kadang sampai lebih dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; meter di atas tanah. Ruang di bawah lantai, di kolong rumah dipakai untuk tempat menyimpan alat-alat pertanian dan sebagai tempat ternak seperti babi,kambing,domba dan ayam. Tingkat tengah adalah tempat manusia, sedangkan tingkat atap dianggap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagian yang keramat dari rumah tempat untuk roh-roh, maka di situ disimpan benda-benda keramat dan pusaka, tetapi juga bahan makanan . pada masa sekarang rumah beratap kerucut tinggi itu juga sudah hamper hilang. Orang Manggarai membangun rumah-rumah persegi di atas tiang,dari aneka warna &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang di contoh dari lain-lain tempat di Indonesia, sehingga tidak ada lagi bentuk rumah Manggarai yang khas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 64.35pt; text-align: justify; text-indent: -46.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ngada&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1030" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:261pt;" wrapcoords="-162 0 -162 21412 21600 21412 21600 0 -162 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\wisata%20ngada_files\f1.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" shapes="_x0000_s1030" align="left" height="125" hspace="12" width="204" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Masyarakat Ngada merupakan salah satu suku bangsa yang mendiami satu wilayah di kabupaten Ngada, Flores Tengah, provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya berada di sekitar gunung Inerie dan di dataran tinggi Bajawa. Suku Ngada merupakan salah satu suku terbesar diantara suku-suku lain yang ada di Flores Tengah. Kehidupan masyarakat suku Ngada di perkampungan Wogo, Bajawa sampai saat ini masih melakukan kegiatan yang bisa dikategorikan menjalani tradisi megalitik ( living megalithic tradition ). Pada perkampungan Ngada di desa Wogo Bajawa ini terdapat peninggalan-peninggalan megalitik maupun bangunan-bangunan yang berakar pada penghormatan nenek moyang.&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="Image3_img" spid="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" alt="Indahnya Flobamora" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:18pt;margin-top:6.5pt;" wrapcoords="-90 0 -90 21465 21600 21465 21600 0 -90 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image007.png" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\foto2nya%20bagus_files\Lio_Wologai.png"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image008.gif" alt="Indahnya Flobamora" shapes="Image3_img" align="left" height="157" hspace="12" width="216" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Penempatan beberapa perkampungan suku Ngadha merupakan refleksi aktivitas masyarakat suku ngadha akibat dari pemanfaatan lingkungan alam itu sendiri misalnya pemanfaatan lahan perbukitan sebagai lahan pertanian, oleh karena pertimbangan lahan tersebut subur akibat struktur tanah alluvial, disamping itu penduduk Wogo masa sekarang banyak yang menanami lahannya dengan beraneka macam tananam perkebunan dan tanaman pertanian. Hal ini nampak dari adanya tempat tempat menyimpan hasil-hasil pertanian yang ada di dalam rumah maupun mendirikan gubuk-gubuk kecil di luar rumah hunian biasanya didirikan di belakang rumah. Kedekatan dengan hutan sebagai habitat beberapa binatang buruan yang banyak hidup di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan masyarakat. Dengan adanya hasil hutan rakyat ini berbagai hasil kayunya dapat dimanfaatkan untuk membangun rumah, mendirikan sarana upacara ataupun tiang-tiang bambunya digunakan sebagai sarana mengambil air atau memasak nasi dan beras ketan pada saat diadakannya upacara adat tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Hubungannya landskap dengan pemukiman suku Ngada di perkampungan Wogo ini karena tersedianya bentang lahan yang memadai dalam kaitannya dengan ritus-ritus upacara pertanian atau kematian ataupun perburuan yang mempergunakan jenis-jenis batuan ini untuk sarana upacara tersebut seperti mata uma yaitu sekelompok batu menhir yang digunakan untuk upcara pertanian, kemudian dalam hal pengelolaan hasil pertanian, diambil dari batuan andesit - basalt, watu lanu berupa sekelompok batu tegak dan dolmen yang difungsikan untuk upacara perburuan, sarana penguburan juga mempergunakan batu andesit basalt demikian juga tampak pada pendirian batu - batu tegak sebagai batas perkampungan, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 6pt 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pola perkampungan orang Ngada berkelompok dalam keluarga besar dalam rumah-rumah panggung berukuran besar, mengelilingi lapangan luas berbentuk persegi panjang (kisanata). Lapangan tersebut sekaligus berfungsi sebagai areal upacara, permusyawaratan pemuka adat, pengadilan dan sebagainya. Salah satu sisi lebar dari lapangan itu, biasanya didirikan &lt;b&gt;nga'dhu&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;bhaha&lt;/b&gt;. Nga'dhu adalah simbolisasi / personifikasi laki-laki yang biasanya berujud tiang berukir dan diduga kuat bahwa Nga'dhu merupakan transformasi menhir yang biasanya dibuat dari batu. Sementara itu, bhaha merupakan simbolisasi/ personifikasi perempuan yang diujudkan dalam monumen berupa bangunan miniatur rumah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" alt="Mole" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image009.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\POLA%20PERKAMPUNGAN%20ENDE%20LIO_files\mole-small.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: 2;"&gt;&lt;span style="position: absolute; left: 12px; top: -12px; width: 528px; height: 276px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image010.jpg" alt="Mole" shapes="_x0000_s1027" height="276" width="528" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hubungan kekerabatan terlihat pada perkampungannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.5in; text-align: left; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;" align="left"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ende-Lio&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pola perkampungan dan bentuk rumah adat tradisional bagi masyarakat Ende-Lio dibangun selalu berkaitan dengan konsep hubungan kekerabatan &lt;em&gt;(Gemen scap),&lt;/em&gt; antisipasi terhadap alam lingkungannya dan hubungannya dengan pencipta alam semesta yang dipercayanya. Hal ini dapat dilihat dari acara ritual yang dilakukan di saat membangun rumah adat dan perkampungan tradisional yang masih ada dan berlaku di masyarakat adat termasuk acara seremonial lainnya hingga sekarang. hingga sekarang.&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Contoh Perkampungan Adat Mole&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam pembangunan rumah adat dan perkampungan tradisional, pola pemukimannya ditata mengikuti prinsip LINTAS ORBIT TATA SURYA. Setiap kampung adat tradisional memiliki kedudukan dan peran masing-masing, khususnya terhadap tempat dan kedudukan dengan kampung asal. Sedangkan bentuk rumahnya mengikuti budaya perahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1028" type="#_x0000_t75" alt="POla Tata Surya" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-68 0 -68 21518 21532 21332 21600 0 -68 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image011.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\POLA%20PERKAMPUNGAN%20ENDE%20LIO_files\untitled-small.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image012.jpg" alt="POla Tata Surya" shapes="_x0000_s1028" align="left" height="219" hspace="12" width="303" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lihatlah Bentuk dan Pola Perkampungan Ende Lio&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1029" type="#_x0000_t75" alt="Baru51" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:4in;" wrapcoords="-129 0 -129 21510 21600 21510 21600 0 -129 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image013.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\POLA%20PERKAMPUNGAN%20ENDE%20LIO_files\baru51-small1.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image014.jpg" alt="Baru51" shapes="_x0000_s1029" align="left" height="192" hspace="12" width="168" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berdasarkan struktur dan pola perkampungan tradisional Ende-Lio memiliki tiga kategori yaitu; Kampung asal (Nua Pu’u); kampung ranting (Kuwu Ria) atau gubuk besar, kampung kecil (kopo kasa) yaitu tempat kediaman di luar kampung asal dengan jumlah penghuni yang kurang. Kuwu ria dan Kopo Kasa wajib mengakui wewenang Religi dan magis/ Ritual pada Nua Pu’u dan wajib melaksanakan perintah yang berasal dari penguasa adat/ Mosalaki di kampung asal (Nua Pu’u). Salah satu pola perkampungan adat yang masih terlihat utuh dapat dilihat di desa Wologai, Kec. Detusoko dimana nampak jelas pola perkampungan dan tata letak bangunan didalamnya. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan keberadaannya dalam kampung tradisional, di dalamnya dibangun berbagai bangunan sesuai kedudukan dan fungsinya. Komponen Pendukung Bangunan-bangunan inilah yang terdiri dari Tubu, Musu, Kangga, Keda, Kuburan dan berbagai aksesoris untuk melengkapi sebuah seremonial kehidupan adat Masyarakat tradisional Ende Lio. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1031" type="#_x0000_t75" alt="Wologai" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:42pt;margin-top:9.9pt;" wrapcoords="-43 0 -43 21530 21600 21530 21600 0 -43 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image015.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\POLA%20PERKAMPUNGAN%20ENDE%20LIO_files\wologai-small.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image016.jpg" alt="Wologai" shapes="_x0000_s1031" align="left" height="290" hspace="12" width="477" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Sebagai bagian yang tidak terpisahkan keberadaannya dalam kampung tradisional, di dalamnya dibangun berbagai bangunan sesuai kedudukan dan fungsinya. Komponen Pendukung Bangunan-bangunan inilah yang terdiri dari Tubu, Musu, Kangga, Keda, Kuburan dan berbagai aksesoris untuk melengkapi sebuah seremonial kehidupan adat Masyarakat tradisional Ende Lio. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 60.6pt; text-align: justify; text-indent: -60.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;RELIGI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keyakinan (religi) terhadap 'Yang Maha Tinggi' merupakan unsur maha penting dalam berbagai kehidupan sehari-hari. Mulai dari bercocok tanam (berladang) hingga perkawinan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kristianitas, khususnya Katolik, sudah dikenal penduduk Pulau Flores sejak abad ke-16. Tahun 1556 Portugis tiba pertama kali di Solor. Tahun 1561 Uskup Malaka mengirim empat misionaris Dominikan untuk mendirikan misi permanen di sana. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah benteng di Solor dan sebuah Seminari di dekat kota Larantuka. Tahun 1577 saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000: 33-37). Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Meskipun kristianitas sudah dikenal sejak permulaan abad ke-16, kehidupan keagamaan di Pulau Flores memiliki pelbagai kekhasan. Bagaimanapun, hidup beragama di Flores –sebagaimana juga di berbagai daerah lainnya di Nusantara (lihat Muskens, 1978)-- sangat diwarnai oleh &lt;i style=""&gt;unsur-unsur kultural&lt;/i&gt; yaitu pola tradisi asli warisan nenek-moyang. &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Di samping itu, &lt;i style=""&gt;unsur-unsur&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;historis&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yakni tradisi-tradisi luar yang masuk melalui para misionaris turut berperan pula dalam kehidupan masyarakat. Kedua unsur ini diberi bentuk oleh sistem kebudayaan Flores sehingga Vatter (1984: 38) menilai di beberapa tempat di Flores ada semacam percampuran yang aneh antara Kristianitas dan kekafiran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Untuk dapat mengenal secara singkat gambaran agama-agama di Flores, Tabel 1 mendeskripsikan 'wujud tertinggi' orang Flores. Tabel itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menunjukkan bahwa orang Flores memiliki kepercayaan tradisional pada Dewa Matahari-Bulan-Bumi. Kepercayaan yang bersifat astral dan kosmologis ini berasal dari pengalaman hidup mereka yang agraris, yang hidup dari kebaikan langit (hujan) dan bumi (tanaman) (Fernandez, 1990). Lahan pertanian yang cenderung tandus membuat orang Flores sungguh-sungguh berharap pada penyelenggaraan Dewa Langit dan Dewi Bumi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Tabel 1 Wujud Tertinggi Orang Flores&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; margin-left: 23.4pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 36.9pt;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 0.5in; height: 36.9pt;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;NO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 1.25in; height: 36.9pt;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;KABUPATEN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 135pt; height: 36.9pt;" valign="top" width="180"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;WUJUD TERTINGGI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 135.65pt; height: 36.9pt;" valign="top" width="181"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;MAKNA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 166.45pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 0.5in; height: 166.45pt;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;1.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;2. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;3. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;4.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;5. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;6.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 1.25in; height: 166.45pt;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Flores Timur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lembata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sikka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ende/Lio&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngadha&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Manggarai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 135pt; height: 166.45pt;" valign="top" width="180"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lera Wulan Tanah Ekan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lera Wulan Tanah Ekan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ina Niang Tana Wawa// Ama Lero Wulang Reta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wula Leja Tana Watu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Deva zeta-Nitu zale&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mori Kraeng, bergelar: Tana wa awang eta//Ine wa   ema eta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 135.65pt; height: 166.45pt;" valign="top" width="181"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Matahari-Bulan-Bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Matahari-Bulan-Bumi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bumi-Matahari-Bulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bulan-Matahari-Bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Langit-Bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tanah di bawah, langit di atas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain itu, hampir semua etnis masyarakat Flores memiliki tempat-tempat pemujaan tertentu, lengkap dengan altar pemujaannya yang melambangkan hubungan antara alam manusia dengan alam ilahi. Tabel 2 menunjukkan altar tempat upacara ritual orang Flores.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tabel 2 Altar/Tempat Pemujaan Orang Flores&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; margin-left: 23.4pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 41.25pt;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 0.5in; height: 41.25pt;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;NO&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 99pt; height: 41.25pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;KABUPATEN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 128.75pt; height: 41.25pt;" valign="top" width="172"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;NAMA TEMPAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 133.5pt; height: 41.25pt;" valign="top" width="178"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;KETERANGAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 124.5pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 0.5in; height: 124.5pt;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;1.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;2.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;3.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;4.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;5.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;6.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 99pt; height: 124.5pt;" valign="top" width="132"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Flores Timur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lembata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sikka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ende/Lio&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ngadha&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Manggarai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 128.75pt; height: 124.5pt;" valign="top" width="172"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nuba Nara &lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nuba Nara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Watu Make&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Watu Boo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Vatu Leva - Vatu Meze&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Compang – Lodok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 133.5pt; height: 124.5pt;" valign="top" width="178"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menhir dan Dolmen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menhir dan Dolmen &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menhir dan Dolmen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dolmen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menhir dan Dolmen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menhir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Altar yang disebutkan dalam Tabel 2 di atas merupakan tempat dilaksanakannya persembahan hewan korban dalam upacara ritual formal, misalnya: upacara panen, pembabatan hutan, pendirian rumah, perkawinan adat, dan sebagainya. Upacara ritual itu sendiri menduduki posisi penting sebagai sarana pembentukan kohesi sosial dan legitimasi status sosial. Ritual persembahan di altar tradisional itu mempengaruhi berbagai struktur dan proses sosial di Flores. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sedangkan di masyarakat Ngada, ditemukan beberapa menhir. Fungsi menhir ini sebagai petunjuk kubur dan pada batu tersebut diabadikan nama – nama mereka yang menunjukkan sekumpulan menhir yang berasosiasi dengan dolmen. Di samping itu fungsi menhir juga digunakan sebagai tanda jumlah musuh yang terbunuh dalam peperangan. Keberadaan bangunan-bangunan pemujaan sangatlah terkait dengan kehidupan religi dan kepercayaan masyarakat Ngada walaupun pada umumnya masyarakat Ngada pada waktu sekarang sebagian besar memeluk agama Katolik. Dengan masuknya ajaran Katolik yang membawa pengaruh pada kehidupan religi mereka, terjadilah akulturasi budaya tanpa meninggalkan dogmatis ajaran Katolik. Kepercayaan terhadap gunung sebagai tempat suci dimana bersemayam arwah nenek moyang, direfleksikan dengan adanya bangunan berundak, tetapi pada saat ini adanya akulturasi budaya yang tercermin dari arah hadap tanda salib pada kubur orang katolik yang memperlihatkan kearah gunung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Agama islam di Flores termasuk minoritas dalam hal jumlahnya dan terbagi atas &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Komunitas Islam asli &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Latar belakang mereka yaitu sama-sama penduduk bumiputra yang mula-mula menganut ‘agama asli’ atau meminjam istilah Bung Karno ‘orang kafir’. Dalam buku sejarah, agama asli biasa disebut animisme-dinamisme. Ketika datang agama baru, baik Katolik atau Islam, penduduk mulai konversi alias pindah agama. Agama asli identik dengan kekolotan atau primitivisme karena terkait erat dengan dukun-dukun serta kepercayaan alam gaib yang sulit diterima di alam moderen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Karena sama-sama asli Lembata, Adonara, Solor, Flores Timur daratan, jemaat Islam ini benar-benar menyatu dengan umat Katolik atau penganut agama asli. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sama-sama diikat oleh adat, budaya, serta keturunan yang sama. Kalau diusut-usut, golongan ini punya hubungan darah yang sangat erat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Komunitas Islam pesisir.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mereka ini campuran antara pendatang dan penduduk asli yang sudah bercampur-baur secara turun-temurun. Disebut pesisir karena tinggalnya di pesisir, bekerja sebagai nelayan ulung. Selain itu, mereka pedagang ‘papalele’ hingga pedagang besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mereka menganut Islam berkat dakwah para pedagang atau pelaut Sulawesi, Sumatera, Jawa, Sumbawa. Ada juga nelayan Sulawesi yang akhirnya menetap di Flores karena kerap bertualang di laut. Ada tanah kosong di pinggir laut, lantas mereka mendirikan rumah di tempat tersebut. Akhirnya, muncul banyak kampung-kampung khusus Islam di beberapa pesisir Flores Timur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berbeda dengan Islam jenis pertama (asli Flores), golongan kedua ini benar-benar pelaut sejati. Di beberapa tempat, rumah mereka bahkan dibuat di atas laut. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena tak punya tanah, namanya juga pendatang, mereka tidak bisa bertani. Kerjanya hanya mengandalkan hasil laut, tangkap ikan, serta berdagang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka, komunitas Islam pesisir ini sangat solid dan homogen di pesisir. Kampung Lamahala di Adonara Timur dan Lamakera di Solor Timur merupakan contoh kampung Islam pesisir khas Flores Timur. Di Kampung Baru serta sebagian Postoh (Kota Larantuka) pun ada kampung khusus Islam pesisir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mereka ini menggunakan bahasa daerah Flores Timur, namanya Bahasa LAMAHOLOT, dengan dialek sangat khas. Perempuannya cantik-cantik, rambut lurus, karena itu tadi, nenek moyangnya dari Sulawesi, Sumatera, Jawa. Tapi ada juga yang agak hitam, sedikit keriting, karena menikah dengan penduduk asli yang masuk Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena tinggal di pantai (bahasa daerahnya: WATAN), di Flores Timur umat Islam disebut WATANEN alias orang pantai. Sebaliknya, orang Katolik disebut KIWANEN, dari kata KIWAN alias gunung. WATANEN mencari ikan, KIWANEN bertani, hasilnya bisa barter untuk mencukupi kebutuhan orang Flores Timur. Jadi, kedua kelompok ini, WATANEN-KIWANEN tak bisa dipisahkan meskipun berbeda agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain itu, pasar-pasar Inpres di Flores Timur hampir dikuasai secara mutlak oleh muslim pesisir. Mereka juga punya banyak armada kapal laut antarpulau yang menghubungkan pulau-pulau di Flores Timur, Nusatenggara Timur, bahkan Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Komunitas Islam pendatang baru.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berbeda dengan komunitas pertama dan kedua, komunitas ketiga ini pendatang baru dalam arti sebenarnya. Mereka datang, bekerja, dan menetap di Flores Timur, menyusul gerakan transmigrasi pada era 1970, 1980 dan seterusnya sampai sekarang. Ada juga yang pegawai negeri sipil, pegawai swasta, profesional yang bekerja di Flores.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mereka tidak memiliki kampung seperti muslim asli dan muslim pesisir. Kampungnya di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan seterusnya. Komunitas ketiga ini juga tak bisa berbahasa daerah seperti orang Lamahala atau Lamakera. Bahasanya antara lain: bahasa Jawa, bahasa Betawi, bahasa Padang, dan seterusnya. Komunikasi dengan penduduk lokal, tentu saja, dengan bahasa Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun, berbeda dengan Islam pesisir (WATANEN) yang hanya tinggal di kampung-kampung khusus Islam, muslim pendatang baru ini sangat fleksibel. Mereka bisa tinggal di mana saja: kampung Islam, kampung Katolik, pantai, pegunungan, pelosok, kota. Luar biasa luwes.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dokter Puskesmas (PTT), guru-guru SMA/SMP negeri, tentara, polisi, asal Jawa dikenal sebagai muslim pendatang yang sangat luwes. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Zaman makin maju. Orang Flores merantau ke mana-mana. Sehingga, tentu saja, komposisi masyarakat akan terus berubah, termasuk tiga jenis Islam di Flores&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Meskipun demikian penduduk yang sudah memeluk agama, masih percaya kepada dewa-dewa. Dewa tersebut namanya berlainan di setiap daerah, misalnya di Tetum dikenal dengan nama Hot Esen atau Maromak, di Manggarai dengan nama Mori Kraeng, di Dawan dengan nama Uis Nemo, dan di Sikka dikenal dengan nama Niang Tana Lero Wulan. Di daerah Sabu dewa tertinggi sesuai dengan fungsinya dibagi menjadi tiga yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(1) Deo Wie yaitu Deo pengatur dan pemelihara segala yang diciptakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(2) Deo Weru atau Pamugi yaitu Deo pencipta alam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(3) Deo menggarru yaitu Deo pengatur keturunan makhluk di dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masyarakat daerah Nusa Tenggara Timur juga mengenal makhluk halus yang baik dan bersifat jahat. Makhluk halus yang baik tentu dari nenek moyang antara lain &lt;b style=""&gt;Embu Mamo&lt;/b&gt; di Ende, Naga Golo atau &lt;b style=""&gt;Peo&lt;/b&gt; di Manggarai sedangkan makhluk halus yang bersifat jelek yang merugikan orang seperti &lt;b style=""&gt;Fenggeree&lt;/b&gt; di Ende, Wango Madera Ai di Sabu dan sebagainya. Kepercayaan Dinamisme juga berkembang di Flores yaitu menganggap sesuatu benda mempunyai kekuatan gaib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Walaupun agama sudah masuk ke wilayah ini sejak abad 16 dan 17 dan terus berkembang sampai sekarang namun faktor kepercayaan asli masih belum hilang di kalangan penduduk, terutama yang tinggal di pedalaman. Kepercayaan di daerah ini erat hubungannya dengan kultus pertanian dan arwah nenek moyang. Dengan hubungannya kepercayaan baru dan agama baru di samping kepercayaaan tradisional, sering timbul dulisme, disatu pihak berdasarkan agama yang dianut, di lain pihak didasari kepercayaan tradisional di dalam upacara-upacara yang dilaksanakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1092" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image017.png" title="religi3"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: -4; left: 0px; margin-left: 14px; margin-top: 16px; width: 240px; height: 132px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image018.jpg" shapes="_x0000_s1092" height="132" width="240" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1032" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image019.png" title="religi4"&gt;  &lt;w:wrap type="square" side="right"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image020.jpg" shapes="_x0000_s1032" align="left" height="132" hspace="12" width="250" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;F&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;UPACARA ADAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Upacara adat yang ada di wilayah Nusa Tenggara Timur sangatlah beragam dimana masing-masing suku memiliki caranya masing-masing, upacara adat tersebut terdiri dari upacara perkawinan, upacara menyambut datangnya panen, upacara pemanggilan hujan dan lain-lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Upacara Kelahiran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Kelahiran Pada masa kehamilan di Tetum, merupakan upacara yang bertujuan agar si ibu tetap sehat dan tidak dianggap roh jahat disebut upacara Keti Kebas Metan (mengikat dengan tali benang kitan). Pada peristiwa kelahiran, dukun beranak memegang peranan penting pada peristiwa tersebut ada dua upcara yang penting yaitu pengurusan ari-ari dan pemberian nama bayi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Upacara Menjelang dewasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Masa Remaja Setelah anak menjelang dewasa biasanya diadakan serangkaian upacara yaitu cukuran rambut pada masa anak-anak dan sunat bagi laki dan potong gigi untuk wanita yang biasa disebut Koa Ngll. Koa Ngll merupakan upacara potong gigi massal untuk gadis memasuki usia remaja. Upacara ini menandakan gadis-gadis yang telah mengikuti upacara ini telah dewasa dan boleh dipinang untuk membangun rumah tangga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Upacara Perkawinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Secara umum, dalam prosesi perkawinan, setelah ada pesuntingan kedua belah pihak, dilanjutkan melalui beberapa tahap, yaitu penukaran, pembayaran belis, dan upacara perkawinan itu sendiri. Pada waktu meminang diperlukan petugas peminang yang disebut Wuna (Wunang), di Sabu disebut Mone Opo Li atas Mone dan di dawan. Belis (maskawin) Setelah pinangan diterima dilanjutkan dengan tahap kedua yaitu Belis (maskawin). Hal ini merupakan hal penting dari lembaga perkawinan, karena dianggap sebagai Na Buah Ma An Mone (suatu simbol untuk menyerahkan laki dan perempuan sebagai suami istri). Jenis-jenis Belis meliputi emas, perak, uang dan hewan. Di Flores Timur dan Maumere (Sikka), mas kawinnya berupa Gading Gajah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Pemberian mas kawin berupa gading gajah di Pulau Adonara sekarang ini masih dipraktikkan secara ketat. Tidak ada perkawinan tanpa gading. Batang gading itu tidak hanya memiliki nilai adat, tetapi juga kekerabatan, harga diri perempuan, dan nilai ekonomis yang tinggi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Meski perkembangan ilmu dan teknologi informasi terus merembes sampai ke pelosok-pelosok desa di Pulau Adonara, mas kawin berupa gading gajah tidak pernah hilang dari kehidupan mereka. Kehidupan orang Adonara secara keseluruhan berada dalam suasana adat yang kuat, yang mengikat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Adat istiadat dalam kehidupan masyarakat Adonara (Solor) khususnya dan Flores Timur (Lembata) pada umumnya disebut budaya Lamaholot. Budaya Lamaholot demikian melekat dalam kehidupan masyarakat setempat. Setiap warga Lamaholot juga harus mampu menguasai bahasa daerah Lamaholot dan mengikuti tata krama daerah itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Gading gajah tidak hanya mengikat hubungan perkawinan antara suami-istri, atau antara keluarga perempuan dan keluarga laki-laki, tetapi seluruh kumpulan masyarakat di suatu wilayah. Perkawinan itu memiliki nilai sakral yang meluas, suci, dan bermartabat yang lebih sosialis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Gading gajah merupakan simbol penghargaan tertinggi terhadap pribadi seorang gadis yang hendak dinikahi. Penghargaan atas kepercayaan, kejujuran, ketulusan, dan keramahan yang dimiliki sang gadis. Kesediaan menyerahkan mas kawin gading gajah kepada keluarga wanita pertanda membangun suasana harmonis bagi kehidupan sosial budaya setempat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Meski di Adonara atau Flores Timur tidak memiliki gajah, kaum pria tidak pernah gentar memenuhi pemberian mas kawin gading gajah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Sampai tahun 1970-an, gadis Adonara tidak boleh keluar rumah tanpa perlindungan, pengawalan, dan pengawasan pihak keluarga. Mereka bahkan tidak bisa keluar rumah pada malam hari. Dalam masyarakat Adonara, tidak ada perkawinan tanpa gading. Pernikahan gadis asal Adonara selalu ditandai dengan pembicaraan mas kawin gading gajah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Di masyarakat Adonara dikenal lebih kurang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; jenis gading. Namun, jika sang pria menikahi perempuan yang masih berhubungan darah dengannya, maka dia akan kena denda, yakni memberi tambahan dua jenis gading sehingga totalnya menjadi tujuh jenis gading. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Kelima jenis gading itu adalah, pertama, bala belee (gading besar dan panjang) dengan panjang satu depa orang dewasa. Kedua, bala kelikene (setengah depa sampai pergelangan tangan), kewayane (setengah depa sampai siku), ina umene (setengah depan sampai batas bahu), dan opu lake (setengah depa, persis belah dada tengah). Dua jenis gading tambahan yang biasa dijadikan sebagai denda ukurannya ditentukan sesuai dengan kesepakatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Satuan yang dipakai untuk menentukan besar atau kecil sebatang gading adalah depa yaitu satu depa orang dewasa (rentangan tangan dari ujung jari tengah tangan kiri ke ujung jari tengah tangan kanan). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Juru bicara keluarga biasanya memiliki keterampilan memahami bahasa adat, tata cara pemberian, ungkapan-ungkapan adat, dan bagaimana membuka dan mengakhiri setiap pembicaraan. Tiap-tiap juru bicara harus mengingatkan keluarga wanita atau pria agar tidak melupakan segala hasil kesepakatan bersama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Juru bicara pria bersama orangtua calon pengantin pria selanjutnya mendatangi keluarga wanita. Kedatangan pertama itu untuk menyampaikan niat sang pria menikahi gadis pujaannya. Biasanya pasangan yang saling jatuh hati ini masih memiliki hubungan kekerabatan, yang sering disebut anak om atau tanta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kedekatan hubungan ini memang direstui dan dikehendaki adat, tetapi sering bertentangan dengan hukum agama. Kalau ada kasus-kasus seperti itu, hal tersebut juga dibahas pada saat koda pake, pembahasan resmi mengenai adat perkawinan antara keluarga besar calon pengantin pria dan keluarga besar calon pengantin wanita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Oleh karena itu, kedua pihak juga perlu menentukan waktu pertemuan bersama calon pengantin masing-masing, menanyakan kebenaran dan keseriusan kedua calon pengantin membangun rumah tangga baru. Jika ada pengakuan terbuka di hadapan kedua pihak orangtua, pertemuan akan dilanjutkan ke tingkat keluarga besar dan akhirnya memasuki tahap pembicaraan adat sesungguhnya, koda pake. Pada koda pake itulah disepakati jumlah gading yang dijadikan mas kawin, besar dan panjang gading, serta kapan gading mulai diserahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Penyerahan gading berlangsung pada tahap pai napa. Pada acara ini pihak pria menyerahkan mas kawin berupa gading gajah disertai beberapa babi, kambing, ayam jantan, dan minuman arak. Di sisi lain, pihak wanita menyiapkan anting, gelang dari gading, cincin, rantai mas, serta kain sarung yang berkualitas. Selain itu, perlengkapan dapur, mulai dari alat memasak sampai piring dan sendok makan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Meski tidak dipatok dalam proses pai napa, pemberian dari pihak wanita kepada keluarga pria merupakan suatu kewajiban adat. Perlengkapan dari pihak wanita harus benar-benar disiapkan dan nilainya harus bisa bersaing dengan nilai gading. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Keluarga wanita akan merasa malu dengan sendirinya jika tidak mempersiapkan perlengkapan tersebut, atau nilai dari barang-barang itu tidak seimbang dengan nilai gading, babi, kambing, dan ayam yang disiapkan keluarga pria. Keseimbangan pemberian ini supaya kedua pihak dapat merayakan pesta adat di masing-masing kelompok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Wanita akan menjadi sasaran kemarahan dan emosi keluarga pria jika pihak keluarga wanita tidak menyiapkan "imbalan" sama sekali. Di sinilah biasanya awal kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi, bahkan tidak jarang berakhir dengan perceraian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Belakangan ini dikenal satu istilah gere rero lodo rema, atau gere rema lodo rero. Artinya, gading gajah hanya dibawa siang atau malam hari ke rumah pihak keluarga wanita, dan pada malam atau siang hari dibawa pulang ke pemiliknya. Kehadiran gading itu hanya sebagai simbol, memenuhi tuntutan adat. Pihak wanita tidak harus memiliki gading tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Peristiwa seperti ini sering terjadi kalau sang pria yang menikah dengan gadis Lamaholot adalah orang dari luar lingkungan budaya Lamaholot, seperti Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Bali. Gading dalam bahasa Lamaholot disebut "bala". Saat ini jumlah gading yang beredar di Pulau Adonara, menurut Corebima, sekitar 30 batang. Gading makin langka karena banyak pengumpul gading dari luar Flores membeli dari Adonara. Harga satu batang gading di pasaran Rp 5 juta-Rp 50 juta, tergantung dari besar (panjang)-nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Di Adonara Timur, terdapat satu batang gading dengan lima cabang. Gading itu dinilai keramat. Setiap tahun harus dibuatkan upacara adat, yakni memandikan dan memberi makan minum kepada gading tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Gading seperti itu merupakan simbol kehadiran nenek moyang, sumber kehidupan, kekayaan, dan kesempurnaan hidup, karena itu harus dihormati. Pada malam hari, gading tersebut bahkan dipercaya bisa bercahaya, berbicara, dan bertunas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Mengapa gading menjadi mas kawin utama di Adonara, versinya beragam. Ernst Vatter dalam buku Ata Kiwang (1563) mengemukakan, sebelum menggunakan gading, perkawinan di Pulau Solor dan Alor mirip dengan membeli seorang gadis. Pengantin pria harus membeli pengantin wanita dengan sejumlah uang Belanda dan budak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Setelah belis terbayar semua, lalu diadakan upacara perkawinan, yang di rate disebut Natu Du Sasaok (terang kampung) pada malam biasanya diadakan upacara Nasasu Kak, keduan tidur bersama diatas rumah yang dihiasi dengan selimut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berikut ini kami sajikan beberapa upacara adat perkawinan dari beberapa daerah antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Wanita dan Perkawinan di Fores Timur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Kehidupan wanita dalam adat istiadat Lamaholot sangat tinggi nilainya. &lt;span style="" lang="ES"&gt;Wanita merupakan pusat kehidupan masyarakat karena itu harus diperhatikan oleh yang mengelilinginya. Nilai seorang wanita pada mas kawin yang dikonkritkan dalam jumlah dan ukuran gading gajah yang sulit diperoleh.  &lt;/span&gt;Jenis perkawinan yang sampai saat ini masih dilaksakan ialah:&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Perkawinan biasa atau perkawinan Gete daha/pana gete. Perkawinan didahului dengan peminangan resmi oleh klen penerima wanita terhadap klen pemberi wanita dengan urutan-urutan tata cara menurut adat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Perkawinan Bote kebarek, di Adonara ialah Lakang yaitu perkawinan meminang anak dari kecil (dijodohkan sebagai istri rumah/bandingkan dengan di Alor) jadi wanita pada usia 6 tahun dihantar kerumah laki-laki untuk dipelihara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kawin lari karena tidak disetujui oleh kedua belah pihak keluarga. Sang wanita memutuskan untuk lari meninggalkan rumah orang tua, atau gadis atau lari kerumah laki-laki, kemudian urus perkawinannya. Jika ini terjadi, biasanya klen penerima wanita harus menambah nilai tutup malu atas kejadian itu kepada keluarga wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Loa wae menaate. Perkawinan diadakan karena wanita telah hamil sebelum urusan selesai. Jika terjadi tetap didahului dengan pinangan, belis dibayar juga satuan nilai tutup malu atas kejadian itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Liwu/Dopo keropong cara untuk menghantar pria ke rumah wanita, ini terjadi pada perkawinan Lela di Adonara, dimana kawin lebih dahulu baru kemudian baru bayar belisnya. Perkawinan cara ini sering dibayar kepada kerabat sendiri/saling utang-piutang dalam klen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Liwu weki atau Dekip kenube atau lelaki serobot kerumah gadis, sehingga dengan cara agak mendesak orang tua wanita menyerahkan anak gadisnya dalam tangan lelaki. Cara ini juga terjadi di Sikka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kawin Beneng, dengan menawarkan anak gadis melalui usaha memperkenalkannya ke desa-desa yang jauh agar mendapatkan jodoh, dengan demikian orang tua dapat memperoleh belis yang wajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kawin Bukang, bentuk perkawinan levirat, berlaku anggapan bahwa sang istri setelah perkawinannya menjadi milik suku, sehingga kalau suami meninggal istri dapat dinikahi oleh saudara lelaki kandung atau juga dalam suku yang sama dengan suami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Perkawinan Wua gelu, merupakan perkawinan yang dilakukan timbal balik antara dua klen. Klen yang satu ditetapkan menjadi klen pemberi wanita dan klen yang lain menjadi klen penerima wanita. Jenis perkawinan ini sangat ekonomis, karena mas kawin berputar dalam klen itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Cara Bluwo, perkawinan yang dilakukan oleh seorang pria beristri dengan seorang  gadis, ini terjadi secara terpaksa karena wanita sudah hamil supaya jelas bapak dari anak yang dikandungnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Wanita dan Adat Perkawinan di Sikka&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Urusan perkawinan antara pria dan wanita merupakan pertalian yang tidak dapat dilepaskan. Hubungan yang menyatu itu terlukis dalam ungkapan Ea Daa Ribang, Nopok, Tinu daa koli tokar (Pertalian kekrabatan antara kedua belah pihak akan berlangsung terus menerus dengan saling memberi dan menerima sampai kepada turun temurun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Norma-norma yang mengatur perkawinan ini dalam bahasa hukum adat yang disebut Naruk dua - moang dan kleteng latar yang tinggi nilai budayanya. Ungkapannya antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dua naha nora ling, nora weling&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Loning dua utang ling labu weling&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Dadi ata lai naha letto wotter&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Artinya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Setiap wanita mempunyai nilai, punyai harga, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;sedangkan sarung dan bajunya juga mempunyai nilai dan harga, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;sehingga setiap lelaki harus membayar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Ine io me tondo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Ame io paga saga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Ine io kando naggo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Ame io pake pawe&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Artinya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Ibulah yang memelihara dan membesarkannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ayah yang menjaga dan mendewasakannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dan ibu pula yang memberikannya perhiasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ayah memberikannya sandang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ungkapan ini memberi keyakinan bahwa martabat wanita sangat dihargai, oleh karena itu maka pihak klen penerima wanita Ata lai harus membayar sejumlah belis kepada klen pemberi wanita ata dua sesudah itu baru dinyatakan perkawinan seluruh prosesnya syah. Di Sikka /Krowe umumnya bentuk perkawinan adalah patrilinial, sedangkan yang matrilinial hanya terjadi di wilayah suku Tanah Ai di kecamatan Talibura.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Tahap-tahap perkawinan dapat dilakukan seraya memperhatikan incest dan perkawinan yang tidak dilarang itu maka ditempulah beberapa tahapan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Masa pertunangan, semua insiatif harus datang dari pihak laki-laki, kalau datang dari pihak wanita maka selalu disebut dengan unkapan waang tota jarang atau rumput cari kuda atau tea winet (menjual anak/saudari). Seorang gadis dibelis dalam 6 bagian: &lt;b&gt;Kila&lt;/b&gt;, belis cicin kawin; &lt;b&gt;Djarang sakang&lt;/b&gt;, (pemberian kuda); &lt;b&gt;wua taa wa gete&lt;/b&gt;, bagian belis yang paling besar dan mahal; &lt;b&gt;inat rakong&lt;/b&gt;, belis lelah untuk mama; &lt;b&gt;bala lubung&lt;/b&gt;, untuk nenek; &lt;b&gt;ngororemang&lt;/b&gt; (mereka yang menyiapkan pesta).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Perkawinan, sebelum abad 16 di desa Sikka/Lela perkawinan biasanya hanya diresmikan di Balai oleh raja atau pun kadang-kadang di rumah wanita, setelah semuanya sudah siap maka acara perkawinan ditandai dengan mendengar kata-kata pelantikan dari raja, wawi api - ara pranggang, kata-kata yang diucapkan adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Ena tei au wotik weli miu, hari ini ku beri kamu makan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;wawi api ara pranggang, daging rebus dan nasi masak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;miu ruang dadi baa nora, jadikanlah kamu istri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;lai, dan suami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;lihang baa nora lading, dan terikatan seluruh keluarga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;gae weu (eung) miu ara, makanlah kamu nasi ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;pranggang, agar menjadikan istri dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;dadi baa wai nora lali, suami minulah saus daging&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;minu eung wawi api, ini agar eratlah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.25in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;genang lihang nora ladang, seluruh keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.5in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Ucapan itu diiringi penyuapan daging dan sesuap nasi oleh tuan tanah/raja kepada kedua mempelai. Pada waktu masuk agama Katolik, maka ungkapan-ungkapan di atas tetap dipakai namun proses penikahan sesuai dengan aturan agama Katolik dan diberkati oleh Pastor. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ada beberapa tahap dari acara perkawinan secara adat Sikka/Krowe:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kela narang, pendaftaran nama calon pengantin di kantor Paroki yang dihantar oleh orang tua masing-masing bersama dengan keluarga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;A Wija/A Pleba, keluarga ata lai melaukan kegiatan mengumpulkan mas kawin secara bersama-sama dengan keluarga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Di pihak ata dua terjadi pengumpulan bahan-bahan pesta untuk membuat sejenis kue tradisional yaitu bolo pagar dan mendirikan tenda pesta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sebelum ke gereja keluarga berkumpul di rumah mempalai wanita. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Keluarga penerima wanita atau ata lai bertugas menjaga kamar pengatin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tung/tama ola uneng, acara masuk kamar pengantin jam 21.00-22.00 malam diiringi kedua ipar masing-masing. Pengatin pria/wanita di hantar ke kamar oleh Age gete dengan nasehat kalau sudah ada di kamar bicara perlahan-lahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Weha bunga sekitar jam 05.00 pagi para pengawal kamar pengantin, ae gete dari Keluarga ata lai menaburkan bunga pada kamar pengantin sebagai lambang harum semerbak bagi kedua pengantin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perkawinan Adat Masyarakat Ende&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Proses perkawinan pada masyarakat Ende ada beberapa tahap yang harus dilalui yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Mbane ale, proses melamar oleh seorang pandai bicara dari utusan keluarga laki-laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ruti nata, proses peminangan secara resmi oleh keluarga laki-laki di rumah calon mempelai wanita. Pada acara ini keluarga laki-laki  membawa ruu tau jaga tau rate, oleh orang Lio umumnya menyebutkan sebagai bagian belis pertama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Tu ngawu, mengantar belis yang telah disepakati bersama ke rumah keluarga calon mempelai wanita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ka are denge, pria memasuki memasuki rumah orang tua perempuan dihantar oleh keluarga laki-laki untuk pengaturan perkawinannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pernikahan dimulai dengan antaran yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Weli weki, pembayaran untuk harga diri calon pengantin perempuan berupa &lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt; Liwut yaitu (gumpalan) mas, dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ekor hewan besar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Buku berupa balas jasa atau buku taga merupakan  pembayaran untuk mama kandung perempuan berupa seliwu seeko, selimut mas dan seekor binatang besar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Buku ame kao, pembayaran untuk bapak calon pengantin perempuan berupa mas dan seekor binatang besar.  &lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Bayar belis untuk ata godo orang yang dulu membayar belis mamanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Belis untuk puu kamu atau om kandung berupa hewan besar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ame ona dan ame loo yaitu belis untuk bapak besar dan bapak kecil.  &lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Terkhir belis untuk &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;nara&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; saudara kandung gadis disebut jara saka tumba sau dalam Binatang dan uang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Perkawinan Adat Masyarakat Ngada&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Perkawinan di wilayah kabupaten Ngada berbentuk patriachat (Nagekeo, Soa, dan Riung, sebagian masyarakat Ngada di Todabelu). Perkawinan ini dilakuakan tanpa belis, seluruh biaya perkawinan ditnaggung oleh klen perempuan, pola pemukiman pasca nikah pun dirumah wanita karena yang akan mewarisi harta kekayaan klennya, apalagi kalau cuma satu-satu putri tunggal. &lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Perkawinan patriachat selalu didahului oleh peminangan bere tere/nio manu/idi weti, masuk minta. Masuk minta dilakukan oleh klen laki-laki ditemani bibinya membawa tempat siri pinang atau kepe oka. Acara ini biasanya dilakukan pada saat pesta reba, puru witu. Jika hantaran kepe oka ditolak oleh klen wanita artinya lamarannya ditolak. Seluruh rangkaian acara pinangan disebut Beret ere oka pale, bheku mebhu tana tigi, idi tua manu. Sistim perkawinannya antara lain:&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Kawin masuk&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kawin masuk, Perkawinan ini dapat dikatakan menganut prinsip matrilinial.&lt;br /&gt;dengan alasan utama anak wanita satu-satunya sebagai pewaris kekayaan&lt;br /&gt;keluarga. Kawin masuk disebut dora rai manu atau kawo api maata pengura-&lt;br /&gt;pan dengan dara ayam. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; anggapan sementara orang bahwa kawin masuk&lt;br /&gt;sebenarnya laki-laki diperbudak oleh perempuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Kawin keluar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kawin keluar, jenis ini dinamai weli (belis) sehingga hak perempuan berpindah&lt;br /&gt;ke rumah suami. Hal ini terjadi di Nagekeo, Riung. Untuk kesatuan adapt Ngada&lt;br /&gt;hanya di dua desa kecil yaitu Feo dan Soa. Pada sistim ini muncul juga bentuk&lt;br /&gt;balas jasa untuk keluarga wanita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Perkawinan adat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kawin adat, adalah suatu bentuk perkawinan yang bias disebut terang kampong.&lt;br /&gt;Perkawinan ini dinyatakan syah apabila disertai acara zera (peresmian adat).&lt;br /&gt;Yang dalam adat Nagekeo ialah beo sao atau teo tada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Perkawian berdasarkan atas kasta&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perkawian berdasarkan pelapisan social, jenis perkawinan semacam ini terlarang&lt;br /&gt;sekali seorang gadis dari tingkat atau golongan gae (golongan bangsawan) kawin&lt;br /&gt;dengan laki-laki dari golongan yang bukan gae. Sebaliknya dari pemuda golongan gae dapat menikah dengan wanita dari golongan yang bukan gae, tetapi keturunan dari perkwinan ini tidak tergolong dalam kedudukan social dari sang ayah, melain &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; lebih rendah dari sang ayah. Kejadian perkawianan laki-laki kasta bawah de ngan wanita kasta atas disebut laa sala page leko, sehingga harus dihukum dan di usir keluar kampung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Perkawinan atas dasar keturunan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perkawinan menurut keturunan, disebut perkawinan yang berdasarkan sepupu (anak om dan tante).&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Perkawinan Adat Masyarakat Manggarai&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perkawinan yang paling umum dilakukan oleh sebagian besar masyarakat pedesaan di Manggarai adalah perkawinan akibat pacar-pacaran antara pemuda-pemudi. Kalau antara pemuda-pemudi sudah ada pengertian dan persetujuan untuk hidup bersama sebagai suami-isteri, maka keluarga si pemuda melamar &lt;i style=""&gt;(cangkang)&lt;/i&gt; pada keluraga si gadis. Dalam hal itu keluarga si gadis biasanya akan meminta suatu mas kawin (paca) yang tinggi dengan sejumlah kerbau dan kuda; sedangkan mereka akan juga memberi kepada si keluarga pemuda sebagai imbalan suatu pemberian yang besar juga. Hubungan yang terjadi antara keluarga yang seperti itu, ialah antara keluarga pihak pemuda sebagai penerima gadis (anak wina) dan pihak pemuda sebagai pemberi gadis(anak rona) adalah biasanya amat formil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Suatu perkawinan adat yang banyak terjadi terutama di antara orang bangsawan , tetapi sring juga di antara orang biasa, adalah perkawinan yang sudah ditentukan dahulu oleh orang tua. Di dalam hal mencarikan jodoh untuk anaknya orang akan selalu mencari seorang jodoh yang menurut adat merupakan perkawinan yang paling ideal bagi seorang Manggarai, ialah perkawinan dengan seorang anak wanita saudara pria ibu. Perkawinan ini disebut perkawinan &lt;i style=""&gt;tungku&lt;/i&gt;. Pada perkawinan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tungku biasanya tidak dibutuhkan suatu paca yang besar. Mas kawin itu biasa yang dianggap sebagai syarat proforma saja. Hubungan antara anak wina dan anak ronad di dalam hal ini juga bersifat amat bebas seperti antara adik dan kakak saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Suatu bentuk perkawinan lain yang juga sering dilakukan oleh pemuda-pemuda yang tidak mau atau tidak mampu membayar mas kawin yang tinggi adalah kawin lari atau kawin &lt;i style=""&gt;roko &lt;/i&gt;dilakukan dengan pengertian antar kedua belah pihak, sebagai syarat adat atau sebagai perbutan pura-pura untuk menutup rasa malu atau rasa canggung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi keluarga yang tidak mampu membayar paca tinggi. Walaupun demikian sampai sekarang masih ada juga perkawinan roko yang tidak dilakukan sebagai perbuatan pura-pura atau untuk syarat saja, tetapi sebagai kawin lari yang sungguh-sungguh, karena pihak si gadis tidak menyetuju dengan perkawinannya. Dalam pada itu ada anggapan bahwa kemarahan dari pihak si gadis sudah reda dan bahwa mereka sanggup untuk menerima ucapan maaf dan sekalian menerima permintaan lamaran dari pihak keluarga si pemuda. Walaupun pada perundingan yang terjadi pihak keluarga si gadis untuk menahan harga diri, tetap minta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;paca yang sangat tinggi, dalam hal iti toh tidak dipenuhi, karena dalam kenyataan si pemuda toh sudah hidup di antara keluarga si pemuda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang pemuda yang tidak mampu membayar mas kawin, sering juga melakukan cara lain untuk tetap bisa mengawini gadis idamannya, ialah dengan cara bekerja pada orang tua gadis untuk suatu jangka waktu tertentu. Bentuk perkawinan ini di Manggarai disebut perkawinan duluk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perkawinan adat lain yang tidak sering terjadi adalah perkawina levirat. Dalam hal itu seorang diminta mengawini janda dari adik atau kakak laki-lakinya yang meninggal. Perkawinan levirat atau perkawinan liwi dalam bahasa Manggarai, tidak membutuhkan syarat paca. Sebaliknya perkawinan sororat, atau timu lalo dalam bahasa Manggarai, membutuhkan prosedur lamaran yang baru dengan syarat paca yang juga tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Adat menetap sesudah niakah Manggarai pada khususnya dan di flores pada umumnya, adalah virilokal. Adapun poligini merupakan suatu gejala yang jarang di flores, apalagi sekarang, karena suatu persentase besar dari penduduk Flores beragama Katolik. Juga pada khususnya di Manggarai poligini dulu hanya dilakukan oleh beberapa keluarga orang bangsawan, tetapi jarang oleh penduduk pada umumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Secara garis besar di Manggarai dikenal beberapa jenis perkawinan antara lain:&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perkawinan antar pelapisan social tingkat atas didasarkan atas kesepakatan orang tua untuk melanjutkan kekuasaan. Besarnya belis tidak merupakan lambang pemabayaran wanita tetapi penghargan kepada orang tua wanita yang telah membesarkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perkawian pelapisan menengah, biasanya diputuskan oleh pemuda dan pemudi itu sendiri tanpa (kadang-kadang) mengikuti sertakan orang tua dalam pemilihan jodoh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perkawinan tungku salang, perkawinan yang terjadi karena memiliki hubungan dara misalnya anak laki-laki dari tante dapat dinikahkan dengan anak perempuan dari om&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perkawian tungku kala adalah jenis perkawinan yang dilakukan tidak berdasarkan hu bungan dara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perkawinan silih tikar ganti tikar ialah jenis perkawinan sororat dan levirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Proses perkawinan bagi orang Manggarai pada umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahap perkenalan yang disebut dengan toto, maka keluarga laki-laki berkumpul untuk mempersiapkan untuk meminang gadis. &lt;/span&gt;Perempuan yang menentukan pokok-pokok pembicaraan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tei hang ende agu ema (persemabahan), ada satu kebiasaan malam menjelang pemina ngan diadakan upacara persembahan kepada nenek moyang agar diberkati perjalanan hidup mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Taeng, peminangan dilakukan melalui tongka juru bicara masing-masing, dilanjutkan dengan pemberian belis sebagai tanda ikatan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Nempung, umber, merupakan acara perkawinan pihak keluarga laki-laki menghantar seluruh belis yang diminta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="bigtitle1"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="bigtitle1"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Upacara Kematian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Upacara Kematian Menurut kepercayaan mereka kematian adalah berpindahnya dari dunia ramai kekehidupan gaib. Untuk pesta kematian ini dikorbankan sajian berpuluh-puluh ekor sapi, kerbau dan babi Rangkaian upacara meliputi beberapa tahap : Adat meratap, yaitu menangis dimuka mayat yang dilakukan oleh wanita. Adat memakan mayat, yaitu memakan mayat selama beberapa hari sebelum dikubur. Merawat mayat, sebelum dikubur mayat dimandikan terlebih dahulu, kemudian diberi pakaian yang bagus atau pakaian kebesaran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Upacara waktu penguburan, tempatnya didekat rumah, untuk laki disebelah barat dan perempuan disebelah timur. Upacara setelah penguburan, malam harinya diadakan pesta besar-besaran dengan membunyikan bunyi-bunyian dan tari-tarian.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="bigtitle1"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="bigtitle1"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="bigtitle1"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Upacara Pembangunan Rumah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Dalam melaksanakan pembangunan rumah adat, pertama kali akan dilakukan musyawarah yang dipimpin oleh tetua adat untuk memperoleh kesepakatan. Sehari sebelum upacara pembangunan rumah dimulai, masyarakat melangsungkan upacara Maalaba yaitu penghormatan kepada tetua adat yang nantinya akan berperan dalam proses pembangunan rumah. Upacara ini dilanjutkan dengan acara makan bersama. &lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Dalam pelaksanaan upacara dipersiapkan terlebih dahulu sesajian yang terdiri atas pisang, tebu, dan seekor anak babi. Selanjutnya anak babi ditusuk dengan benda tajam dan darahnya ditampung dalam wadah. Darah tersebut kemudian dipercikan kepada bagian-bagian rumah agar roh-roh leluhur memberkati pembangunannya dan mengusir roh-roh yang jahat. Anak babi kemudian disembelih dan bagian-bagiannya diberikan kepada tetua adat untuk diperiksa apakah terdapat tanda-tanda boleh atau tidaknya pembangunan rumah diteruskan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1036" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:270pt;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image021.jpg" title="atap_"&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image022.jpg" shapes="_x0000_s1036" align="left" height="175" hspace="10" vspace="5" width="192" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Setelah dinyatakan boleh, kemudian anak babi tersebut dikuliti, dimasak dengan cara dibakar. Upacara dilanjutkan dengan acara makan bersama sambil minum tuak. Dalam acara doa bersama, mereka berharap mendapatkan restu dan petunjuk agar berhasil dalam membangun rumah mereka. Dalam bentuknya lebih miniatur, simbol bhaga atau ngadu dapat dilihat pada atap rumah yang berstatus "rumah adat".&lt;/p&gt;  &lt;p class="teks" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="bigtitle1"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="bigtitle1"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Upacara Penutupan Bulan Maria&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam upacara ini tampak patung Bunda Maria diarak di atas perahu kecil yang dipikul empat orang diiringi doa Rosario dan tarian khas &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; menuju gereja. Sebelum memasuki gereja, arak-arakan berhenti sejenak di tiap kabupaten, seperti Kabupaten Flores Timur, Ende, Bajawa, Manggarai, dan Maumere. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Ini sebagai simbol umat yang disatukan oleh Tuhan dengan perantara Bunda Maria. Prosesi seperti ini biasa dilakukan umat Katolik di NTT. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah diletakkan di atas altar, patung Bunda Maria mendapat penghormatan terakhir. Permohonan dari perwakilan beragam etnis disampaikan sebagai wujud persatuan dalam Bhinneka Tunggal Ika. Bulan Maria biasanya diperingati tiap Oktober. Pada awal dan akhir bulan biasanya diselenggarakan upacara Bulan Maria oleh tiap umat Katolik di penjuru dunia. Berdasarkan tradisi gereja, bulan tersebut memang dikhususkan untuk menghormati Maria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Upacara Adat di Sampar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Upacara ini dilakukan di desa Sampar yang berkaitan dengan perayaan atas selesainya rumah adat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang baru yang juga bentuknya diilhami oleh sarang laba-laba. Perayaan ini dimeriahkan dengan Permainan kesenian yang disebut Caci, di mana 2 orang laki-laki akan saling berhadapan, seorang dengan senjata cambuk dari kulit kerbau akan berusaha memukul lawannya yang akan bertahan dengan menangkis menggunakan sebuah tameng kulit dan sebuah tongkat rotan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Pukulan hanya dibolehkan sekali dan kemudian ganti posisi, si pemukul akan berganti menjadi pihak yang bertahan dan sebaliknya, laki-laki yang tadi bertahan sekarang menggenggam cambuk kulit. Jarang sekali cambukan tersebut mengena karena kelihaian mengkis, tapi sekali kena, cukup bikin kulit peserta robek. Permainan ini diikuti oleh 2 kelompok dengan pemain yang bergantian maju tampil ke gelanggang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Upacara Iyegerek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="Image9_img" spid="_x0000_s1035" type="#_x0000_t75" alt="Lamalera" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-121 0 -121 21510 21600 21510 21600 0 -121 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image023.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\foto2nya%20bagus_files\lamalera4.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image024.jpg" alt="Lamalera" shapes="Image9_img" align="left" height="198" hspace="12" width="216" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Lamalera, berhadapan dengan Laut Sawu, merupakan jalur migrasi paus. Dari 30 jenis cetacean–nama kolektif paus dan lumba-lumba di Indonesia– 14 spesies di antaranya bermigrasi melewati Sawu, yang memiliki palung. Termasuk di antaranya adalah paus biru dan paus sperm yang langka dan paus orca, yang oleh masyarakat setempat disebut menyebutnya seguni.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Potensi ikan di Laut Sawu memang menjanjikan. Data Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Perikanan Laut 1999 menyebutkan Sawu memiliki potensi ikan sebanyak 388 metrik ton per tahun. Potensi itu terdiri dari ikan pelagis besar dan kecil, ikan demersal, udang, kepiting, dan cumi-cumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Warga Lamalera, dikenal sebagai pemburu paus yang tangguh, memilih sperm sebagai buruannya. Paus hasil buruan, menurut adat, dibagikan kepada sejumlah warga. Terutama kepada tuan tanah, lamafa (juru tikam), rumah adat, matros (anak buah kapal), dan pemilik perahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="Image10_img" spid="_x0000_s1033" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" wrapcoords="-90 0 -90 21431 21600 21431 21600 0 -90 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image025.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\foto2nya%20bagus_files\lamalera1.JPG"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image026.jpg" shapes="Image10_img" align="left" height="140" hspace="12" width="240" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Lamalera terbagi menjadi dua desa, yaitu Lamalera A (Atas), dan Lamalera B (Bawah). Masing-masing desa memiliki tuan tanah. Tuan tanah adalah keturunan orang yang pertama kali datang ke Lamalera.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sehingga merekalah pemilik tanah seluruh desa. Sedangkan daging paus ditukar dengan barang kebutuhan sehari-hari. Seukuran telapak tangan orang dewasa, misalnya, bisa ditukar dengan sebatang rokok.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Begitu tersiar kabar paus ditangkap, berbondong-bondong orang gunung yang pekerjaannya bertani turun ke pantai. Mereka membawa hasil bumi berupa ubi dan jagung untuk ditukar dengan daging paus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Daging paus yang tersisa dikeringkan dan disimpan. Ia merupakan urat nadi kehidupan Lamalera. Karena itu, setiap awal musim turun ke laut (lefa), masyarakat melakukan upacara adat yang disebut iyegerek. Tujuannya untuk memanggil ikan di laut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="Image11_img" spid="_x0000_s1034" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" wrapcoords="-90 0 -90 21480 21600 21480 21600 0 -90 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image027.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\foto2nya%20bagus_files\lamalera2.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image028.jpg" shapes="Image11_img" align="left" height="173" hspace="12" width="276" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Upacara ini dimulai dari “batu paus” di atas gunung. Untuk mencapai batu paus dibutuhkan dua jam perjalanan kaki. Upacara dipimpin Gabriel Fujon, dari klan tuan tanah Langofujo. Pesertanya enam orang, dua menenteng tombak, dan empat lainnya mengikuti dengan ikat kepala daun turi. Di batu paus mereka memecah telur sambil merapalkan mantra. Kemudian mereka turun dari gunung menuju laut, dan tidak boleh menoleh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Dalam perjalanan, mereka mampir ke rumah adat Fujon. Di sini mereka makan sirih pinang sembari menenggak tuak. Setelah itu mereka menuju laut. Sebelum ke laut rombongan itu mampir ke rumah adat Bataona, 50 meter dari pantai. Mereka kembali makan sirih dan menenggak tuak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Perjalanan dilanjutkan ke laut. Empat orang bermahkota daun turi menceburkan diri ke laut, sebagai ritual memanggil ikan. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara dua orang pemegang tombak menanti di pantai. Upacara berakhir ketika empat orang itu mentas dari laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah upacara iyegerek, mereka menggelar misa arwah pada sore harinya. Selama perayaan misa arwah, nelayan pantang melaut. Misa dilaksanakan di pantai, di depan Kapel Santo Petrus. Upacara dipimpin Pastor Jacobus Dawan. Pada sore hari masyarakat berkumpul memperingati arwah nelayan yang telah berjuang selama hidupnya demi kebutuhan keluarga. Pastor Yacobus membuka misa arwah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah serangkaian acara, misa ditutup dengan doa khusus untuk arwah. Masyarakat Lamalera percaya, jika jenazah mereka yang hilang tidak diperhatikan maka arwahnya akan marah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk meredam kemarahan arwah, maka dilakukan penguburan kerang besar sebagai pengganti. Dan juga dikirim doa lewat misa arwah di depan Kapel Santo Petrus. Kapel di pantai itu, menurut Pastor Jacobus, dibangun agar nelayan selalu ingat dengan Santo Petrus sebelum melaut. Santo Petrus adalah pelindung masyarakat Lamalera. Dia murid Yesus yang pekerjaannya nelayan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di depan kapel itu pula, setiap 1 Mei digelar misa lefa. Misa ini menandai musim turun ke laut. Upacara ini juga dipimpin Pastor Jacobus Dawan. Ia membeberkan kisah Santo Petrus, yang tidak mendapatkan ikan saat melaut. Upaca berlanjut dengan pemberkatan laut dan perahu. Pastor memercikkan air pada peledang Praso Sapang. Usai diberkati, peledang didorong ke laut. Layar yang terbuat dari daun pandan dikembangkan. Musim lefa resmi dibuka. Selanjutnya pastor memberkati 18 peledang yang tertambat di pantai satu per satu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sejak itu, masyarakat selalu mengawasi Laut Sawu. Jika mereka melihat semburan paus, maka mereka akan berteriak “baleo, baleo…” bersahut-sahutan di seantero desa. Peledang pun segera didorong ke laut untuk mengejar raksasa samudra itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam perburuan hari pertama, pada 2 Mei, mereka mendapat tiga ekor paus. Hasil itu mengakhiri masa paceklik selama dua tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penting untuk memberikan pengertian pada masyarakat untuk melestarikan paus. Caranya dengan memberdayakan tokoh-tokoh masyarakat agar memberikan penyadaran. Misalnya, ditetapkan tahun ini jatah paus yang boleh diburu empat ekor dengan panjang minimal 15 meter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Paus dengan panjang lebih dari 15 meter adalah yang tua. Sehingga tidak produktif lagi. Karena itu bisa diburu untuk dikonsumsi. Jika yang diburu yang muda, apalagi yang sedang hamil, maka akan mengganggu kelestarian paus. Paus itu beranak setahun sekali, dan anaknya cuma satu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena itulah, kearifan lokal sangat penting untuk menjaga paus. Misalnya, masyarakat Lamalera pantang memburu paus biru. Menurut ceritanya, karena pernah menolong orang. Pernah suatu ketika, ada yang nekat menangkap paus biru. Dagingnya tidak laku dibarter. Ibu-ibu melarang peralatan dapurnya digunakan memasak daging paus biru. Namun setelah dicampur dengan daging paus lainnya baru laku dijual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Paus biru &lt;i style=""&gt;(Balaenoptera musculus)&lt;/i&gt; adalah binatang terbesar di dunia. Beratnya mencapai 130 ton –hampir sama dengan 30 ekor gajah atau 1.600 manusia. Panjangnya bisa mencapai lebih dari 30 meter. Paus biru dilindungi sejak 1967.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nelayan Lamalera sangat mudah membedakan paus biru dengan sperm. Paus biru semburannya lurus ke atas. Sedangkan sperm tidak. Jadi, meskipun menjadi area berburu paus, Laut Sawu bisa menjadi surga bagi paus biru yang tidak bergigi itu. Paus biru memiliki jumbai-jumbai rambut atau baleen sebagai pengganti gigi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Takung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Takung (persembahan), yakni upacara persembahan hewan kurban bagi penunggu tanah agar memperlihatkan arwah para korban. Selain itu meminta kepada arwah korban untuk memperlihatkan dirinya agar mereka bisa dikuburkan sesuai adat. Upacara adapt ini dilakukan dengan menyembelih seekor kambing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Upacara Giit Mendong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Inti upacara adat yang sering dilaksanakan dalam setiap perayaan kemasyarakatan di Kabupaten Sikka ini, yakni meminta kehadiran arwah nenek moyang masyarakat Sikka untuk merestui setiap perayaan yang dilakukan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;span style=""&gt;11.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Tradisi Megalitik di Flores&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Pulau Flores yang terdiri dari berbagai suku bangsa, mempunyai kekayaan sejarah dan budaya yang tinggi. Daerah ini menjadi obyek penelitian yang menarik bagi para etnolog dan arkeolog. Pulau Flores dan pulau-pulau kecil disekitarnya mulai dari ujung barat sampai ujung timur mengandung peninggala-peninggalan baik yang berujud budaya materil maupun nilai-nilai tradisi yang berakar sejak zaman dulu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Salah satu tradisi yang masih berakar kuat dan menonjol dalam sistem perilaku budaya sehari-hari adalah tradisi megalitik di beberapa sub etnis &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt;. Misalnya, tradisi mendirikan dan memelihara bangunan-bangunan pemujaan bagi arwah leluhur. Dalam buku, "Aneka Ragam Khasanah Budaya IV" yang dikeluarkan Dirjen Dikti tahun 2000 ditulis bahwa tradisi pendirian bangunan megalitik sebagai ujud penghormatan (kultus) terhadap para leluhur dan arwahnya berawal sejak sekitar 2500 - 3000 tahun lalu dan sebagian diantaranya masih berlangsung sampai sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Dampak pendirian monumen-monumen tradisi megalitik itu tradisi megalitik itu begitu luas mencakup aspek simbolisme, pandangan terhadap kosmos (jagat raya), asal mula kejadian manusia, binatang dan sebagainya. Upacara doa dan mantra, serta berbagai media untuk mengekspresikan simbol-simbol secara fisik dalam kebersamaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Tradisi megalitik yang berkembang di Pulau Flores awal pemunculannya, tampak pada sisa-sisa peninggalan seperti rancang rumah adat dan monumen-monumen pemujaan terhadap arwah leluhur, termasuk seni ragam hiasnya. Tampak juga pada upacara pemujaan termasuk prosesi doa mantra, pakaian, pelaku seni, seni suara dan tari serta perlengkapan-perlengkapan upacara &lt;i style=""&gt;(ubarampe)&lt;/i&gt; dan sebagainya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Tradisi megalitik pun tampak pada tata ruang, fungsi, konstruksi serta struktur bangunan. Tak ketinggalan pada upacara siklus hidup mulai dari lahir, inisiasi, perkawinan dan pola menetap setelah perkawinan dan kematian, penguburan serta perkabungan. Sudah tentu juga berkaitan dengan upacara untuk mencari mata pencarian, seperti pembukaan lahan, penebaran benih, panen, berburuan, pengolahan logam dan sebagainya, serta pembuatan benda-benda gerabah, tenun dan senjata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="12" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Nyale&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1038" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;margin-left:222pt;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image029.jpg" title="a_050418_pasola03"&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image030.jpg" shapes="_x0000_s1038" align="left" height="156" width="264" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1039" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;margin-left:6pt;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image031.jpg" title="a_050418_pasola04"&gt;  &lt;w:wrap type="square"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image032.jpg" shapes="_x0000_s1039" align="left" height="156" width="208" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Masyarakat Wanukaka yang menyelenggarakan nyale ini di awal bulan Maret, telah melakukan berbagai macam ritual dari jauh-jauh hari. Salah satunya dilakukan di rumah masing-masing, malam sebelum nyale.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Potong ayam dan membuat ketupat, salah satu ritual yang wajib dilaksanakan masyarakat Wanukaka. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Seperti juga di salah satu rumah warga Kampung Ubu Bewi ini. Sebab ritual ini erat kaitannya dengan kegiatan Pasola. Sebagai pertanda, untuk melihat baik dan buruknya nasib seseorang yang akan ikut dalam Pasola. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Sang pemimpin adat atau rato melihat hasil olahan ayam dan ketupat. Apabila ayam panggang masih mengeluarkan darah dari ususnya, dan ketupat yang telah masak, ada yang berwarna merah, atau kecoklatan, maka diyakini ini merupakan pertanda buruk. Yakni anggota keluarga yang ikut Pasola, akan mendapat bahaya, seperti menderita luka-luka, atau bahkan meninggal dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Ketika malam semakin larut, para rato dari Suku Ubu Bewi, yang bertugas mengamati munculnya bulan purnama, segera bersiap-siap memakai pakaian kebesaran rato. Atau dalam bahasa Wanukaka disebut rowa rato, untuk berdoa diatas batu kubur, menghadap ke arah bulan purnama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Dengan menghadap ke arah bulan purnama, para rato bisa memastikan ketepatan dan posisi bulan, serta keadaan gelombang laut di pantai. Dari situlah akan diputuskan saatnya nyale. Begitu nyale atau cacing laut sudah terlihat, seluruh warga yang telah berkumpul sejak subuh, memulai perburuannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Ternyata menangkap nyale tidak sesulit yang dibayangkan. Tidak perlu susah-susah mencarinya hingga ke bagian laut yang agak dalam. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Cukup di tepi saja, kita sudah dapat menemukan sekumpulan nyale. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Sesungguhnya nyale merupakan acara inti, dari serangkaian upacara adat yang dilakukan masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada bulan Pasola. Kehadiran nyale, harus dirayakan dalam bentuk perayaan, yakni atraksi Pasola. Bagi masyarakat agraris seperti di Wanukaka ini, kedatangan nyale juga punya kaitan erat, dengan hasil panen di daerah mereka. Semakin banyak nyale yang muncul, kian besar juga kemungkinan hasil panen akan berjalan baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Asal usul adanya nyale dan Pasola bermula dari cerita rakyat Waiwuang. Konon, ribuan tahun silam hiduplah tiga orang bersaudara dari Desa Waiwuang. Mereka pergi melaut selama berbulan-bulan. Karena tak kunjung pulang, salah satu istri mereka menikah dengan pria lain. Ternyata ketiga pria itu kembali dan menemui kenyataan, istri dari salah satu pria itu menikah dengan orang lain. Mereka sempat merasa dipermalukan, namun toh akhirnya selesai secara damai. Dengan sejumlah persyaratan antara lain sang istri dan suami barunya, harus menyediakan satu bungkus nyale hidup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Atas dasar hikayat ini, tiap tahun warga mengadakan bulan nyale yang diakhiri pesta Pasola. Lucunya, tidak semua warga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tahu mengapa ada nyale. Terutama generasi mudanya. Bagi mereka, ini adalah saatnya bersenang-senang. Sebuah selingan dari rutinitas sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Setelah nyale menghilang dari pantai, perburuan pun usai. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;Para pria berkuda berdatangan ke pantai. Mereka akan melakukan Pasola. Ini bukanlah Pasola inti. Hanya berlangsung tak lebih dari 2 jam, Pasola ini semacam &lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1037" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image033.png" title="news_pasola-4"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: -59; left: 0px; margin-left: 144px; margin-top: 22px; width: 248px; height: 214px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image034.jpg" shapes="_x0000_s1037" height="214" width="248" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;pemanasan menuju ke atraksi yang sesungguhnya. Pasola di lapangan nan luas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="13" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Pasola&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 100%;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 4pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0in; height: 4pt;"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 100%; margin-left: 6.75pt; margin-right: 6.75pt;" align="left" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;     &lt;td style="padding: 2.25pt;"&gt;     &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="EN"&gt;Pasola berasal dari kata `sola' atau     `hola', yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling     melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang     berlawanan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Setelah mendapat imbuhan `pa' (pa-sola, pa-hola),     artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan     ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang     sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan. Pasola     dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan oleh segenap warga Kabisu     dan Paraingu dari kedua kelompok yang bertanding dan oleh masyarakat umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Sedangkan peserta permainan adalah     pria pilih tanding dari kedua Kabius yang harus menguasai dua keterampilan     sekaligus yakni memacu kuda dan melempar lembing (hola). Pasola biasanya     menjadi klimaks dari seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka pesta nyale.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Skandal Janda     Cantik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Menelurusi asal-usulnya, pasola berasal dari     skandal janda cantik jelita, Rabu Kaba sebagaimana dikisahkan dalam hikayat     orang Waiwuang. Alkisah ada tiga bersaudara: Ngongo Tau Masusu, Yagi     Waikareri dan Umbu Dula memberitahu warga Waiwuang bahwa mereka hendak     melaut. Tapi nyatanya mereka pergi ke selatan pantai Sumba Timur untuk     mengambil padi. Setelah dinanti sekian lama dan dicari kian ke mari tidak     membuahkan hasil, warga Waiwuang merasa yakin bahwa tiga bersaudara     pemimpin mereka itu telah tiada. Mereka pun mengadakan perkabungan dengan     belasungkawa atas kepergian kematian para pemimpin mereka. Dalam kedukaan     mahadahsyat itu, janda cantik jelita `almarhum' Umbu Dulla, Rabu Kaba     mendapat lapangan hati Rda Gaiparona, si gatotkaca asal Kampung Kodi.     Mereka terjerat dalam asmara dan saling berjanji menjadi kekasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Namun adat tidak menghendaki perkawinan     mereka. Karena itu sepasang anak manusia yang tak mampu memendam rindu     asmara ini nekat melakukan kawin lari. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Janda cantik jelita Rabu Kaba diboyong sang     gatot kaca Teda Gaiparona ke kampung halamannya. Sementara ketiga pemimpin     warga Waiwuang kembali ke kampung. Warga Waiwuang menyambutnya dengan penuh     sukacita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun mendung duka tak dapat dibendung tatkala     Umbu Dulla menanyakan perihal istrinya. "Yang mulia Sri Ratu telah     dilarikan Teda Gaiparona ke Kampung Kodi," jawab warga Waiwulang pilu.     Lalu seluruh warga Waiwulang dikerahkan untuk mencari dua sejoli yang mabuk     kepayang itu. Keduanya ditemukan di kaki gunung Bodu Hula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang di     kaki gunung Bodu Hula namun Rabu Kaba yang telah meneguk madu asmara Teda     Gaiparona dan tidak ingin kembali. Ia meminta pertanggungjawaban Teda     Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla.     Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah     seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba     dengan Teda Gaiparona.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada akhir pesta pernikahan keluarga, Teda     Gaiparona berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam     wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda     cantik Rabu Kaba. Atas dasar hikayat ini, setiap tahun warga kampung     Waiwuang, Kodi dan Wanokaka Sumba Barat mengadakan bulan (wula) nyale dan     pesta pasola.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Akar pasola yang tertanam jauh dalam budaya     masyarakat Sumba Barat menjadikan pasola tidak sekadar keramaian insani dan     menjadi terminal pengasong keseharian penduduk. Tetapi menjadi satu bentuk     pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada sang leluhur. Pasola adalah     perintah para leluhur untuk dijadikan penduduk pemeluk Marapu. Karena itu     pasola pada tempat yang pertama adalah kultus religius yang mengungkapkan     inti religiositas agama Marapu. Hal ini sangat jelas pada pelaksanaan     pasola, pasola diawali dengan doa semadhi dan Lakutapa (puasa) para Rato,     foturolog dan pemimpin religius dari setiap kabisu terutama yang terlibat     dalam pasola.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sedangkan sebulan sebelum hari H pelaksanaan     pasola sudah dimaklumkan bulan pentahiran bagi setiap warga Paraingu dan     pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur sangat berkhasiat untuk     kesuburan tanah dan kesuksesan panenan. Bila terjadi kematian yang     disebabkan oleh permainan pasola, dipandang sebagai bukti pelanggaran atas     norma adat yang berlaku, termasuk bulan pentahiran menjelang pasola.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada tempat kedua, pasola merupakan satu     bentuk penyelesaian krisis suku melalui `bellum pacificum' perang damai     dalam permainan pasola. Peristiwa minggatnya janda Rabu Kaba dari Keluarga     Waiwuang ke keluarga Kodi dan beralih status dari istri Umbu Dulla menjadi     istri Teda Gaiparona bukanlah peristiwa nikmat. Tetapi peristiwa yang     sangat menyakitkan dan tamparan telak di muka keluarga Waiwuang dan     terutama Umbu Dulla yang punya istri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keluarga Waiwuang sudah pasti berang besar dan     siap melumat habis keluarga Kodi terutama Teda Gaiparona. Keluarga Kodi     sudah menyadari bencana itu. Lalu mencari jalan penyelesaian dengan     menjadikan seremoni nyale yang langsung berpautan dengan inti penyembahan     kepada arwah leluhur untuk memohon doa restu bagi kesuburan dan sukses     panen, sebagai keramaian bersama untuk melupakan kesedihan karena     ditinggalkan Rabu Kaba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada tempat ketiga, pasola menjadi perekat     jalinan persaudaraan antara dua kelompok yang turut dalam pasola dan bagi     masyarakat umum. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Permainan     jenis apa pun termasuk pasola selalu menjadi sarana sosial ampuh. Apalagi     bagu kedua kabisu yang terlibat secara langsung dalam pasola.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Selama pasola berlangsung semua peserta,     kelompok pendukung dan penonton diajak untuk tertawa bersama, bergembira     bersama dan bersorak-sorai bersama sambil menyaksikan ketangkasan para     pemain dan ringkik pekikan gadis-gadis pendukung kubu masing-masing. Karena     itu pasola menjadi terminal pengasong keseharian penduduk dan tempat     menjalin persahabatan dan persaudaraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sebagai sebuah pentas budaya sudah pasti     pasola mempunyai pesona daya tarik yang sangat memukau. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Olehnya pemerintah turut mendukung     dengan menjadikan pasola sebagai salah satu `mayor event'.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;14.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Etu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Etu adalah sebutan dalam  etnis Nagekeo /     Sagi  adalah sebutan dalam suku Ngadha merupakan atraksi tinju     tradisional dengan manampilkan jago-jago dari kampung masing-masing untuk     mengadu kekuatan dan ketangkasan masing-masing peserta. Atraksi ini     berlangsung dalam arena yang dibuat di tengah kampung. Tiga hari sebelum     pertandingan diadakan ritual adat memohon kekuatan untuk peserta     tinju. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 24.75pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 24.75pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;15.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Toalako&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 15.75pt; text-align: justify; text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Toalako merupakan kegiatan yang diadakan pada     musim panas mengatraksikan kemampuan binatang peliharaan yaitu kuda dan     anjing serta peralatan berburu (misalnya tombak / tuba dan bhou) dalam     menangkap binatang buruan yaitu : rusa dan babi hutan (celeng). &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Hasil tangkapan ini disantap secara     bersama di lokasi (loka) yang telah disediakan oleh masing-masing     suku.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 56.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="display: none;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Even pariwisata dan seni budaya di bulan Januari berupa `Pesta Reba` atau pesta tradisional (adat) untuk menyambut Tahun Baru di Kabupaten Ngada. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pesta itu ditandai dengan makan ubi bersama disertai tarian-tarian tradisional. Sesekali diramaikan dengan tinju tradisional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Even di bulan September berupa festival panen kacang hijau untuk memperingati leluhur dengan cara berpantun dan menyanyikan lagu-lagu daerah di Lembata dan "Loka Po`o" atau upacara penyambutan datangnya musim tanam padi di Kabupaten Sikka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Khusus di bulan Oktober terdapat lima even pariwisata dan seni budaya yakni pacuan kuda di Kabupaten Belu, Tarian Caci di Kabupaten Manggarai Barat, lomba mancing di Tablolong Kabupaten Kupang dan Upacara Riput atau proses pembuatan tenun ikat yang diadopsi dari adat India.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Diakhir tahun, dilaksanakan pertunjukan sendratari tradisional di Kabupaten Sikka yang menceritakan tentang putri raja Prinseja yang dilamar oleh Maskadar, saudagar Portugis. &lt;/span&gt;Juga perayaan HUT Provinsi NTT 20 Desember.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;F.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;PRODUK BUDAYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Rumah Adat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Rumah tradisional Flores telah lama menjadi perhatian para peneliti dari luar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Menurut para ahli itu rumah tradisional dikategorikan dalam &lt;em&gt;boat communities&lt;/em&gt; karena adanya kemiripan dengan bentuk tertentu dari bagian perahu, seperti beberapa rumah tradisional &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; di Lio Moni,Ende dan Manggarai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Rumah tradisional berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari alang-alang merupakan pusat kegiatan masyarakat tradisional. Mulai dari tidur sampai memasak dilakukan di dalam rumah. Hal tersebut disimbolkan dalam bentuk tiang rumah yang disebut dengan ni ainaf atau tiang feminin. Tiang lainnya disebut hau monef atau tiang maskulin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Rumah tradisional ini dilengkapi dengan tempat persembahan yang disebut dengan hau monef. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Rumah tradisional ini memiliki nama yang berbeda-beda. Di Alor disebut tofa dan di Ende disebut dengan saoria. Biasanya hanya keluarga inti yang menempati rumah tradisonal ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terlihat bahwa rumah tradisional yang terdapat di Lio Moni, daerah dataran tinggi yang jauh letaknya dari laut, serta tidak mempunyai sejarah maupun legenda yang menunjukkan hubungan dengan laut atau perahu, hanya mempunyai kemiripan dengan perahu dalam hal bentuk saja. Hal tersebut terjadi bukan karena adanya hubungan dengan budaya laut. Sedangkan pada rumah tradisional di daerah pesisir, ditemukan adanya legenda tentang nenek moyang mereka yang memang dahulu adalah pelaut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Pada masyarakat demikian memang ada pencitraan perahu, misalnya yang nampak pada bentuk dan penamaan bagian-bagian tertentu rumah, penyebutan tokoh pemuka kampung yang diambil dari sebutan yang dikenal di perahu, keletakan serta orientasi kampung yang meniru perahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Konsep rumah adat orang Flotim di Flores Timur selalu dianggap sebagai pusat kegiatan ritual suku. Rumah adat dijadikan tempat untuk menghormati Lera Wulan Tana Ekan (wujud tertinggi yang mengciptakan dan yang empunya bumi). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Rumah tradisional di Ngada disebut juga Sao, bahan rumah terbuat seperti di Ende/Lio (dinding atap, dan lantai /panggungnya). Secara tradisional rumah adat ditandai dengan Weti (ukiran). Ukiran terdiri dari tingkatan-tingkatan misalnya Keka, Sao Keka, Sao Lipi Wisu, Sao Dawu Ngongo, Sao Weti Sagere, Sao Rika Rapo, Sao Lia Roda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Pakaian Adat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Pakaian tradisionil di daerah &lt;st1:place st="on"&gt;flores&lt;/st1:place&gt; mengenal 2 (dua) jenis pakaian yaitu pakaian yang dikenakan kaum laki dan wanita. Pada masyarakat Lama Holot pakaian wanita disebut Kwatek dan pria disebut Howing. Pakaian wanita di Manggarai, mengenakan mahkota dengan berbagai bentuk. Sedangkan kaum prianya mengenakan destar. Berikut berbagai pakaian adapt di Flores yaitu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;Daerah Manggarai&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt; -&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Daerah Ngada&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;-&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Daerah Flotim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1078" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-216 0 -216 21492 21600 21492 21600 0 -216 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image035.png" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image036.jpg" shapes="_x0000_s1078" align="left" height="200" hspace="12" width="100" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1077" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-216 0 -216 21492 21600 21492 21600 0 -216 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image037.png" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image038.jpg" shapes="_x0000_s1077" align="left" height="200" hspace="12" width="100" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1043" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-216 0 -216 21492 21600 21492 21600 0 -216 0" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image039.gif" title="pakaian_adat_manggarai"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image039.gif" shapes="_x0000_s1043" align="left" height="200" width="100" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 56.85pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Daerah Sikka &lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Daerah Ende&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1080" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-216 0 -216 21492 21600 21492 21600 0 -216 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image040.png" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image041.jpg" shapes="_x0000_s1080" align="left" height="200" hspace="12" width="100" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1079" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-216 0 -216 21492 21600 21492 21600 0 -216 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image042.png" title=""&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image043.jpg" shapes="_x0000_s1079" align="left" height="200" hspace="12" width="100" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Senjata Tradisional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;Ciri khas senjata tradisional masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; disebut Subdu atau Sudu, profilnya seperti keris sebagai senjata tikam yang dianggap keramat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1076" type="#_x0000_t75" alt="senjata khas adonara_flores" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-193 0 -193 21456 21600 21456 21600 0 -193 0" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image044.jpg" href="http://indonetwork.co.id/pdimage/88/465088_dsc00001.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image045.jpg" alt="senjata khas adonara_flores" shapes="_x0000_s1076" align="left" height="150" hspace="12" width="168" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Senjata tradisional dari Adonara, sebuah pulau kecil di timur &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt;, yang sarat dengan cerita tentang pembunuhan atas nama harga diri dan kemanusiaan. Senjata ini memiliki keunikan tersendiri di bandingkan dengan senjata dari zona lain, ukurannya yang teramat panjang, juga gagangnya yang terbuat kshusus dari tanduk kambing menjadikan senjata ini lebih garang dan bernuansakan aroma mistik. Zaman dahulu bahkan sampai kini, senjata inilah yang menjadikan pulau kecil ini sesangar namanya adonara, yang kadang diplesetkan menjadi Adu darah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Peninggalan zaman Megalitik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%;"&gt;Di Kabupaten Manggarai, sisa-sisa tradisi megalitik ataupun monumen megalit yang tidak berfungsi lagi, juga dijumpai hampir di setiap desa. Salah satu diantaranya adalah monumen megalit yang berbentuk susunan batu temu-gelang (circle) yang berfungsi sebagai kubur para tetua, pemuka adat dan tempat melaksanakan berbagai upacara. Menurut tradisi setempat, monumen yang terletak dua kilometer di sebelah Kota Ruteng, disebut compang. Rumah-rumah di atas tiang, didirikan di sekeliling monumen tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%;"&gt;Di desa Warloka, desa paling barat Manggarai, ditemukan pula sejumlah besar monumen Megalit, baik yang masih in-situ (asli) maupun yang sudah terganggu (disturbed). Pada umumnya yang berbentuk menhir dan dolmen yang berasosiasi dengan benda gerabah atau keramik (utuh dan pecah), benda-benda gerabah (gelang, cincin, kelad lengan, bandul, cermin, bandul kalung dan sebagainya). Pada umumnya tingkat kesukaran situs-situs upacara/pemujaan di Warloka ini sangat tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%;"&gt;Peninggalan dan sisa-sisa tradisional megalitik di &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; juga ditemukan di Ende-Lio, Sikka dan Flores Timur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Tarian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Tarian adat yang ada di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur sangat beragam, hal ini disebabkan karena jumlah suku yang mendiami wilayah ini sangat beragam serta ditambah dengan wilayah yang terdiri dari kepulauan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Hopong&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1058" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-87 0 -87 21481 21600 21481 21600 0 -87 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image046.png" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/helong.gif"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image047.jpg" shapes="_x0000_s1058" align="left" height="164" hspace="12" width="228" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Asal tarian : Helong &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%;"&gt;Hopong adalah sebuah upacara tradisional masyarakat Helong yang mengijinkan para petani untuk menuai atau panen di ladang pertanian. Upacara Hopong adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh para petani dalam bentuk doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan dan nenek moyang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%;"&gt;Upacara Hopong dilakukan pada masa panen disuatu rumah yang ditentukan bersama dan dihadiri oleh tua-tua adat serta lapisan masyarakat. Tarian ini juga menggambarkan kehidupan bersama nilai religius, gotong royong. Musik pengiring gendang, tambur, gong&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Likurai&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1057" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-87 0 -87 21457 21600 21457 21600 0 -87 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image048.png" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/likurai_belu.gif"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image049.jpg" shapes="_x0000_s1057" align="left" height="154" hspace="12" width="228" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Asal tarian : Kabupaten Belu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dalam masyarakat Belu tari Likurai merupakan tari yang dibawakan oleh gadis-gadis/ibu-ibu untuk menyambut tamu-tamu terhormat atau pahlawan yang pulang dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;medan&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; perang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1056" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" wrapcoords="-87 0 -87 21457 21600 21457 21600 0 -87 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image050.png" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/sikka.gif"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image051.jpg" shapes="_x0000_s1056" align="left" height="164" hspace="12" width="228" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Leke&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Asal tarian : Kabupaten Sikka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;Tari ini mengambarkan pesta para masyarakat etnis Sikka Krowe sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan. Biasanya ditarikan pada waktu malam hari yang diiringi musik gong waning dengan lantunan syair-syair adat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1055" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" wrapcoords="-87 0 -87 21457 21600 21457 21600 0 -87 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image052.png" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/ende.gif"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image053.jpg" shapes="_x0000_s1055" align="left" height="137" hspace="12" width="228" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Poto Wolo&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Asal tarian : Kabupaten Ende&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Fungsi tari ini biasa digunakan untuk menjemput para tamu agung, atau seorang kepala suku yang diangkat secara adat. Poto artinya mengangkat atau menjunjung kebesarannya; Wolo artinya gunung atau bukit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Wasa Wojorana&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1054" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:36pt;margin-top:2.7pt;" wrapcoords="-87 0 -87 21458 21600 21458 21600 0 -87 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image054.png" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/manggarai.gif"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image055.jpg" shapes="_x0000_s1054" align="left" height="146" hspace="12" width="228" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Asal tarian : Kabupaten Manggarai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;Tarian ini biasanya dilaksanakan pada upacara adat menjelang padi lading menguning.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;Wasa Wojarana menggambarkan luapan rasa gembira , dengan melihat bulir-bulir padi lading yang menjanjikan dan sebagi ungkapan terima kasih kepada pencipta dan sekaligus memohon agar panen tidak gagal akibat bencana alam dan ancaman &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;hama&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tarian ini ditampilkan ditampilkan dengan irama pelan dan cepat .&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Togadu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1053" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-87 0 -87 21457 21600 21457 21600 0 -87 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image056.png" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/ngada.gif"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image057.jpg" shapes="_x0000_s1053" align="left" height="132" hspace="12" width="224" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Asal tarian : Kabupaten Ngada&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Todagu menggambarkan keperkasaan pemuda Nage Keo dalam berperang dan membangkitkan semangat patriotisme. Tarian ini diiringi oleh bambu dan tambur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;g)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1051" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" wrapcoords="-87 0 -87 21457 21687 21447 21600 0 -87 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image058.jpg" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/lembata.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image059.jpg" shapes="_x0000_s1051" align="left" height="149" hspace="12" width="224" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Hedung Buhu Lelu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Asal tarian : Kabupaten Lembata&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Suatu kegiatan kekerabatan penghalusan kapas yang telah dipisahkan dari bijinya. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh perempuan, baik itu ibu-ibu maupun gadis-gadis dan aktivitas ini merupakan suatu kerajinan rumah tangga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;h)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1052" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-162 0 -162 21415 21600 21415 21600 0 -162 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image060.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\kesenianngada_files\tari-sago-alu.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image061.jpg" shapes="_x0000_s1052" align="left" height="152" hspace="12" width="216" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style=""&gt;Tarian Sagoalu&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tarian sagoalu merupakan tarian yang biasa ditarikan tarikan untuk bersukur atas hasil panen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;i)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;Tarian Ja'I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1059" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-162 0 -162 21415 21600 21415 21600 0 -162 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image062.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\kesenianngada_files\Avseq01.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image063.jpg" shapes="_x0000_s1059" align="left" height="127" hspace="12" width="216" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;Tarian Ja'I merupakan tarian perang, tarian ini dilakukan setelah menyelesaikan peperangan.tarian ini berasal dari daerah Ngada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;j)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Perang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tarian perang ialah tarian yang menunjukkan sifat-sifat perkotaan dan kepedulian mempermainkan senjata. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;k)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Garong Lameng&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Sebuah tarian yang dipertunjukan pada upacara Khitanan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;l)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Cerana &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tari Cerana merupakan tarian upacara penyambutan tamu dengan membawa tempat sirih. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;m)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tarian Topeng Bobu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tarian Bobu adalah salah satu dari sedikit tarian adat Sikka yang para penarinya mengenakan topeng wajah yang memperlihatkan aneka ekspresi. Pada awalnya Tarian Bobu ditari sebagai tarian perang, yang ditarikan untuk menggelorakan semangat tempur para prajurit dan ketika menyambut para pahlawan sekembali dari medan laga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam perkembangannya kemudian, Tari Bobu mendapatkan pengaruh dari budaya bangsa Portugis. Saat ini, Tarian Bobu dianggap khas dari Desa Sikka dan kerap ditampilkan untuk menyambut tamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;n)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Higimitan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sebuah tari yang menggambarkan rasa kasih sayang antara dua ikatan pria dan wanita. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;o)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Kataga&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tari Kataga merupakan tarian bagian dari upacara ritus, yaitu upacara penyambutan terhadap arwah nenek moyang.&lt;span class="style10"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;p)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;Tarian Laba Sese&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;q)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;Tarian di Daerah Ende&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Seni tari yaitu mengekspresikan rasa lewat tatanan gerak dalam irama musikdan lagu. Dilihat dari tata gerak dan bentukya, tarian Ende Lio dapat dibagikan beberapa jenis diantaranya yaitu :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Toja&lt;/b&gt; ialah kelompok Penari menarikan sebuah tarian yang telah ditatar dalam bentuk ragam dan irama musik / lagu untuk suatu penampilan yang resmi &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Wanda&lt;/b&gt; ialah Penari dengan gayanya masing-masing, menari mengikuti irama musik / lagu dalm suatu kelompok atau perorangan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Wedho &lt;/b&gt;ialah Menari dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; bebas dengan mengandalkan gerak kaki seakan -akan melompat sedangkan Woge merupakan Gerak tari dengan mengandalkan kelincahan kaki dengan penuh energi dan dinamis , dilengkapi dengan sarana mbaku dan sau atau perisai dan pedang /parang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Gawi&lt;/b&gt; ialah Gerak tari dengan menyentakkan kaki pada tanah. Untuk istilah Toja dan Wanda sebenarnya sama arti yaitu menari, hanya cara dan fungsinya berbeda dan kata wanda unuk suku Lio berari Toja. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dari generasi ke generasi para insruktur tari/ penata tari telah banyak menciptakan tarian di antaranya yaitu : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 1in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Gawi/Naro&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Jenis tarian ini berbentuk lingkaran mengelilingi tubu musu dengan cara berpegangan tangan dan menyentakkan kaki dalam bentuk dua macam ragam yaitu Ngendo dan Rudhu atau ragam mundur dan maju.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:262.5pt;height:150pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image064.jpg" href="file:///D:\My%20Document\budaya%20nusantra\Flores\flores%20fix\bUAT%20DIPRINT\Bahan%20budnus\semangat\Seni%20Tari%20Ende%20Lio_files\322409143_4f17e45382.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image064.jpg" shapes="_x0000_i1026" border="0" height="200" width="350" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Gbr : Tari Gawi yang melambangkan kebersamaan dan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Tampak masyarakat adat di Wolowaru&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam komposisi bentuk gawi ada bagian -bagiannya yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Eko Wawi - Sodha &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sike - Ana Jara &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Naku Ae Wanda &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Pau&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ulu&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Susunan dalam Gawi dalam setiap penampilam adalah sebagai berikut : &lt;i&gt;Mega Rema Ba-Oro e-Sodha-Ndeo Oro&lt;/i&gt;.Waktu dan jumlah peserta tari gawi / naro tidak ditentukan dan tarian ini biasa diadakan di &lt;i&gt;Koja Kanga &lt;/i&gt;pada acara Nggua / seremonial adat, bagi peserta gawi diwajibkan ikut bernyanyi pada bagian oro.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tekka Se&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Tarian ini bentuknya seperti Gawi/ naro, hanya berupa gerakan kakinya satu ragam dan gerakan putaran lebih cepat dari gawi/ naro. Keunikan dari tekka se, pada bagian tengah lingkaran dinyalakan dengan bara api atau api unggun dan tarian ini diadakan pada setiap acara seremonial di wilayah Nangapanda dan sekitarnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Wanda/ Toju Paü&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; penampilan secara perorangan/ individual dalam suatu acara, biasanya menari dengan selendang diiringi dengan musik Nggo wani/ Lamba atau musik feko genda. Biasanya bila penari wanita selesai menari, dia harus memberikan selendang tersebut kepada laki-laki, atau lebih khususnya yaitu Ana Noö, demikian sebaliknya Ana Noö memberi selendang kepada ada eda/ bele untuk menari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Neku Wenggu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian ini berbentuk arak-arakan oleh sekelompok penari dalam acara penjemputan atau mengantar sarana paÄ loka/ sesajian atau para tamu dan lain-lain. Bentuk tarian Neku Wenggu sangat banyak dengan masing-masing nama dari setiap daerah di Ende Lio diantaranya yaitu : Napa Nuwa - Poto Wolo - Poto Pala - Wanda Pala - Goro Watu/ Kaju dll. Tarian Neku Wenggu biasanya diiringi dengan lagu Wenggu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian Joka Sapa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian ini tergolong tarian nelayan dan juga ada jenis yang sama seperti tarian Manu Tai di Ngalupolo-Ndona. Kekhasan tarian ini, para gadis/ penari dengan pakaian nelayan diiringi dengan musik/ lagu gambus. Adapula tarian nelayan dibawakan oleh masyarakat di pesisir Pantai Ende Selatan/ Utara dengan berbagai nama tarian seperti : Tarian Nelayan - Tarian Irikiki - TarianGetu Gaga - Tarian Manusama - Wesa Pae dll.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian Mure&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Mure artinya saling mendukung, tarian ini terdiri dari para ibu/ gadis dari keluarga mosalaki di Nggela - Pora - Waga pada acara ritual adat memohon hujan. Tarian ini dengan kostum tradisional, lawo tege kasa dan tidak berbaju, musik pengiringnya yaitu Nggo Wani/ Lamba disertai dengan lagu yang khas Wenggu untuk tarian Mure.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian Sangga Alu/Assu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian ini awalnya adalah permainan dan lambat laun berkembang menjadi sebuah tarian dan penarinya terdiri dari 2 (dua) pasang muda-mudi disertai dengan seorang ana jara. Dalam penampilan dibutuhkan 4 hingga 8 orang pemain bambu palang dengan cara menyentak dan menjepit secara serentak. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penari memasukkan kaki/ kepala diantara bambu dari tempo lambat hingga tempo cepat, selanjutnya dipadukan dengan irama lagu serta ana jara menari mengelilingi penari/ pemain bambu palang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Jara Angi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian Jara Angi atau kuda siluman dan yang paling populer disebut Tari Kuda Kepang, penarinya terdiri dari anak-anak atau para remaja pria. Penari dilengkapi dengan kuda yang terbuat dari Mbao (selendang pinang) atau daun kelapa yang dianyam dengan bentuk seperti kuda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian ini diawali dengan atraksi lomba pacuan kuda dilanjutkan dengan menari bersama diiringi dengan lagu Ruda Rudhu Redha dengan musik gendang atau Nggo Wani/ Lamba. Keunikan dari tarian ini yaitu para penyanyi menyanyikan lagu dengan kata-kata khusus, juga dinyanyikan dengan not atau tidak mengucapkan kata-kata syair lagu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian Pala Tubu Musu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Penari terdiri dari para ibu/ gadis dari setiap keluarga Mosalaki di Wolotopo-Ndona, dengan seorang laki-laki sebagai penari woge untuk upacara Paä Loka atau memberi sesajian di Tubu Musu. Untuk mengiringi tarian ini yaitu, musik/ lagu Nggo Wani/ Lamba dan Nggo Dhengi dan bagian akhir dari tarian ini dengan gawi/ naro atau tandak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian Dowe Dera&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Tarian Dowe Dera ditarikan pada saat menanam tanaman. Para penari terdiri dari 2 (dua) kelompok yaitu kelompok laki-laki dan kelompok perempuan, dengan upacara ritual adat di tempat Mopo (ditengah-tengah ladang). Penari laki-laki dengan musik gaku, membuat lubang pada tanah, sedangkan para ibu/ gadis mengisi bibit tanaman yang sudah dilubangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;Tarian ini diiringi dengan lagu Dowe Dera disertai musik Gaku yang terbuat dari bambu (lihat musik gaku) dan penarinya dilengkapi dengan pakaian adat serta aksesorisnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Napa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Nuwa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian ini sebagai luapan kegembiraan dari para pejuang yang telah menang dalam peperangan, penari terdiri dari para pejuang atau beberapa orang laki-laki, dilengkapi dengan alat perang yaitu mbale dan sau atau perisai dan pedang / parang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian ini diawali dengan Neku Wenggu, dilanjutkan dengan Bhea dan woge serta Ruü atau agak dengan sau sambil bergerak dalam bentuk lingkaran. Tarian dari Desa Wolotopo ini diiringi dengan musik Nggo Lamba/ wani dan Lagu Da seko.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian Ule Lela Nggewa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Judul tarian ini identik dengan judul lagunya yang sangat khas, bila orang mendengar atau menyanyikan lagu Ulu lela Nggewa pasti akan ingat tariannya. Dalam tarian ini penarinya terdiri dari para gadis dan musik pengiringnya hanya sebuah gendang, pada jaman dahulu para leluhur menggunakan batu sebagai musik pengiringnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian ini telah membawa nama NTT dalam tingkat nasional di Jakarta dibawakan oleh sanggar seni Budaya NTT dan Festival Seni Budaya diberbagai negara dibawakan oleh yayasan budaya bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian Woge&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tarian Woge diiringi dengan Nggo lamba/ wani dengan irama yang khas, tarian ini biasanya ditari oleh satu orang atau secara individual pada upacara adat didahului dengan kata-kata/ syair atau bhea. Penari dilengkapi dengan alat-alat perang yaitu mbaku dan sau atau periasai dan pedang/ parang, pada pergelangan kaki diikat dengan untaian woda atau lonceng giring-giring.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dewasa ini dasar dari tarian Woge berkembang menjadi menari secara group dengan tata gerak/ ragamnya serta design lantai digarap dengan berik sehingga menjadi sebuah tarian yang indah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kekayaan seni tari selain tarian tradisional yang menyangkut upacara adat, adapula para instruktur tari menampilkan karyanya dengan judul dari berbagai jenis burung - berladang - menenun - nelayan dan tari kreasi baru lainnya.&lt;span class="style10"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1093" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image065.jpg" href="Bahan%20budnus/semangat/Seni%20Tari%20Ende%20Lio_files/322409082_eff5c235c0.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: 68;"&gt;&lt;span style="position: absolute; left: 192px; top: -16px; width: 324px; height: 168px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image066.jpg" shapes="_x0000_s1093" height="168" width="324" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Gbr : TARIAN PU MARU&lt;br /&gt;Tarian yang menggambarkan masyarakat sedang menikmati hasil panen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.5in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;r)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tari Nahang Tahang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1088" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-117 0 -117 21468 21600 21468 21600 0 -117 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image067.png" href="http://www.tamanbudayantt.net/download/klip_tarian_daearh/img_flotim.gif"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image068.jpg" shapes="_x0000_s1088" align="left" height="178" hspace="12" width="240" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tarian ini brasal dari Flores Timur. Namang = Hentakan Kaki yang berirama. Tahang = Padi. Tarian rakyat ini menggambarkan pemisahan gabah padi dari bulirnya yang kemudian disimpan dalam lumbung padi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;s)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tari Koko Manunggo&lt;span class="style10"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1089" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:18pt;margin-top:3.35pt;" wrapcoords="-117 0 -117 21468 21600 21468 21600 0 -117 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image069.png" href="http://www.tamanbudayantt.net/download/klip_tarian_daearh/img_sikka.gif"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image070.jpg" shapes="_x0000_s1089" align="left" height="172" hspace="12" width="240" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tari koko manunggo berasal dari Sikka. Koko = Ayam berkokok sedangkan Manunggo = petani bekeja dipagi buta&lt;br /&gt;arti dari tari ini adalah para petani bekerja gotong royong dengan semangat membersihkan ladang siap tanam yang diiringi gerak pacul dan lagu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;t)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="style10"&gt;Tarian Lainnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 108.2pt;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 183.4pt; height: 108.2pt;" valign="top" width="245"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" alt="Image" style="'width:168pt;"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image071.png" href="file:///D:\My%20Document\budaya%20nusantra\Flores\flores%20fix\bUAT%20DIPRINT\Bahan%20budnus\semangat\budaya%20flotim_files\budaya1.png"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image072.jpg" alt="Image" shapes="_x0000_i1027" border="0" height="169" hspace="6" width="224" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 183.4pt; height: 108.2pt;" valign="top" width="245"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" alt="Image" style="'width:168pt;"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image073.png" href="file:///D:\My%20Document\budaya%20nusantra\Flores\flores%20fix\bUAT%20DIPRINT\Bahan%20budnus\semangat\budaya%20flotim_files\budaya2.png"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image074.jpg" alt="Image" shapes="_x0000_i1028" border="0" height="169" hspace="6" width="224" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 108.2pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 183.4pt; height: 108.2pt;" valign="top" width="245"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75" alt="Image" style="'width:168pt;"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image075.png" href="file:///D:\My%20Document\budaya%20nusantra\Flores\flores%20fix\bUAT%20DIPRINT\Bahan%20budnus\semangat\budaya%20flotim_files\budaya4.png"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image076.jpg" alt="Image" shapes="_x0000_i1029" border="0" height="169" hspace="6" width="224" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 183.4pt; height: 108.2pt;" valign="top" width="245"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1030" type="#_x0000_t75" alt="Image" style="'width:168pt;"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image077.png" href="file:///D:\My%20Document\budaya%20nusantra\Flores\flores%20fix\bUAT%20DIPRINT\Bahan%20budnus\semangat\budaya%20flotim_files\budaya5.png"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image078.jpg" alt="Image" shapes="_x0000_i1030" border="0" height="169" hspace="6" width="224" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 108.2pt;"&gt;   &lt;td colspan="2" style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 366.8pt; height: 108.2pt;" valign="top" width="489"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1031" type="#_x0000_t75" alt="Image" style="'width:165pt;"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image079.png" href="file:///D:\My%20Document\budaya%20nusantra\Flores\flores%20fix\bUAT%20DIPRINT\Bahan%20budnus\semangat\budaya%20flotim_files\budaya6.png"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image080.jpg" alt="Image" shapes="_x0000_i1031" border="0" height="166" hspace="6" width="220" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1081" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-58 0 -58 21519 21600 21519 21600 0 -58 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image081.jpg" title="bela diri ngada"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image082.jpg" shapes="_x0000_s1081" align="left" height="143" hspace="12" width="244" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1082" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-64 0 -64 21520 21600 21520 21600 0 -64 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image083.jpg" title="bela diri ngada1"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image084.jpg" shapes="_x0000_s1082" align="left" height="147" hspace="12" width="228" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Kesenian Bela Diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;Kesenian Bela Diri berupa Larik dan Pencak Silat di kecamatan Riung Etu/ Sagi Sudu di kecamatan Boawae, Soa di kecamatan Bajawa, Golewa, Nangaroro, dan Aesesa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Seni Tembikar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 2.5in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1064" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:0;" wrapcoords="-114 0 -114 21494 21600 21494 21600 0 -114 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image085.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\Seni%20Tembikar%20Ende%20Lio_files\350599097_c4abbe532a.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image086.jpg" shapes="_x0000_s1064" align="left" height="204" hspace="12" width="180" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Seni tembikar atau tanah liat/ taki yang sudah terkenal di Kabupaten Ende yaitu Lise - Wolowaru dan Wolotolo - Detusoko dimana hasil kerajinannya telah memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Ende dan sekitarnya dalam hal perkakas dapur. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Adapula di tempat-tempat lain membuatnya, tetapi hanya untuk kebutuhan rumah tangganya sendiri, kerajinan tembikar seakan-akan hilang karena kalah bersaing dengan barang-barang import. Pengolahan bahan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;baku&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; tembikar yaitu dari tana taki atau tanah liat, ditumbuk halus, diremas-remas dengan air hingga merekat, dibentuk dan dikeringkan lalu dibakar dengan api. Beberapa macam jenis seni tembikar diantaranya yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Podo&lt;br /&gt;Periuk berbentuk bulat dengan permukaan mulut bergerigi, gunanya untuk memasak nasi, jagung, singkong dll. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sewe&lt;br /&gt;Bentuknya hampir sama dengan periuk, hanya mulutnya lebih lebar dan ada juga dilengkapi dengan telinga digunakan untuk memasak lauk pauk dll. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Paso&lt;br /&gt;Bentuknya bulat lonjong dilengkapi dengan lingkaran pinggir kaki, digunakan sebagai tempat penampung lauk pauk yang sudah dimasak juga digunakan tempat merendam tarum/ taru menjadi nila. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kawa&lt;br /&gt;Bentuknya bulat ceper dilengkapi dengan telinga, digunakan sebagai tempat penggorengan dan memasak lauk pauk dan masakan lainnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kumba&lt;br /&gt;Periuk besar berbentuk lonjong dengan bagian dasarnya rata digunakan sebagai tempat air minum dan tuak/ moke. Permukaannya dibuat ukiran garis dan binatang ampibi/ reptil. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Nggusi&lt;br /&gt;Ukurannya lebih kecil dari kumba, bentuk dan kegunaanya sama seperti kumba. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pane&lt;br /&gt;Bentuknya seperti piala minuman, dihiasi dengan ukiran bergaris lurus dan silang memenuhi lingkaran, digunakan sebagai tempat nasi atau lauk/ piring makan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Bha&lt;br /&gt;Bentuknya ceper seperti piring makan, dibagian dasar dengan lingkaran timbul digunakan sebagai piring makan dan lain sebagainya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Piri&lt;br /&gt;Bentuknya seperti bha/ piring hanya ukurannya lebih kecil, digunakan sebagai tempat tatakan minuman dan tempat sambal dll. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mako&lt;br /&gt;Bentuknya seperti mangkok, bulat lonjong, pada bagian dasarnya rata dilengkapi dengan lingkaran timbul sebagai dudukan dan pada bagian samping dengan tangkai pegangan, digunakan sebagai tempat minum dll. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman para pengrajin seni tembikar telah membuat berbagai bentuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat masa kini seperti; asbak, pot bunga, guci hiasan dll.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Lagu Daerah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;Seni musik atau seni bunyi yaitu yang dihasilkan oleh suara manusia / seni suara dan suara alat-alat instrumen. Seni suara/vokal, mengungkapkan rasa lewat suara manusia dalam bentuk kata-kata syair/lagu seperti : Doja, Ndeö-Peö,Sodha-Oro-Bhea-dll. Berikut ini adalah daftar lagu-lagu daerah yang berasal dari setiap daerah. Lagu-lagu daerah sering dinyanyikan pada acara-acara tertentu. Makna yang terkandung dalam setiap nyanyian sangat beragam.&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Daerah Dawan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;ES KAUBELE&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="DE"&gt;Es Kaubele yang berarti di Kaubele. Lagu ini menyatakan suatu perjumpaan yang menggembirakan di Kaubele.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;LARE&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Lare, yang berarti Jangan Terburu. Suatu lagu nasihat yang menasihati orang supaya jangan terburu-buru mengejar sesuatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;TEBE ONANA&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tebe Onana, yang berarti Betul Begitu. Suatu lagu yang bi9asanya dipakai pada pertemuan-pertemuan dan perdebatan antar muda-mudi. Sifatnya jenaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Daerah Ende/Lio&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;KAU MAKO&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kau Mako, yang artinya Apalah Daya. Lagu keluhan keluhan seorang ibu/bapak atas pergi anak-anaknya sehingga ditinggal seorang diri. Sifatnya memberi nasihat kepada anak-anak yang ingin meninggalkan orang tunya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;HARO E&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Haro E, yang artinya Hatimu Gelisah. Lagu uyang menggambarkan kehelisahaan seorang gadis, yang merindukan kekasih hati, sehingga makan minum tak disentuhnya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;DEKU DU DELE&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Deku Du Dele, yang artinya Gadis Mau Mengangis. Suatu lagu yang menggambarkan percintaan, diman si pemuda menyuruh kekasihnya menungggu di suatu tempat yang sudah disepakati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;AME SIMO NGAWU&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ame Simo Ngawu, yang artinya Bapak Sudah Terima Belis (mas kawin). Suatu lagui adat yang menggambarkan permintaan seorang gadis kepada bapaknya, supaya jangan terima belis (mas kawin) dulu, karena dia (gadis) belum ingin kawin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;WETA SAGA PANDA&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Weta Saga Panda, yang artinya Si Gadis Bertubuh Pendek. Suatu lagu ejekan dari pemuda terhadap gadis. Lagu ini merupakan lagu jenaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;DESO KAMI E&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Deso Kami E, yang artinya Sedih Sekali. Lagu ratap yang menceritakan kematian yang tragis dari seorang ayah yang terbunuh dalam perjalanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Manggarai&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;JITA MBEWU&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Jita Mbewu, yang artinya Bita Rimbun (nama pohon). Suatu lagu kiasan yang menggambarkan wajah seorang gadis yang ditutupi rambut yang lebat sehingga tidak kelihatan wajahnya.Benggong, yang artinya Bergembira. Suatu lagu percintaan yang menggambarkan perjumpaan . antara pemuda dan pemudi waktu bersama-sama menimba air. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;AKU REHANG&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Aku Rehang, yang artinya Aku mengangis. Lagu ini menggambarkan kesedihan seseorang yang selalu mengalami kesusahan. Sifatnya ialah kiasan dimana menggambarkan segala usaha yang terhalang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;SILI ABAR MANGA WELA&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Sili Abar Manga Wela, yang artinya Bunga di Tebing. Lagu ini mengandung arti kiasan yang mengammbarkanb seorang gadis di antara bahaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;PALE ETA GOLO LAUNE&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Pale Eta Golo Laune, yang artinya Seorang Pemburu. Lagu ini mengisahkan kehidupan seorang pemburu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Daerah Sabu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;ELE MOTO&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ele Moto, yang aretinya Lihat Bintang. Suatu lagu nasihat bagi perantau, yang walaupun mendapat kebaahagiaan dan kemakmuran di negeri orang tetapi jangan lupa negeri sendiri (tanah air sendiri). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;BOLE JERU&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Bole Jeru, yang artinya Jangan Berduka. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Suatu Lagu nasihat atas kebesaran Tuhan. Jangan berputus asa, karena Tuhanlah yang menyelenggarakan hidup ini, sehingga pada akhirnya keuntungan dan kebahagiaan pasti akan datang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;NAWANI TANA&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="PT-BR"&gt;O Nawani Tana, yang artinya O Saudari. Suatu lagu nasihat, yang menasihati gadis supaya jangan lupa jika banyak kawan hidup ini mudah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;MAI MA PETENI&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Mai ma Peteni, yang sifatnya mari berkumpul. Suatu lagu gembira di antara pemuda-pemudi yang saling mengajak berkumpul untuk bergembira.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Daerah Ngada&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;KAUKO SOLO&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kauko Solo, yang artinya Sudah Benar. Lahu kiasan memuja kecantikan seorang gadis, kemana saja ia pergi akan selalu muncul kecantikannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;YALO&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Yalo, yang artinya Anak Yatim. Lagu ini menggambarkan penderitaan dan kemelaratan anak yatim piatu dalam hidupnya. Tujuannya ialah meminta belas kasihan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;BENGU RELE KAJU&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bengu Rele Kaju, yang artinya Burung di Atas Pohon. Suatu lagu kiasan yang menggambarkan kegembiraan seorang gadis/pemuda. Sifatnya gembira, yang biasanya dinyanyikan dalam suasana gembira.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;O INE MORE ATE&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;O Ine More Ate, yang artinya O Mama yang Baik. Lagu ratap yang menggambarkan kesedihan seorang anak piatu yang ditinggalkan ibunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;6)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Daerah Flores Timur&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;FAIK LALI&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Faik Lali, yang berarti Aku Juga. Lagu ini menggambaarkan percakapan diantara orang-orang desa yang berkumpul menunggu giliran menimba air. Sifatnya ialah mengandung permintaan dalam memperoleh giliran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;OLE LOLO&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ole Lolo, yang berarti Melarat Tengah Berlayar. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh orang-orang yang sedang berlayar dengan perahuperahu layar. Sifatnya mengeluh nasib melarat (keluhan).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;REMA PIA&lt;/p&gt;  &lt;p class="tekssub" style="margin-left: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Rema Pia, yang artinya Tengah Malam di Rantau. Lagu ini menggambarkan kesepian seorang perantau jauh dari sanak saudara dan merupakan lagu nasihat bagi orang-orang yang ingin merantau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;BALE NAGI&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bale Nagi, yang artinya Pulang ke Nagi (kampung halaman). Lagu ini menyatakan kegembiraan seorang pelaut yang pulang ke kampung halaman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;OA ELE LE&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Oa Ele le, yang Buat senag Hati. Suatu lagu jenaka yang dipakai oleh pemuda-pemudi untuk menggambarkan hati, tanpa tujuan buruk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;PATEN INA-AMA&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Peten Ina-Ima, yang artinya Terkenang Ibu Ayah. Suatu lagu kenangan akan orang tua oleh anak-anak. Suatu lagu yang sifatnya nasihat di antara anak-anak.&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;7)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Lagu Hymne NTT&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;FLOBAMORA &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Flobamora (Flores Sumba &lt;st1:place st="on"&gt;Timor&lt;/st1:place&gt;). Suatu lagu pujaan terhadap NTT (Nusa Tenggara Timur) yang diciptakan oleh F. E Lango. Lagu ini biasanya dinyanyikan pada pesta-pesta resmi NTT. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Kain Tenun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Setiap suku/etnis memiliki bahasa sendiri dengan lebih dari 100 dialek, memiliki adat, budaya dan kesenian sendiri-sendiri. Hal ini yang mempengaruhi sekaligus menerangkan dan menggambarkan mengapa ada begitu banyak corak hias/ motif tenunan pada kain tradisional di Flores. Setiap suku mempunyai ragam hias tenunan yang khas yang menampilkan tokoh-tokoh mitos, binatang, tumbuh-tumbuhan dan juga pengungkapan abstraknya yang dijiwai oleh penghayatan yang mendalam akan kekuatan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Dari marga Salvi sebuah suku di &lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt; tenun ikat ini berawal, melalui jalur sutera, terus menyelusuri Asia Tenggara, hingga &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Di Nusa Tenggara Timur penyebaran tenun ikat hampir merata, hingga Nusa Tenggara Timur dapat dijuluki pula dengan sebutan Nusa Tenun Tangan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Pesona keindahan motif dan ragam hiasnya, menjadikan ia cenderamata bagi setiap orang yang datang dan berkunjung ke bumi Flobamora ini, bumi di mana wanitanya memiliki daya cipta dan kreasi seni yang sangat tinggi. Setiap daerah yang ada di NTT menampilkan corak dan ragam hias serta warna yang berbeda-beda. Perbedaan ini menjadikan tenun ikat semakin menarik untuk disimak dan dikaji. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Dalam proses penciptaannya, melalui berbagai pertimbangan di antaranya sebagai simbol status sosial, keagamaan, budaya dan ekonomi. Dapatlah dikatakan bahwa dalam membuat sehelai kain tenun ikat tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; wanita di dalam membuat sehelai kain tenun ikat selalu bekerja secara bersama, ini dilakukan untuk mempermudah proses, karena tidak semua wanita mampu membuat kain tenun ikat dari tahap awal sampai dengan selesai. Tenun ikat dalam proses pembuatannya memiliki beberapa tahap di antaranya &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penataan benang pada alat pedagang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengikatan motif dan ragam hias, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pewarnaan dan, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penenunan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Dalam pesona motif dan ragam hias, diciptakan melalui perenungan dan konsentrasi tinggi, motif dan ragam hiasnya mengandung nilai filosofis, penggunaannya diperuntukkan bagi hal-hal yang berkaitan dengan adat dan budaya, dan menjadikannya sebagai tradisi yang terwaris sampai hari ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Tenunan yang dikembangkan oleh setiap suku/ etnis di &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; merupakan seni kerajinan tangan turun-temurun yang diajarkan kepada anak cucu demi kelestarian seni tenun tersebut. Motif tenunan yang dipakai seseorang akan dikenal atau sebagai ciri khas dari suku atau pulau mana orang itu berasal, setiap orang akan senang dan bangga mengenakan tenunan asal sukunya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Kain tenun atau tekstil tradisional dari &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; secara adat dan budaya memiliki banyak fungsi seperti :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;a)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sebagai busana sehari-hari untuk melindungi dan menutupi tubuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;b)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sebagai busana yang dipakai dalam tari-tarian pada pesta/upacara adat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;c)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebagai alat penghargaan dan pemberian perkawinan (mas kawin)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;d)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebagai alat penghargaan dan pemberian dalam acara kematian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;e)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fungsi hukum adat sebagai denda adat untuk mengembalikan keseimbangan sosial yang terganggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;f)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dari segi ekonomi sebagai alat tukar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;g)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sebagai &lt;i style=""&gt;prestise&lt;/i&gt; dalam strata sosial masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;h)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sebagai mitos, lambang suku yang diagungkan karena menurut corak/desain tertentu  akan melindungi mereka dari gangguan alam, bencana, roh jahat dan lain-lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt;i)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sebagai alat penghargaan kepada tamu yang datang &lt;i style=""&gt;(natoni)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam masyarakat tradisional &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt;, tenunan sebagai harta milik keluarga yang bernilai tinggi karena kerajinan tangan ini sulit dibuat oleh karena dalam proses pembuatannya/ penuangan motif tenunan hanya berdasarkan imajinasi penenun sehingga dari segi ekonomi memiliki harga yang cukup mahal. Tenunan sangat bernilai dipandang dari nilai simbolis yang terkandung didalamnya, termasuk arti dari ragam hias yang ada karena ragam hias tertentu yang terdapat pada tenunan memiliki nilai spiritual dan mistik menurut adat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%;"&gt;Pada mulanya tenunan dibuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai busana penutup dan pelindung tubuh, kemudian berkembang untuk kebutuhan adat (pesta, upacara, tarian, perkawinan, kematian dll), hingga sekarang merupakan bahan busana resmi dan modern yang didesain sesuai perkembangan mode, juga untuk memenuhi permintaan/ kebutuhan konsumen.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam perkembangannya, kerajinan tenun merupakan salah satu sumber pendapatan (UP2K) masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; terutama masyarakat di pedesaan. Pada umumnya wanita di pedesaan menggunakan waktu luangnya untuk menenun dalam upaya meningkatkan pendapatan keluarganya dan kebutuhan busananya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 322.5pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="430"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 67.5pt;" width="90"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 47.25pt;" width="63"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1040" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-218.45pt;" allowoverlap="f"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image087.gif" title="snr_1"&gt;    &lt;w:wrap type="square"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image087.gif" shapes="_x0000_s1040" align="left" height="95" width="113" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 67.5pt;" width="90"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1041" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-303.2pt;" allowoverlap="f"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image088.gif" title="snr_2"&gt;    &lt;w:wrap type="square"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image088.gif" shapes="_x0000_s1041" align="left" height="96" width="83" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 140.25pt;" width="187"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1042" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-369.25pt;" allowoverlap="f"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image089.gif" title="snr_3"&gt;    &lt;w:wrap type="square"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image089.gif" shapes="_x0000_s1042" align="left" height="94" width="100" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="4" style="padding: 0in;"&gt;   &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt;Ibu-ibu sedang membuat kain tenun   secara tradisional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1071" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" wrapcoords="-162 0 -162 21412 21600 21412 21600 0 -162 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image090.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\souvenirngada_files\21.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image091.jpg" shapes="_x0000_s1071" align="left" height="144" hspace="12" width="228" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Di tenun dengan alat tenun yang sangat tradisonal, dililit dipinggang wanita penenun, melekat tak terpisahkan, bermakna hidup wanita kami telah diembani dengan tanggung jawab untuk terus mempertahankan warisan ini agar semua orang dapat tahu bagaimana nenek moyang kami di masa lalu telah mewariskan sesuatu yang luar biasa. Konggo, kape, fia, phoku dan sippe yang ada pada jalur benang ikat lusi merupakan perpaduan alat yang sangat serasi yang terlihat di saat wanita bertenun. Alunan sentakan di saat wanita bertenun menggoda hati yang mendengar, karena nada yang ditimbulkan bagaikan alunan melodi kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Jika dilihat dari &lt;b&gt;&lt;i&gt;proses produksi &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;atau cara mengerjakannya maka tenunan yang ada di Flores dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tenun Ikat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Disebut tenun ikat karena pembentukan motifnya melalui proses pengikatan benang. Berbeda dengan daerah lain di Indonesia, untuk menghasilkan motif pada kain maka benang pakannya yang diikat, sedangkan tenun ikat di Nusa Tenggara Timur, untuk menghasilkan motif maka benang yang diikat adalah benang Lungsi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tenun Lotis/ Sotis atau Songket &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Disebut juga tenun Sotis atau tenun Songket, dimana proses pembuatannya mirip dengan pembuatan tenun Buna yaitu mempergunakan benang-benang yang telah diwarnai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Dilihat dari &lt;b&gt;&lt;i&gt;kegunaannya,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; produk tenunan di &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; terdiri dari 3 (tiga) jenis yaitu : sarung, selimut dan selendang dengan warna dasar tenunan pada umumnya warna-warna dasar gelap, seperti warna hitam, coklat, merah hati dan biru tua. Hal ini disebabkan karena masyarakat/ pengrajin dahulu selalu memakai zat warna nabati seperti tauk, mengkudu, kunyit dan tanaman lainnya dalam proses pewarnaan benang, dan warna-warna motif dominan warna putih, kuning langsat, merah mereon.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Untuk pencelupan/ pewarnaan benang, pengrajin tenun di &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; telah menggunakan zat warna kimia yang mempunyai keunggulan sepeti : proses pengerjaannya cepat, tahan luntur, tahan sinar, dan tahan gosok, serta mempunyai warna yang banyak variasinya. Zat warna yang dipakai tersebut antara lain : naphtol, direck, belerang dan zat warna reaktif. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Namun demikian sebagian kecil pengrajin masih tetap mempergunakan zat warna nabati dalam proses pewarnaan benang sebagai konsumsi adat dan untuk ketahanan kolektif, minyak dengan zat lilin dan lain-lain untuk mendapatkan kwalitas pewarnaan dan penghematan obat zat pewarna.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.75in; line-height: 150%;"&gt;Dari kedua jenis tenunan tersebut diatas maka penyebarannya dapat dilihat sebagai berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tenun Ikat ; penyebarannya hampir merata di semua daerah kecuali Kabupaten Manggarai dan sebagian Kabupaten Ngada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tenun Lotis/ Sotis atau Songket ; terdapat di Lembata, Sikka, Ngada, dan Manggarai &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;Beberapa contoh kain tenun&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; width: 394.05pt; margin-left: 125.3pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="525"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 188.65pt;" valign="top" width="252"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: -0.25pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1032" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:190.5pt;height:74.25pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image092.gif" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/sr_ende.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image092.gif" shapes="_x0000_i1032" border="0" height="99" width="254" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 205.4pt;" valign="top" width="274"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1033" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:194.25pt;height:74.25pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image093.gif" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/sr_sikaa.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image093.gif" shapes="_x0000_i1033" border="0" height="99" width="259" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 188.65pt;" valign="top" width="252"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: -0.25pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1034" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:190.5pt;height:74.25pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image094.gif" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/sr_ngada.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image094.gif" shapes="_x0000_i1034" border="0" height="99" width="254" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 205.4pt;" valign="top" width="274"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 1.8pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1035" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:195.75pt;height:74.25pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image095.gif" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/sr_manggarai.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image095.gif" shapes="_x0000_i1035" border="0" height="99" width="261" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 188.65pt;" valign="top" width="252"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: -0.25pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1036" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:189.75pt;height:74.25pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image096.gif" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/sr_lembata.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image096.gif" shapes="_x0000_i1036" border="0" height="99" width="253" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 205.4pt;" valign="top" width="274"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 1.8pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1037" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:186.75pt;height:74.25pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image097.gif" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/sr_flotim.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image097.gif" shapes="_x0000_i1037" border="0" height="99" width="249" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 188.65pt;" valign="top" width="252"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: -0.25pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1038" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:188.25pt;height:84pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image098.png" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/sr_belu.gif"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image099.jpg" shapes="_x0000_i1038" border="0" height="112" width="251" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 205.4pt;" valign="top" width="274"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1039" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:180.75pt;height:86.25pt'"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image100.jpg" href="file:///D:\My%20Document\budaya%20nusantra\Flores\flores%20fix\bUAT%20DIPRINT\Bahan%20budnus\semangat\souvenirngada_files\corak%2520kain%2520adat%2520-bajawa.jpg"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image101.jpg" shapes="_x0000_i1039" border="0" height="115" width="241" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -6pt; text-align: center; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Inilah khasanah budaya yang terlihat dari beragam motif dan ragam hias kain tenun ikat yang dihasilkan wanita di bumi Flobamora ini. Dari motif yang super sampai yang kecil, memperlihatkan bagaimana kehebatan wanita di tanah kami dalam menciptakan sehelai kain tenun ikat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Puluhan bahkan ratusan jenis motif dan ragam hias yang dihasilkan oleh wanita di bumi Flobamora ini dapatlah dibagi ke dalam tiga jenis kain tenun ikat yaitu &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kain tenun ikat yang motif dan ragam hiasnya mempunyai nama dan arti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kain tenun ikat yang motif dan ragam hiasnya mempunyai nama dan tidak mempunya arti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kain tenun ikat yang motif dan ragam hiasnya tidak ada nama dan tidak ada arti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Warna yang ada merupakan hasil racikan dari dedaunan dan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dan ada di bumi Flobamora. Diramu dengan sangat hati-hati, doa dan mantra dibacakan agar kain tenun ikat yang dihasilkan menjadi kain yang bermutu tinggi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1065" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" wrapcoords="-189 0 -189 21533 21600 21533 21600 0 -189 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image102.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\Seni%20Tenun%20Ikat%20Ende%20Lio_files\350534517_b143e9b3af.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image103.jpg" shapes="_x0000_s1065" align="left" height="252" hspace="12" width="114" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Proses pewarnaan dijalani dalam waktu yang cukup lama agar sari warna benar-benar meresap pada urat benang. Beberapa jenis tumbuhan yang biasa digunakan sebagai bahan pewarnaan yaitu Mengkudu, Tarum, Zopha, Kemiri, ndongu, buah usuk dan lain-lain, sehingga nuansa warna kain tenun ikat NTT terdiri dari : merah, yang dihasilkan dari akar mengkudu dan hitam nila yang dihasilkan dari daun tarum. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Pembuatan seni tenun ikat Ende Lio hanya dilakukan oleh para ibu/ gadis dari pesisir pantai selatan kabupaten Ende, sedangkan bagian tengah/ utara tidak mengerjakannya karena pore jaji, bila dilanggar akan terjadi bencana alam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Dalam perjanjian yaitu masyarakat pesisir selatan mengerjakan bahan tenun ikat, ditukar dengan bahan makanan yang dihasilkan oleh masyarakat bagian tengah dan utara Kabupaten Ende. Demikian pula bahan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;baku&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; seperti kapas dan bahan pewarna dijual atau ditukar dengan bahan &lt;i&gt;sawo engge pake pela nggubhu nggai&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Proses Kapas Menjadi Benang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Proses awal biji kapas dibersihkan dengan alat Ola Ngeu, lalu dibersihkan dengan woÖ/ busur kecil. untuk menjadikan elo/ gulungan kapas yang siap dipintal/ nggoru menjadi benang dengan alat jata dan ladu. Benang yang telah dipintal digulung dengan alat meka untuk menjadi gulungan benang atau lelu meka, lalu digulung dengan ola woe menjadi benang untuk goä. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pete tege/ ikat motif&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Gulungan benang ditalang pada alat Dao Goa untuk ——- dengan jumlah gami tertentu, sesuai dengan motif yang direncanakan. Bahan tenun ikat setelah &lt;st1:place st="on"&gt;Goa&lt;/st1:place&gt; gami menjadi lembaran benang, dipindahkan pada Dao Meka untuk diikat motifnya dengan pucuk daun boro/ gebak; pucuk kelapa, tali rafia dll.Bagian-bagian tenun ikat yaitu: Vertikal: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;One/ motif utama &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1067" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" wrapcoords="-109 0 -109 21525 21600 21525 21600 0 -109 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image104.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\Seni%20Tenun%20Ikat%20Ende%20Lio_files\350534422_0c06b78e10.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image105.jpg" shapes="_x0000_s1067" align="left" height="216" hspace="12" width="132" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1066" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-104 0 -104 21515 21600 21515 21600 0 -104 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image106.jpg" href="file:///F:\Budnus\Flores\Bahan%20budnus\semangat\Seni%20Tenun%20Ikat%20Ende%20Lio_files\350534602_b9f84a54b3.jpg"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image107.jpg" shapes="_x0000_s1066" align="left" height="216" hspace="12" width="144" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Eko &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Foko &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Bue &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mettu &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengge &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Tekka &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Horisontal:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Upu &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Teo Timbu &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Lere &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;One/ singgi &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Bharaka &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Engo &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Rockwell;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Lombo &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Motif utama adalah merupakan nama dari jenis dan macamnyasarung lawo. Rawo, terdapat pada bagian tengah dan adapula terdapat pada setiap lembaran dari sarung. Motif penghias adalah motif yang mendampingi motif utama yang disebut singi atau geto / gero. Menurut jenis dan macamnya motif serta asal lokasi pembuatan tenun ikat Kabupaten Ende dapat kita bagikan menjadi 2 (dua) ethnik yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ethnik Ende: Rawo Nggaja Sanggetu – Rawo Nggaja Manu – Rawo Jara Nggaja – Rawo Jara – Rawo Pea – Rawo Soke Wunu Karara – Soke Bere Kaze – Rawo Rote – Rawo Mata – Rawo One Mesa – Rawo Rombo – Rawo Mangga/ Bhuja/ Ndala – Rawo Ngera/ gero dll &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ethnik Lio: Lawo Nepa Mite/ Te’a – Lawo Pundi – Lawo Mogha – Lawo Kelimara – Lawo mata sinde – Lawo Koko Bheto – Lawo Luka – Lawo Gami teraesa – Lawo Gelo dll. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Selain lawo/ rawo ada pula tenun ikat berbentuk selendang/ lembaran yaitu Semba – Senai – Lete – Sinde – lembaran kontemporer seperti ana deo, inepare dan bahan jadi lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 54.15pt; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -12pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Alat Musik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 16.45pt; text-align: justify; text-indent: 55.55pt; line-height: 150%;"&gt;Musik instrumen yaitu membunyikan alat-alat musik sebagai ritme / melodi dengan cara meniup, memukul, memetik, menyentak, dll. Berikut ini adalah alat-alat musik dan bunyi-bunyian yang berasal dari daerah &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt;, alat-alat musik ini memiliki ciri khas khusus dan bunyi yang sangat menarik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="judulsub" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 16.15pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Alat Musik Tiup&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; width: 396.9pt; margin-left: 23.4pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="529"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 26.5pt;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 1.35in; height: 26.5pt;" valign="top" width="130"&gt;   &lt;p class="judulsub" style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1060" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-260 0 -260 21549 21600 21549 21600 0 -260 0"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image108.jpg" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/img09.jpg"&gt;    &lt;w:wrap type="tight"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image109.jpg" shapes="_x0000_s1060" align="left" height="420" hspace="12" width="83" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;FOY DOA&lt;/p&gt;   &lt;p class="judulsub" style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0in 5.4pt; width: 299.7pt; height: 26.5pt;" valign="top" width="400"&gt;   &lt;p class="tekssub" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kabupaten   Ngada Flores yang beribukota Bajawa mempunyai banyak ragam kesenian daerah.   antara lain musik Foy Doa. Seberapa lama usia musik Foy Doa tidaklah   diketahui dengan pasti karena tidak ada peninggalan- peninggalan yang dapat   dipakai untuk mengukurnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="tekssub" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Foy   Doa berarti suling berganda yang terbuat dari buluh/bamabu keil yang   bergandeng dua atau lebih. Mungkin musik ini biasanya digunakan oleh para   muda-mudi dalam permainan rakyat di malam hari dengan membentuk   lingkaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="tekssub" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sistem   penalaan, Nada-nada yang diproduksi oleh musik Foy Doa adalah nada-nada   tunggal dan nada-nada ganda atau dua suara, hak ini tergantung selera si   pemain musik Foy Doa. Bentuk syair, umumnya syair-syair dari nyanyian musik   Foy Doa bertemakan kehidupan, sebagai contoh : Kami bhodha ngo kami bhodha   ngongo ngangi rupu-rupu, go-tuka ate wi me menge, yang artinya kami harus   rajin bekerja agar jangan kelaparan. Cara Memainkan, Hembuskan angin dari   mulut secara lembut ke lubang peniup, sementara itu jari-jari tangan kanan   dan kiri menutup lubang suara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="tekssub" style="text-indent: 28.35pt; line-height: 150%;"&gt;Perkembangan   Musik Foy Doa, Awal mulanya musik Foy Doa dimainkan seara sendiri, dan baru   sekitar 1958 musisi di daerah setempat mulai memadukan dengan alat-alat musik   lainya seperti : Sowito, Thobo, Foy Pai, Laba Dera, dan Laba Toka. Fungsi   dari alat-alat musik tersebut di atas adalah sebagai pengiring musik Foy Doa.&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 1.1in;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color windowtext windowtext; border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0in 5.4pt; width: 1.35in; height: 1.1in;" valign="top" width="130"&gt;   &lt;p class="judulsub" style="margin: 0in 0in 0.0001pt -5.4pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1061" type="#_x0000_t75" alt="" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:18.85pt;" wrapcoords="-338 0 -338 21461 21600 21461 21600 0 -338 0"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\user\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image110.jpg" href="http://www.tamanbudayantt.net/images/img10.jpg"&gt;    &lt;w:wrap type="tight"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image111.jpg" shapes="_x0000_s1061" align="left" height="155" hspace="12" width="72" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;FOY PAY&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-sty
